
***
Mendengar pernyataan Yasmin tadi. Rasanya ribuan kupu-kupu berterbangan dalam perut Eza. Hatinya seakan berbunga-bunga. Rayuan Yasmin lebih memabukkan dari minuman keras. Meski dia tak pernah tau bagaimana rasanya mabuk karena minuman.
Kecemburuan Eza bisa sedikit ditekan, tapi kehadiran Fabian masih menjadi ancaman bagi dirinya. Bukan ancaman karena takut kehilangan Yasmin. Dia sangat yakin, Yasmin begitu mencintainya. Melainkan ancaman hati yang akan mengalami situasi yang sama lagi.
Beruntung, Eza mendapatkan cinta yang tulus dari Yasmin. Tidak memandang siapa dirinya, keadaannya. Dan beruntung juga Yasmin dipertemukan dengan Eza. Kehidupannya yang semula datar, hingga merasakan penghianatan. Keputusan untuk menutup diri tergantikan dengan harapan baru akan cinta sejati.
Eza menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Seraya menunggu Yasmin kembali dari kamar mandi, dia memainkan ponselnya.
"Langit." Panggil Yasmin setelah kembali masuk ke kamar.
"Em, ya, Sayang." Pandangan Eza beralih dari ponsel ke Yasmin.
Yasmin kembali duduk di dekat Eza. "Kalau kita siap-siap dari hotel aja gimana? Kan lokasi hotel lebih dekat ke KUA. Nanti biar aku bilang MUA langsung datang ke hotel."
"Nggak, aku nggak mau. Nanti kamu enak-enakan lagi sama Fabian." Tolak Eza cepat.
"Kamu masih cemburu, ya?" Yasmin tersenyum, Eza masih tidak suka dengan kehadiran Fabian.
Wajah pria itu tampak masam. "Iya, lah … siapa yang nggak cemburu liat kamu dipeluk laki-laki lain." Eza menegakkan tubuhnya sehingga lebih dekat dengan Yasmin.
Yasmin terkekeh. Wajah Eza yang memberengut sangat menggemaskan. Pria itu lucu ketika cemburu.n"Ayolah, aku masih kangen sama Santi. Mau ngobrol banyak sama dia." Rengek Yasmin.
"Yakin, cuma sama Santi? Fabian pasti ikutan."
"Nanti sama kamu juga, kan. Gimana kalau teman-temen kamu kita ajak sekalian."
__ADS_1
"Dion sama yang lain mau ajakin aku nongkrong di kos-an. Ke rencana awal lagi aja, lah, Sayang." Eza ingat tentang ajakan Dion untuk begadang malam ini. Pesta bujang katanya. Mereka mau Eza menghabiskan malam bersama sebelum resmi menjadi seorang suami.
"Ya udah, nongkrongnya pindah ke hotel. Aku sewain kamar satu lagi buat kalian. Fabian biar ngumpul sama kalian. Aku sama Santi. Gimana?" Ide itu pun terlintas.
Eza berpikir sejenak. Ide Yasmin bagus. Dengan begini Fabian tidak ada kesempatan buat ketemu Yasmin diam-diam. Setelah mempertimbangkan, Eza pun setuju. Mereka pun berangkat ke hotel setelah tiga pasien yang mendaftar selesai diperiksa.
Yasmin senang, Eza menyetujui permintaannya. Dia sudah terlalu rindu mengobrol dengan Santi. Sahabat yang selalu ada di keadaan apapun. Hanya malam ini dia bisa menghabiskan waktu dengan Santi. Setelah acara syukuran selesai, Santi akan kembali ke Jakarta. Dan mereka bisa bertemu setelah Yasmin dan Eza ke Jakarta juga. Itupun kalau ada waktu untuk bertemu.
***
Sesampainya di hotel, Eza membantu Yasmin menyimpan keperluan untuk akad nikah besok di lemari pakaian. Santi dan Fabian sudah di kamar mereka masing-masing. Sedangkan Galang, pulang ke kos-an dan akan datang sebelum jam makan malam.
Sebenarnya, ide Yasmin ini bukan hanya untuk berduaan dengan Santi. Dia juga sengaja untuk menghindar dari warga di lingkungan desa. Beberapa orang ada yang bertanya-tanya tentang mantan suaminya. Jika Yasmin berangkat dari klinik, Eza akan menjemput di paginya. Kemungkinan besar, akan banyak mata yang melihat mereka.
