Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Harapan Santi


__ADS_3

***


Setelah ketegangan di depan pintu kamar selesai, Yasmin dan Santai masuk ke kamar. Ajakan Eza disetujui Fabian tanpa banyak kata. Santi sedikit ragu untuk membiarkan kedua pria itu saling berbicara. Namun, Yasmin membiarkan, walau ada sedikit perasaan was-was jikalau Fabian mengatakan hal yang tidak diinginkan.


"Kamu yakin, Yas? Membiarkan Eza sama Fabian satu ruangan?" tanya Santi setelah mereka merebahkan diri di kasur.


Yasmin menoleh. "Iya, aku pikir nggak apa-apa juga. Ada Galang dan dan temen-temen Eza juga, kan. Lagian aku juga mau Fabian tuh mundur di hadapan Eza langsung. Mau gimana pun, Fabian dari dulu memang akan aku anggap sebagai temen. Dengan atau tanpa kehadiran Eza."


"Aku takutnya mereka berantem."


"Nggak akan. Eza udah yakin sama hubungan kami. Dari karakter mereka berdua, nggak akan terjadi apa-apa. Aku percaya, Eza bisa mengatasinya. Biar masih muda gitu, pikirannya udah dewasa."


Santi memiringkan tubuhnya. Menghadap Yasmin dan tersenyum. "Kamu banyak berubah, Yasmin. Semenjak ketemu Eza, kamu lebih terbuka dengan masa depanmu."


"Oya. Memangnya sebelumnya aku gimana?" Yasmin ikut menyamping.


"Dulu kamu terlalu pasrah dengan rumah tanggamu. Menerima apa adanya walau hatimu tak merasa nyaman. Jika bukan karena masalah perselingkuhan itu, belum tentu kamu mau membuka mata."


Mereka sudah berteman selamat bertahun-tahun. Semua yang ada dalam diri Yasmin, Santi mengetahuinya. Begitupun juga sebaliknya. Perubahan Yasmin sekarang pun dia sadari sendiri. Benar, dulu dia berpikir bahwa kehidupan pernikahan adalah hal terakhir yang harus dijalani. Wali sulit bagaimanapun, dia akan tetap bertahan. Yasmin terlalu baik, dia bisa menerima segala kekurangan dari Hilman dan keluarganya.


"Benar juga. Aku harusnya bersyukur ya. Tuhan telah memberi jalan untuk aku membuka pikiran." Yasmin mengangguk. Rasanya kini hatinya benar-benar bebas. Tak peduli dengan rasa sakit yang dia rasakan di masa lalu. Yasmin hanya memikirkan kebahagiaannya saat ini.


"Sekarang." Santi tiba-tiba bangkit. "Mari kita lakukan misi."


"Emm, misi apa?"


"Memanjakan diri, khususnya kamu yang mau jadi pengantin. Lupa ya, besok mau malam pertama, em?" Santi menaik turunkan alis menggoda Yasmin.


Yasmin tersenyum malu. Benar, dia lupa untuk memanjakan dirinya akhir-akhir ini. Akibat terlalu sibuk menyiapkan pernikahan. Sudah lama juga dia tidak melakukan perawatan terhadap tubuhnya.


"Tapi, sambil kamu cerita." Sambung Santi.

__ADS_1


"Cerita apa?"


"Soal Eza lah."


"Cerita apa lagi? Aku kan udah cerita semuanya."


"Belum semua. Kamu belum cerita gimana hebatnya Eza naklukin kamu." Lalu Santi memotong saat Yasmin ingin menyahut. "Naklukin kamu di sini," ucapnya sambil menepuk pelan kasur.


"Hah, apaan. Nggak ah, masa aku cerita yang begituan," tolak Yasmin.


"Yahh, aku penasaran. Eza Perkasa nggak? Dia pasti kuat, soalnya udah bikin kamu klepek-klepek."


"Apaan sih! Makanya nikah, biar nggak penasaran sama aset orang. Eza itu aset aku, nggak boleh kasih cerita siapa pun. Lagian kamu bisa nilai sendiri dari bentuk tubuh Eza." Yasmin terkekeh geli ketika Santi merubah raut wajahnya. "Fabian tuh, masih kosong. Mau berapa lama kamu menjanda, jangan main solo terus!" Yasmin akhirnya tertawa terbahak-bahak.


"Sialan, kamu, Yas …." Santi memukul bahu Yasmin kesal.


Yasmin makin tertawa melihat respon sahabatnya itu. Dia juga menirukan suara Santi saat mendesah, membuat Santi ikut tertawa bersamanya.


