Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Terpojok


__ADS_3

...***...


“Akh!” rintih Yasmin, dia begitu terkejut atas perlakuan kasar Hilman yang baru saja diterimanya. “Kamu apa-apaan si, Mas, kasar banget!”


Yasmin menajamkan tatapan matanya dan langsung berdiri lagi, sejajar dengan Hilman yang ada di depannya.


“Dari mana saja kamu, hah? Kenapa tidak jawab pertanyaanku, apa jangan-jangan kamu habis bersenang-senang dengan lelaki lain?” tanya Hilman yang terus menyudutkan Yasmin.


Hilman sama sekali tidak punya rasa bersalah karena telah berselingkuh, bahkan lelaki itu sedikit pun tidak memikirkan perasaan Yasmin sama sekali. Padahal, wanita itu sudah cukup tertekan dengan kepiluan yang baru saja dialaminya sejak semalam akibat ulah suaminya itu.


Yasmin sedikit tersenyum, berusaha menyembunyikan kesedihan dan sakit hatinya. Dia lalu berkata, “Mas, bukankah kamu yang bersenang-senang dengan wanita lain, kenapa malah membalikkan fakta dan menuduhku? Belum puas kamu menyakitiku?”


Yasmin sedikit mendorong dada Hilman ke belakang hingga lelaki itu semakin memicingkan matanya. Dia mencoba tegar menghadapi Hilman, lelaki itu masih terus menghunuskan tatapan tajam seperti mangsa yang hendak menerkam.


“Yasmin, aku sedang bertanya, apa susahnya jawab, hah!”

__ADS_1


“Mau aku sama lelaki lain atau apa pun itu, memangnya kenapa? Bukankah Mas Hilman sudah tidak membutuhkanku lagi? Buat apa memaksaku untuk menjawab pertanyaan yang seharusnya tidak perlu jawaban, Mas!”


Intonasi perkataan Yasmin mulai menaik, ia sudah sangat kesal kepada Hilman yang tak memikirkan perasaanya. Sehingga membuat kedua wanita yang duduk manis mendengar pertengkaran mereka, bereaksi.


“Yasmin! Berani sekali kamu melawan suamimu, istri macam apa kamu!” bentak sang ibu mertua, suaranya terdengar sangat lantang menggema di seluruh ruangan.


Keberadaan ibu mertua dan adik Hilman di rumahnya saat ini, membuat suasana menjadi semakin panas. Dia tidak menyangka nasibnya akan seperti ini, padahal ibu mertuanya bisa dikatakan wanita yang baik sebelum kobaran api menyala dalam rumah tangga mereka.


Yati– ibu mertua Yasmin yang telah lama ditinggal mati suaminya.


Wanita itu berusaha kuat untuk melawan setiap perkataan yang terlontar dari mulut sang mertua. Dia yang menjadi korban dalam rumah tangganya, tetapi dia juga yang harus merasakan hinaan pahit. Bukan kemauannya untuk tidak memiliki keturunan, semua takdir memang sudah digariskan. Namun, sang mertua tidak memahami hal itu. Wanita paruh baya itu terus menyalahkan Yasmin seolah-olah dia wanita yang tak layak mendapat kebahagiaan meski tidak dapat mengandung.


“Dasar istri tak tahu diri! Kamu itu cuma wanita mandul. Siapa lelaki yang mau sama kamu, hah? Beruntung Hilman bisa menerima kamu. Ini balasan kamu?”


“Balasan? Memangnya, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus bersujud dan berterima kasih pada anak lelaki Ibu ini? Maaf, aku rasa tidak perlu, aku bukan pengemis yang mengharap belas kasihan kalian." Lalu Yasmin beralih pandang pada Hilman. "Secepatnya, aku akan mengurus surat cerai. Tanpa kamu Mas, aku bisa hidup! Paham!”

__ADS_1


Kata demi kata Yasmin lontarkan kepada Yati dan Hilman, berharap dia mendapat pembelaan. Namun, sial dirinya malah menjadi sasaran dan juga tekanan dari mereka.


Yasmin melihat satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya. Melihat tatapan mereka yang sangat tidak bersahabat. Tak ada satupun yang berpihak padanya di sini. Yasmin ingin terus membantah, walau pada akhirnya ia akan tetap terpojok.


Dia tak ingin menjadi lemah. Yasmin berniat menjawab semua perkataan Yati yang sangat menyakitkan. Namun, saat dia hendak melanjutkan, dia mendapat serangan tambahan dari adik Hilman.


"Mba Yasmin!"


...***...


...Like dan Komen karya ini jika kalian suka...


...Jangan lupa favorit dan baca bab-bab selanjutnya...


...❤️❤️❤️...

__ADS_1


...Terima kasih ☺️...


__ADS_2