Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Sudah pergi


__ADS_3

...***...


Satu jam setelah Eza keluar dari kamar Yasmin, dia merenung di dalam kamarnya. Hatinya begitu pilu melihat Yasmin yang tadi bersikap kasar padanya, bahkan sampai diusir. Padahal, Eza merasa tak melakukan kesalahan apa pun. Hanya perihal umur yang menjadi masalah besar untuk Yasmin. Pikirannya kalut memikirkan sebab musabab dari kejadian barusan.


Eza memutuskan untuk ke kamar Yasmin lagi. Dia berniat meminta maaf atas kesalahan dan ucapan yang mungkin sudah menyakiti hatinya. Setidaknya jika mereka berpisah, tidak akan ada sesuatu yang mengganjal mengusik hati satu sama lain.


Eza berdiri di ambang pintu kamar Yasmin. Dia lalu mengetuknya dan memanggil nama Yasmin yang dia tau adalah 'Senja' beberapa kali. Nihil, tak ada sahutan dari dalam. Semburat kekhawatiran tergambar jelas di wajah Eza. Takut terjadi apa-apa pada Yasmin di dalam sana. Eza lalu berlari ke ujung koridor, mencari bantuan pada seorang room boy yang bertugas di lantai tersebut untuk membukakan kamar Yasmin.


“Selamat siang, Pak. Maaf, boleh saya minta tolong?” tanya Eza dengan wajah paniknya.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”


“Teman saya sepertinya sedang tidak baik-baik saja di kamarnya, sejak tadi saya mengetuk dan memanggilnya, tapi sama sekali tak ada jawaban, bolehkan Anda membukakannya untuk saya?”

__ADS_1


“Baiklah, mari! Kamar nomor berapa?”


“301,” jawab Eza. Napasnya tampak tersengal-sengal karena tergesa-gesa.


Room boy pun kemudian mengikuti Eza menuju kamar 301 dan membukakan pintunya. Staf itu menunggunya di depan pintu, siapa tahu Eza akan membutuhkan bantuannya jika terjadi apa-apa pada seseorang di dalam sana.


“Senja!” panggil Eza saat kakinya mulai melangkah masuk.


“Senja!” panggilnya lagi seraya melihat sekeliling kamar.


“Silakan bekerja kembali, Pak. Ternyata teman saya sudah chek out,” tutur Eza pada staf yang tengah menunggunya di ambang pintu.


“Oh, mohon maaf, Tuan. Saya belum mendapatkan informasi terbaru dari resepsionis kalau tamunya check out sekarang, padahal di sini tertulis malam, ada tambahan beberapa jam untuk extend.”

__ADS_1


“Ah iya, tidak apa-apa. Terima kasih atas bantuannya,” ucap Eza, staf tersebut pun langsung pergi melanjutkan pekerjaannya.


Eza tak menyangka Yasmin sudah pergi meninggalkannya secepat ini. Pupus sudah harapan Eza untuk bertemu Yasmin terakhir kalinya. Eza terduduk lemas di sofa, wajahnya dia usap kasar dengan kedua tangannya, sesekali menjambak rambutnya. Rasa sesal dan sakit bergejolak dalam hatinya saat ini, menjalar ke seluruh tubuh, membuatnya lunglai.


“Senja, kenapa setega ini?” rengek Eza dalam hatinya. Sesak di dada terulang lagi saat menyadari betapa Yasmin sangat berarti baginya. Harapannya untuk memiliki Yasmin kini mustahil. Menyusul ke bandara pun tiada guna, bahkan Eza pun tidak tahu siapa nama Yasmin, apalagi tempat tinggalnya. Hanya sia-sia jika dia harus mencari informasi penerbangan ke bandara.


Lamunannya terhenti saat matanya tertuju pada kertas yang berada di meja. Eza pun berdiri untuk meraihnya. Satu lembar kertas tertulis dengan rapi tulisan tangan Yasmin.


“Teruntuk, Langit. Kamar 308. Terima kasih untuk tujuh hari bersama, terima kasih untuk semua perhatiannya selama ini, terima kasih juga untuk sesuatu yang spesial yang pernah kamu berikan. Maaf jika aku menyakitimu. Ini ada sedikit uang sebagai ganti karena waktumu tersita karenaku. Selamat tinggal.”


Tangannya jatuh terkulai, dengan kertas yang masih tergenggam erat di jari-jarinya. Sebagian nyawanya serasa hilang.


*Senja!"

__ADS_1


...***...


__ADS_2