Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Calon mertua


__ADS_3

...***...


Jika berbicara soal cinta, cinta memang tak pernah salah. Hanya saja dua sejoli yang menjalin hubungan tersebutlah mampu mengontrol semuanya. Eza tahu, sebagai laki-laki dia memang harus bertanggung jawab dan menerima segala konsekuensi dari perbuatannya. Tak peduli jika pada akhirnya Erna akan membencinya, dia hanya mau berusaha agar tidak menjadi lelaki pengecut yang lari dari tanggung jawab.


Setelah Yasmin selesai makan, Eza lekas memulai pembicaraan seriusnya. Dia menatap lekat Yasmin. Jarak duduk keduanya tak berjarak berdampingan, hingga Yasmin mampu memperhatikan wajah Eza yang sulit ditebak, wajah muram, tetapi masih bisa mengulas senyumannya.


Yasmin terus bergelut dengan hati dan pikirannya, dia tahu kedatangan Eza kali ini memang sudah membuktikan bahwa lelaki itu akan tetap setia bersamanya, tetapi untuk bertanggung jawab dan menikahinya, Yasmin merasa hal itu tidak akan pernah terjadi. Bahkan jika kemungkinan terburuknya, Eza harus menjauh dan meninggalkannya, dia pun akan siap dan mencoba tegar. Toh dia juga pernah memikirkan hal tersebut sejak dia memutuskan untuk berterus terang tentang kehamilannya pada Eza.


“Langit, bicaralah, jangan membuatku penasaran.” Yasmin merengek pada Eza seiring dengan napasnya yang diatur senormal mungkin, menutupi rasa cemasnya karena dia harus menyiapkan mental jika Eza mendadak akan meninggalkannya.


“Sayang, beberapa hari ini aku berada di saat yang sulit. Jujur, aku benar-benar syok dan bingung harus bagaimana, sejak kamu memberitahuku soal kehamilan kamu. Awalnya aku memang nggak percaya, tapi aku tahu, kamu bukanlah wanita seperti di luaran sana, kamu wanita baik yang nggak mungkin melakukan hal itu dengan lelaki lain, apalagi aku juga tau, kamu mencintaiku. Terus terang, saat itu aku menghilang untuk berpikir, masa depanku saja bahkan belum terbaca, aku masih menginginkan target untuk hidupku, tapi sekarang aku sadar, target masa depanku adalah kamu. Entah besok atau nanti, tetap saja kamu akan menjadi milikku.”


“Jadi, kamu tidak akan meninggalkanku, kan?” tanya Yasmin yang masih mencerna kalimat Eza.


Dalam hati wanita itu, terbesit jika dirinya akan menanggung kehamilannya seorang diri. Sejak Eza menghilang beberapa hari lalu setelah dia jujur tentang kehamilannya.


“Tentu saja tidak. Jadi begini, Sayang ...." Eza mengatur duduknya agar saling berhadapan. Yasmin pun memperhatikan Eza.


“Aku sudah mengatakan semuanya pada Papa dan Mama, mereka memberikan restu pada kita.” Eza menarik napasnya perlahan.


“Benarkah? Apa ... kamu akan menikahiku?” tanya Yasmi nada bicaranya tampak ragu karena belum sepenuhnya memahami ucapan Eza.


“Ya, aku akan menikahimu, Sayang. Tapi, Mama memberikan beberapa syarat.”


Senyuman tipis terukir di wajah Yasmin, tetapi dia masih mengontrol kebahagiaannya karena ada syarat itu belum dia ketahui. “Apa syaratnya?”


“Syaratnya, aku harus bertanggung jawab atas diriku dan atasmu. Jadi, mereka akan mencabut semua fasilitas yang mereka berikan padaku. Dan ....” Eza melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


Eza menggenggam tangan Yasmin. Meski dia ragu akan kemampuannya dalam menafkahi Yasmin dan juga membiayai biaya kuliahnya sendiri, tetapi Eza tetap bersikap tegar tanpa menunjukkan kelemahannya pada Yasmin. Menikahi Yasmin dan tidak lari dari tanggung jawab saja sudah membuat dirinya lega, meski restu itu harus mengorbankan sesuatu.


“Dan apa?” tanya Yasmin yang sejak tadi menyimak.


“Dan ... ya! Aku pasti akan menikahimu. Lagi pula, syarat seperti itu tak seberapa, yang penting aku bisa hidup bersamamu. Mendapat restu dari mereka pun, aku sangat bahagia, jadi syarat seperti itu tidak berpengaruh sama sekali, Senja.”


Mendengar penjelasan Eza, Yasmin merasa sangat tersentuh. Dia paham juga posisi Eza memanglah tidak mudah, sebagai anak tunggal dan juga mahasiswa. Tidak mudah baginya untuk mengatasi masalah sebesar ingin bahkan, dia juga harus menanggung risikonya.


