Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Aku akan menemukanmu


__ADS_3

...***...


Sesalah apapun sebuah pertemuan yang tak diharapkan. Yang namanya takdir akan tetap berjalan di tempat yang tepat. Eza tak merencanakan, Yasmin pun begitu. Namun, hati manusia siapa yang tau. Cinta tetaplah cinta. Menyesal tak ada gunanya.


“Senja, kalau saja waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan mengatakan perjanjian konyol itu. Kau tahu, sekarang hatiku sangat sakit kehilanganmu. Aku memang bodoh!” Eza memaki dirinya sendiri dengan kesal.


Eza pun mengambil satu kertas lagi di meja. Seketika matanya memanas, saat melihat barisan angka yang berjejer rapi di atas kertas, membentuk bilangan dua puluh juta.


“Cek? Apa ini maksudnya, Senja?” Hatinya berkecamuk, sedikit ada rasa kecewa atas pemberian cek tersebut. Secara tidak langsung, Yasmin menganggap Eza seorang tour guide dengan membayar jasa jalan-jalannya.


“Penghinaan macam apa ini!” Eza meringis kecut dan menyobek cek tersebut, lalu menghamburkannya ke udara.

__ADS_1


Lelaki mana yang tidak merasa terhina dan direndahkan saat dirinya dibayar oleh seorang wanita. Seperti halnya dia menjual diri. Dia tak pernah menginginkan hal ini sama sekali.


Eza semakin frustrasi, tubuhnya kembali dijatuhkan ke sofa. Pandangannya kosong menatap sudut ruang yang sudah tidak ada satupun barang Yasmin yang tertinggal.


“Bunga itu? Apa Senja membawanya?” Eza terkesiap mengingat bouqet bunga pemberiannya beberapa saat lalu. Dia lalu berdiri dan berlari menuju toilet, memeriksa apakah bunga tersebut di simpan di kamar mandi, atau bahkan dia sudah menghancurkannya dan membuangnya ke sampah.


“Kau membawanya, Senja. Kau membawa bunga pemberianku.” Seuntai senyum tipis dan air mata haru terlukis di wajah Eza.


“Aku begitu yakin, kamu juga memiliki rasa yang sama sepertiku. Cinta itu akan kembali bersatu, entah kapan saat itu tiba. Terima kasih sudah mengenalkanku pada cinta yang sesungguhnya,” gumam Eza yang tengah terduduk lemas di lantai depan kamar mandi.


“Aku kesepian, Senja. Aku merasakannya secara mendalam dan mungkin akan permanen. Karena keadaan seperti ini mungkin tidak akan pernah hilang sampai aku menemukanmu. Tapi, aku menyambut baik kesepian saat ini dengan mengenangmu. Terima kasih, aku bahagia mengenalmu.”

__ADS_1


Eza mengusap matanya yang sedikit basah, menghapus jejak di dalam ingatannya yang penuh dengan Yasmin. Perlahan, kakinya melangkah keluar dan menutup pintu tersebut. Dia menarik napas panjang, berusaha menetralkan segala pikiran tentang Yasmin, berusaha membuangnya jauh-jauh agar dirinya tidak larut dalam kesedihan.


“Hidup terus berlanjut, Eza. Apa kau hanya akan menangisinya terus? Dasar cengeng!” Batin Eza bergelut dengan pikirannya.


“Selamat tinggal, Senjaku. Aku sangat mencintaimu.”


Eza menutup pintu kamar tersebut, dia seperti lelaki yang hilang arah, entah ke mana dia harus pergi sekarang. Biasanya, dia hanya menghabiskan waktu dengan Senjanya. Untuk kali ini, mungkin dia akan berpikir menyudahi masa liburannya. Bali begitu menyakitkan saat semua sudah menjadi kenangan.


"Aku akan menemukanmu. Dimanapun dirimu berada. Bahkan jika harus ke ujung dunia sekalipun, akan aku jelajahi."


Tekadnya sudah bulat. Eza tak akan menyerah begitu saja. Setelah dia yakin jika Yasmin juga merasakan hal yang sama dengan dirinya. Cinta itu pun ada pada wanita itu. Eza tak bertepuk sebelah tangan. Dia telah salah sangka selama ini.

__ADS_1


"Senja, tunggulah … aku akan menjadikanmu milikku. Bagaimanapun bicaranya."


...***...


__ADS_2