Sudah lama mereka tidak saling menggoda seperti ini. Tepatnya saat rumah tangga Yasmin mulai bermasalah. Santi pun akhirnya tersenyum bahagia. Dia sangat lega melihat raut wajah Yasmin. Lega sekarang, Yasmin sudah baik-baik saja. Sepertinya bertemu kembali dengan Eza adalah hal yang sangat baik untuk Yasmin.


***


Sementara di kamar lain. Tepat Eza dan teman-temannya berkumpul. Mereka tampak sedang bersenang-senang. Menikmati fasilitas suite room hotel itu. Dua orang teman Eza—Aldo dan Rizal sedang bermain game, Eza menjadi penonton. Sedangkan Galang mengajak ngobrol Fabian yang merasa tidak seharusnya berada di sana. Eza membiarkan sementara, walau ada hal yang ingin dibicarakan dari tadi dengan Fabian.


Jujur saja, hatinya merasa tidak nyaman setiap kali Fabian menatap Yasmin. Sangat terlihat ada tatapan cinta di mata pria itu. Di saat seperti inilah dia merasa takut. Fabian akan mempengaruhi Yasmin, dan berpaling darinya. Sampai sekarang, Eza masih merasa posisinya lemah. Bukan karena dia tidak percaya akan cinta Yasmin, tapi dia lemah pada sisi kemapanan.


"Wuuiihh, bro. Kamar mandinya keren banget, seger banget gue habis berendam," ucap Dion yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. "Do, Lo harus cobain, rugi banget Lo kalau nggak coba!" seru Dion kemudian pada Aldo yang fokus pada permainan.


Rizal dan Aldo tampak fokus ke layar lebar di depan mereka. Eza yang sedang ngemil kacang, menoleh pada Dion yang tidak digubris dua teman lainnya.


Dion berdecak. "Aldo!" teriaknya sambil melempar handuk di tangan.

__ADS_1


Aldo tersentak dan berdecak. Gangguan Dion membuatnya kalah dari Rizal. "Ahh,sialan lo, Dion!" Dia melempar balik handuk itu pada Dion. "Gue jadi kalah, kan!"


Sementara Rizal bersorak kegirangan. "Yuhhuu, gue menang! Thanks bro!" Serunya pada Dion.


Dion mengedikkan bahu, memungut handuk yang jatuh. Dia sendiri tak bermaksud membantu Rizal. "Makanya, gue ajak ngomong, nyahut!" ucapnya kemudian. Dia akhirnya terkekeh melihat wajah Aldo sudah sangat kesal. Rizal dan Eza ikut terkekeh melihatnya.


"Lo tau gue lagi fokus nge-game. Lo ajak ngobrol, ya gue nggak respon. Lagian Lo norak amat, sih. Baru berendam di hotel doang." Aldo masih tak terima.


"Emang Lo udah pernah?" tanya Dion.


"Belum," jawab Aldo spontan. "Kan kita baru ini nginep di kamar mewah, bro. Waktu di Bali Kuta tidur dempetan doang."


"Iya, Lo berapa kali nendang gue dari kasus." Dion kemudian mengingatkan Aldo saat mereka tidur bersama. Sekarang wajahnya yang berubah masam.


Mereka semua akhirnya tertawa terbahak-bahak. Termasuk Galang yang melihat keseruan keempat pemuda itu. Fabian sendiri hanya menarik sudut bibirnya. Dia sendiri lupa, kapan terakhir kali berkumpul dengan teman-temannya. Kesibukannya telah membuatnya lupa untuk berkumpul seperti ini.


"Bro, gimana kalau main truth and dare?" tanya Galang setelah tawa mereka mereda.


Semua mata pun melihat ke arahnya. Terlihat memikirkan ajakan Galang.


"Boleh tuh, kayaknya seru," ucap Rizal.


"Boleh deh, gue ikut," sahut Aldo. "Lo ikut, Za, Yon?" tanyanya pada Eza san Dion.


"Oke," jawab Eza dan Dion serentak.


"Mas Fabian ikutan juga?" Gilang bertanya pada pria yang duduk di hadapannya.


Fabian masih canggung berbaur. Mungkin karena usianya jauh dibawah pemuda-pemuda di sana.


"Ayo, Mas. Cuma permainan kok," ajak Galang lagi.

__ADS_1


Fabian akhirnya mengangguk, setelah melihat Eza memandang ke arahnya, menantikan jawaban.


***


__ADS_2