
...***...
“Kamu ulang tahun? Yang keberapa, Langit?”
“Coba tebak?”
“Ah sudahlah, lupakan saja. kalau kamu nggak mau ngasih tau.” Yasmin cemberut dan sedikit memonyongkan bibirnya.
“Ayolah, Senja ... buat aku bahagia hari ini, please.”
“Oke, Langit. Apapun yang kamu mau, akan aku turuti, jika aku bisa.” Yasmin mendekat. “Sini!” Dia berkedip memberi isyarat.
“Apa?” tanyanya bingung.
“Kamu nggak mau selamat dariku?”
“Tentu saja aku mau.”
Yasmin menangkupkan media tangannya ke pipi Eza. Tatapan mereka saling bertemu. Pria itu terkesima, wajah Yasmin yang tanpa make up, membuatnya tak berkedip. Tak tampak garis-garis usia di wajah tanpa polesan itu. Sangat cantik, pikirnya.
“Happy birthday, Langit. Wish you all the best.” Yasmin mengecup bibir pria itu dan tersenyum.
Eza terpaku sesaat. "Hanya itu?"
__ADS_1
"Iya, kurang apa lagi? Aku sudah mengucapkan selamat padamu."
"Seharusnya seperti ini." Tanpa aba-aba, Eza menghujani kecupan manis di wajah wanita itu. Setiap sudut tak ada yang terlewat, Yasmin terdiam melebarkan matanya. "Bagaimana?"
Yasmin terdiam sejenak. Ada getaran aneh mengalir deras di tubuhnya. Tindakan Eza yang tiba-tiba membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda. Jantungnya pun berdetak lebih cepat.
“Terima kasih, Senjaku ... kamu akan terus menjadi cahaya senja yang menerangi hatiku sampai kapan pun.”
“Maksud kamu?”
Ucapan Eza membuatnya tersadar. Dia pun bingung.
Pria itu hanya tersenyum. "Tunggu sebentar, aku punya sesuatu untukmu." Eza mengambil sesuatu dari bawah troli yang tertutup kain.
Rangkaian bunga lily berwarna pink, bercampur dengan mawar merah membuat Yasmin kagum. Namun, mengingat perkataan Eza tadi, Yasmin jadi berpikir. Apakah Eza serius dengan ucapannya? Yasmin sudah meyakinkan dirinya, tidak akan terlibat lagi dengan yang namanya cinta. Lagipula Yasmin pasti akan menolak, sebab perbedaan umur mereka.
“Apa ini semua, Langit? Katakanlah! Jangan membuatku bingung!” seru Yasmin, wajahnya sudah mulai tak bersemangat, dia hanya takut apa yang dia pikirkan akan terjadi.
“Senja, aku sangat menyukaimu. Apa kita meneruskan hubungan ini? Apa aku bisa memilikimu dan menjadikanmu sebagai kekasihku?” Eza memberikan buket itu pada Yasmin.
Deggg ….
Tidak, ini tidak boleh terjadi, bodoh … seharusnya aku tidak membiarkan pria ini dekat denganku. Dan aku juga seharusnya tidak ….
__ADS_1
Wajah yang tadi ceria, kini berubah menjadi sinis. Yasmin tidak menerima bunga pemberian Eza. Pandangannya terpusat pada kartu ucapan yang bertuliskan ‘I love you so much’.
Tidak mungkin ….
“Langit! Apa maksud semua ini?”
"Mustahil jika kamu tidak paham. Aku sedang menyatakan perasaanku, aku jatuh cinta padamu, Senja. Aku ingin mengenalmu, bukan sebagai Senja, tapi kamu yang sebenarnya. Aku cinta …."
"Cukup!" Yasmin berdiri dan membentak Eza.
Pria itu menengadah ke atas menatap Yasmin, dia cukup terkejut melihat reaksi wanita itu. Sedetik kemudian, dia pun bangkit, mereka berhadapan. Eza meletakkan bunga di meja, dan memeluk wanita itu.
"Aku, sangat mencintai kamu, Senja. Aku tidak bisa melepaskanmu!" Pelukan Eza semakin erat, dia membenamkan wajah Yasmin ke dalam dadanya.
"Lepasin!" Yasmin mendorong dengan kuat. "Langit, sebaiknya tarik ucapanmu itu!
"Kenapa? Apa yang salah?" Eza masih tetap keras kepala.
Ya, Tuhan … pria ini, dia sangat keras kepala. Terpaksa harus dengan cara kasar.
Yasmin memejamkan matanya, berpikir sejenak. "Aku tidak akan pernah mau menjalin hubungan dengan orang asing. Paham?!"
"Senja. Aku menyesal, seharusnya aku tidak membuat pernyataan seperti itu sejak awal. Kenyataannya, aku tidak bisa. Aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi. Beri aku kesempatan, please." Wajah Eza benar-benar memelas.
__ADS_1
"Langit! Jangan paksa aku untuk menerima sebuah rasa yang mustahil! Kamu itu hanya sesaat. Bukankah kamu sendiri yang bilang, kalau kamu tidak mau terikat, lalu kenapa sekarang berani sekali menyatakan perasaan harammu itu?!"
...***...