
...***...
Beberapa bulan kemudian. Putusan akhir pengadilan akan dibacakan hari ini. Yasmin serta pengacaranya telah bersiap untuk mendengarkan putusan. Pada saat pelaksanaan sidang ikrar talak ini, Hilman sama sekali tidak datang, hanya mengirim pengacara untuk membacakan ikhtiar talak. Tapi pengadilan masih dapat mengeluarkan Akta Cerai.
Sesuai dengan putusan pengadilan. Pembagian harta gono-gini telah disepakati. Setuju atau tidak Hilman harus menerimanya. Semua sudah dibagi seadil-adilnya. Termasuk dengan hak Yasmin memiliki rumah. Rumah itu adalah peninggalan Ayahnya, Hilman tidak berhak membagi walau dia meminta sebelumnya.
Yasmin keluar dari ruang persidangan dengan senyuman lega. Walau dalam lubuk hatinya yang dalam, masih ada rasa kecewa dengan perceraian ini.
"Terima kasih, Pak Torman," ucap Yasmin seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Pengacara Yasmin yang bernama Torman Pariss itu, menyambut uluran tangan Yasmin. "Sama-sama, Bu Yasmin. Saya juga berterima kasih sudah mau menggunakan jasa kami."
"Iya, Pak. Untuk urusan selanjutnya saya serahkan kepada Pak Torman. Termasuk dengan urusan rumah, sesuai permintaan saya."
"Saya mengerti, Bu Yasmin. Anda tunggu kabar baik dari saya."
"Baiklah, Pak. Terima kasih banyak."
Selanjutnya Yasmin hanya perlu menunggu. Seminggu dari sekarang, Hilman dengan resmi akan meninggalkan rumah peninggalan ayahnya. Hilman hanya berhak memiliki sebuah rumah yang kini ditempati Yati dan Astrid, serta sebidang tanah yang lumayan luas. Sesuai dengan pembagian harta pasca pernikahan.
__ADS_1
Sedangkan untuk urusan perusahaan. Hilman hanya sebagai pegawai di sana. Tidak ada hak kepemilikan sedikitpun, kecuali saham yang diberikan ayahnya Yasmin, sebanyak 5%. Yasmin hanya memberi surat kuasa selama ini, untuk menggantikan posisi ayahnya. Beberapa hari yang lalu Hilman mencoba untuk memanipulasi data, mencoba mengubah akta kepemilikan Yasmin atas perusahaan kepada dirinya. Untung saja Pak Gito dapat mencegah, dan hari ini, bertepatan dengan putusan sidang perceraiannya, rapat anggota direksi diadakan.
Hari ini, Yasmin telah mendapat kemenangan sebanyak tiga kali. Gugatan cerainya diterima, Hilman dipecat dari perusahaan, dan akan segera meninggalkan rumah ayahnya. Hilman dipecat, dengan alasan mencoba mencuri hak Yasmin di perusahaan. Semua berkat Pak Gito, Yasmin sangat berterima kasih dengan beliau.
___
Sepuluh hari setelah akta cerai ditandatangani. Melalui pengacaranya, Yasmin menuntut agar Hilman segera pindah dari rumahnya. Ini sudah lewat dari batas waktu yang diberikan.
"Benar perkiraan Bu Yasmin. Mantan suami ibu enggan untuk meninggalkan rumah. Dia masih menunggu Bu Yasmin untuk datang menemuinya," jelas Pak Torman.
Mereka sedang duduk membahas masalah ini di kantor advokat milik Pak Torman. Beliau adalah pengacara hebat, yang handal dalam menangani kasus perceraian. Gelar beliau adalah, Dr. Torman Pariss, S.H., LL.M., M.Hum.
"Saya mengerti, Bu. Pihak pengadilan sudah turun tangan dalam hal ini." Pak Torman menjeda kata-katanya. "Untuk barang-barang yang ada di dalam rumah, saya juga sudah membaginya. Antara barang yang dimiliki setelah pernikahan dan yang belum."
"Iya, Pak. Sebenarnya saya tidak begitu peduli dengan barang-barang di rumah itu. Hanya saja ada beberapa peninggalan orang tua saya yang perlu dijaga, daftar waktu itu saya kasih sangat penting, Pak."
"Baik, saya akan perhatikan barang yang ada di daftar."
Sejak keluar dari rumahnya, Yasmin belum pernah sekalipun menginjakkan kaki lagi masuk ke dalam rumah. Untuk itu Yasmin perlu bantuan penuh dari pengacara untuk melakukan apa yang ia mau.
__ADS_1
Benar saja, di dalam rumah yang kini menjadi perbincangan Yasmin dan Pak Torman. Telah terjadi keributan setelah pihak pengadilan datang memberi peringatan untuk Hilman. Hari ini juga Hilman dipaksa pindah, dan bawahan Pak Torman sedang mengawasi hal itu.
"Mas, kita bisa ambil ini nggak?" Astrid tiba-tiba datang mengganggu Hilman yang sedang berkemas. Di tangannya ada beberapa tas bermerek milik Yasmin. Tapi pria itu mengabaikan.
"Mas! Aku lagi nanya! Kita bisa ambil ini nggak?"
Hilman terlihat naik pitam, matanya memerah. "Diam kamu! Nggak liat aku lagi sibuk!"
"Kenapa harus marah sih, Mas!"
"Tanya saja sama orang-orang di luar!"
...***...
...Like dan komen karya ini jika kalian suka....
...Jangan lupa favorit dan baca bab-bab selanjutnya....
...❤️❤️❤️...
__ADS_1
...Terima kasih ☺️...