Wanita itu lalu memeluk Eza tanpa diminta, dia begitu bahagia dan terharu atas keberanian lelaki itu untuk mengatakan semua pada kedua orang tuanya.


“Terima kasih, Langit. Aku sangat bangga padamu. Terima kasih juga karena kamu tidak meninggalkanku di saat seperti ini.”


Eza pun membalas pelukan Yasmin dengan erat. Dia ikut merasakan kelegaan dan kebahagiaan yang dirasakan Yasmin sebagai wanita yang hamil di luar nikah.


“Hei, kenapa menangis? Apa kamu nggak bahagia, bisa menikah dengan lelaki yang kamu cintai?” goda Eza saat mengurai pelukannya dan mencium singkat kening wanita itu.


“Apa? Coba ulangi lagi yang keras, aku nggak dengar.” Eza terus menggoda Yasmin, dia seolah memberi hiburan pada kekasihnya itu.


“Aku sayang kamu, Langit!” Yasmin mendekatkan bibirnya tepat di telinga Eza dan sedikit mengeraskan suaranya.


Kini, masalah di antara mereka sudah terpecahkan dan menemukan titik terang. Yasmin tersenyum bahagia meski matanya sedikit berair saat menuruni tangga bersama Eza. Keduanya saling melempar candaan dan tertawa bahagia. Suci dan Galang yang melihatnya pun penasaran dengan sikap mereka, tetapi tak berani menanyakan sebelum dua sejoli itu memberitahu. Padahal, sebelumnya mereka tampak canggung satu sama lain.


Yasmin pun mengantar kepergian Eza hingga di halaman, kebetulan hari sudah mulai gelap, jadi pasien yang berkunjung sudah tidak ada lagi.


“Ah, aku melupakan sesuatu, Sayang!” pekik Eza saat mengenakkan helmnya. Dia kembali lagi mendekat ke tempat Yasmin berdiri.


“Ada yang ketinggalan?”

__ADS_1


“Ah tidak, bukan itu. Aku lupa nyampein sesuatu kalau besok, Mama dan Papa mau bertemu denganmu, kamu bisa, kan?”


“Hah, bertemu orang tuamu?” yasmin sedikit terkejut. Ada rasa sungkan dan juga takut menyelimuti hatinya membayangkan bertemu dengan calon mertua. “Jam berapa?”


“Sebisamu, Sayang, sore atau malam. Nanti aku akan menjemputmu, oke?”


“Hem, baiklah. Ya sudah, kamu hati-hati di jalan, ya!”


___


Sementara itu, di sisi lain Erna dan Adhitama sedang berada di ruang santai di kediaman mereka. Orang tua Eza itu membicarakan anak lelaki satu-satunya yang tengah membuat masalah besar. Meski keduanya sudah mengambil keputusan untuk menikahkan Eza dengan kekasihnya, tetapi Erna sebenarnya masih sangat keberatan.


Apalagi jika sampai orang luar tahu atau teman-teman arisannya mengetahui kabar tersebut, bisa dipastikan dia akan sangat malu jika anaknya menikah dengan seorang wanita yang lebih tua karena hamil. Apalagi, Erna dan salah satu temannya sudah berencana jika kelak akan menjodohkan Eza dengan anak gadisnya.


“Pa, Mama masih nggak habis pikir sama Eza, kenapa dia bisa tertarik sama wanita yang lebih tua. Bayangkan saja, masa calon menantuku usianya selisih 10 tahun sama aku, aduh, migrenku kumat dari kemarin mikirin masalah Eza.”


“Sudahlah, Ma. Semuanya sudah terjadi, mau bagaimanapun juga percuma disesali, tidak akan menyelesaikan masalah juga.”


“Pa, coba pikir! Bagaimana kalau nanti rekan kerja Papa tau, atau teman arisan Mama mengetahui kabar Eza sudah menikah dengan wanita yang nggak jelas asal usulnya, mau ditaruh di mana muka kita, Pa?” Erna modar mandir sambil memegangi kepalanya.


“Mau disembunyikan seperti apapun juga pasti lambat laun orang juga akan tau, Ma. Dan lagi pula, kenapa harus malu? Seharusnya Mama juga ambil positifnya, kalau ternyata anak kita sekarang sudah dewasa, mengakui salahnya dan berani bertanggung jawab.”


Sebagai kepala keluarga, Adhitama memanglah orang yang bijak dan sangat sabar menghadapi segala sesuatu, termasuk menghadapi istrinya yang selalu tidak bisa mengontrol emosinya.


“Astaga, Pa! Positif dari mana? Apanya yang positif coba, udah tau anaknya salah masih aja dibelain. Mama nggak habis pikir sama Papa, yang ada kepalaku malah semakin pecah dengerin Papa ngomong!”


Erna pun lalu gegas meninggalkan suaminya dan menaiki tangga. Adhitama yang sudah biasa melihat Erna marah-marah, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali fokus pada koran yang sejak tadi dipegangnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2