Yasmin dan Eza memang tidak mempermasalahkan pandangan masyarakat. Namun, tabiat yang suka ikut campur dengan urusan orang lain, itu yang membuat mereka tidak suka. Mereka memang bersalah, telah melakukan hubungan yang di luar batas sebelum menikah. Dan mereka mulai memperbaiki kesalahan itu. Yasmin dan Eza hanya menghindari hukum sosial yang pasti akan membuat mereka sakit hati. Biarlah hanya tuhan yang tau buruknya mereka. Semua akan dipertanggungjawabkan dihadapan yang kuasa.
"Ini sudah semua, kan, Sayang?" tanya Eza setelah selesai melakukan pekerjaannya. Pintu lemari kembali ditutup.
"Iya, Sayangku. Nanti aku minta Dion bawa sekalian." Mereka mengulas senyum.
"Ya udah, kamu istirahat dulu di kamar kamu, Langit. Aku juga mau istirahat dulu. Capek."
"Aku di sini aja, boleh nggak?"
"Nggak boleh. Nanti kamu apa-apain aku."
"Apa-apain gimana?" tanya Eza dengan wajah menggoda.
__ADS_1
"Kamu mesumin!" jawab Yasmin tanpa malu.
Pria itu berdecak. Yasmin tau saja isi kepalanya. Eza memberengut sehingga membuat Yasmin terpingkal. Pria memang sangat susah menahan napsu. Terlebih lagi seperti Eza yang baru mengenal nikmat dunia tersebut. Jiwanya masih menggebu-gebu ingin selalu merasakan hal itu.
Terkadang Yasmin merasa bersalah. Dia yang membuat Eza merasakan itu sebelum waktunya. Dia yang menjerumuskan Eza dalam gejolak yang tak seharusnya. Yasmin yang memperkenalkan apa itu dosa kenapa pria muda itu.
Namun, karena kesalahan itu pula dia mendapat kesempatan merasakan cinta yang sebenarnya. Cinta yang belum pernah dia rasakan dari pria manapun. Yasmin tak menyangka, hanya Eza lah yang bisa membuatnya bahagia seperti ini.
***
Dua buah meja telah disediakan untuk makan malam hari ini. Eza membawa ketiga teman dekatnya. Ditambah Fabian dan Galang. Hanya Yasmin dan Santi perempuan di antara mereka.
Keadaan pun canggung saat Eza satu meja dengan Fabian. Eza jelas merasa bukan apa-apa di hadapan Fabian. Sahabat laki-laki Yasmin itu seorang pebisnis sukses. Sedangkan Eza hanya anak kuliah biasa. Alhasil mereka tidak banyak bicara. Yang lebih banyak mengobrol adalah Santi dan Yasmin.
Sedangkan di meja yang lain, teman-teman Eza nampak menikmati hidangan. Obrolan mereka terdengar asyik dan banyak candaan. Eza seperti ingin bergabung dengan teman-temannya. Jika saja dia bisa meninggalkan Yasmin duduk satu meja dengan Fabian. Dia sudah ikut dengan keseruan itu.
Sesekali Fabian juga membuka topik pembicaraan. Tentu saja kepada Yasmin dan Santi. Dia membahas tentang masa putih abu-abu mereka dulu. Eza tampak kesal hanya bisa jadi pendengar. Pasalnya, dia belum tau banyak tentang masa sekolah Yasmin.
Setelah makan malam, mereka menuju kamar masing-masing. Sesuai rencana, ke tiga sahabat Eza akan menemaninya malam ini, di tambah Galang. Lima kamar di lantai yang sama. Empat sudah terisi, sisa satu kamar lagi untuk Pak Gito yang akan datang malam ini.
Mereka menghentikan langkah begitu sampai di kamar Santi. Sepanjang jalan tadi, tangannya tak lepas dari genggaman Eza. "Langit, aku ke kamar Santi dulu ya. Jangan begadang sampai pagi. Akad besok jam delapan."
"Iya, Sayang. Kamu juga jangan tidur malam-malam." Eza memberi kecupan singkat di kening Yasmin.
Yasmin merasa sedikit malu dengan kemesraan yang Eza tunjukan. Bagaimanapun juga dia adalah dosen dari dua orang sahabat Eza yang berada di belakang mereka.
Eza beralih pada Fabian yang berdiri bersebelahan dengan Santi. "Mas, Fabian ikut kita-kita kumpul ya?" ajak Eza. Sebenarnya dia juga ingin mengobrol banyak dengan pria yang katanya mencintai calon istrinya.
__ADS_1
Seketika suasana hening. Fabian melihat Eza dengan tatapan tak bisa diartikan. Apakah ada maksud dengan ajakan Eza tadi?
***