
...***...
Suci menyuruh lelaki itu untuk duduk sejenak. Dia lalu menemui Yasmin yang tengah fokus pada buku hasil laporan pemeriksaan kandungannya. Suci memberitahu bahwa ada seseorang yang mencarinya. Saat Suci bilang tamu dari Jakarta, Yasmin sedikit terkejut, tapi dia penasaran. Akhirnya dia menyuruh Suci untuk membawa lelaki itu ke ruangannya.
Meski Suci telah menebak lelaki itu adalah mantan suami Yasmin, tetapi wanita itu hanya diam dan tidak akan bertanya pada Yasmin. Toh tebakannya juga belum tentu benar.
Selang beberapa saat, Suci datang kembali ke ruangan Yasmin—mengantar lelaki tersebut. Betapa terkejutnya Yasmin saat mengetahui ternyata Hilman yang datang. Tanpa disuruh, Suci pun meninggalkan mereka berdua di ruangan kerja Yasmin.
“Mau apa datang kemari?” tanya Yasmin sedikit ketus.
Tanpa disuruh, Hilman duduk begitu saja di dadapan Yasmin. “Jangan galak-galak, Yasmin. Aku hanya ingin bersilaturahmi dengan mantan istri tercinta, apa itu nggak boleh?” Pria itu tersenyum palsu.
Dengan tatapan yang tajam Yasmin bersidekap dan bersandar pada kursinya. “Aku sama sekali tidak mengharap kedatanganmu, bahkan aku menganggapmu sudah tidak ada.” Yasmin menunjukan sikap arogannya.
Dia tidak membayangkan jika dirinya harus bertemu dengan mantan suami yang sudah mengecewakannya setelan berbulan-bulan lamanya tidak bertemu.
Hilman mengetahui alamat Yasmin ketika dia tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Profesor Ali dengan salah satu bawahannya. Saat tahu Yasmin tinggal di Jogja dan mengajar di UGM, dia langsung mendatangi kampus tersebut. Perjalanan yang cukup jauh tak menyurutkan niatnya untuk bertemu dengan Yasmin demi jabatan yang dia harapkan di perusahaan keluarga Yasmin. Dia mendatangi kampus UGM dan mencari tahu alamat mantan istrinya tersebut. Beruntung, dengan mudah dia mendapatkannya, pada akhirnya pertemuan yang tak pernah dibayangkan Yasmin pun terlaksana.
“Yasmin, langsung saja, sebenarnya aku ingin sekali rujuk kembali denganmu, apa tidak ada lagi kesempatan untuk aku memperbaiki kesalahanmu? Aku sungguh menyesal. Lagi pula, aku yakin saat ini kamu sangat membutuhkan sosok lelaki di sampingmu, aku akan sangat bahagia jika kamu mau kembali lagi padaku.” Dengan tidak tau malunha Hilman mengatakan hal itu.
__ADS_1
Dirinya sungguh merasa tidak senang, Yasmin tiba-tiba memukul meja. “Jangan harap, Mas! Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menjalin hubungan lagi denganmu, walau itu hanya sekedar teman. Ingat itu!” Permintaan Hilman sungguh mustahil bagi Yasmin.
“Aku begitu yakin, dalam hati kamu pasti masih ada rasa cinta padaku. Jadi, sebelum aku berucap untuk kedua kali, sebaiknya menurutlah.” Hilman berkata dengan sombongnya seolah Yasmin masih menyukainya. Padahal dalam hati wanita itu hanya rasa benci dan jijik melihat mantan suaminya itu.
“Mas, walaupun sampai seribu kali kau memaksaku. Percayalah, seujung kuku kotor sekalipun aku tidak mengharap lagi untuk kembali padamu, itu sama saja seperti aku masuk ke beraja. Paham! Jadi, sekarang pergilah, dan jangan ganggu hidupku lagi.” Darah seakan mendidih dari ubun-ubun kepalanya. Tapi Yasmin berusaha untuk tetap sabar menghadapi kebohongan Hilaman yang sudah dia hafal dengan baik.
Hilman pun merasa geram karena Yasmin mengusirnya, tetapi dia akan terus berusaha membujuk untuk sesuatu yang diinginkan. Sebenarnya, kembali dengan Yasmin hanyalah pengalihan semata. Tujuan utamanya adalah untuk kembali bekerja di perusahaan yang menjadi peninggalan orang tua Yasmin.
“Sebenarnya apa yang kau mau, kenapa tiba-tiba mencariku setelah sekian lama. Apa tujuanmu selain berakting untuk kembali padaku?” Yasmin menebak gerak gerik aneh pada Hilman. Harusnya jika dia menyesal dan benar-benar sadar akan kesalahannya, dari awal mestinya sudah mencari keberadaan Yasmin.
Tanpa basa-basi lagi, Hilman menyampaikan tujuan awalnya yang Yasmin tak tahu.
Lagi-lagi Hilman ingin menipunya. “Jangan membohongiku dengan masalah sepele seperti ini, Mas. Aku bukanlah orang bodoh yang bisa dengan mudahnya percaya.”
Hilman berusaha meyakinkan Yasmin meski dirinya hanya berkata tak jujur dan bermodalkan kebohongan, tetapi begitu percaya diri. “Aku bisa menyelamatkan perusahaan kamu, Yasmin. Karena yang melakukan kecurangan itu ... aku mengenalnya. Aku juga tau bagaimana cara menghadapinya, dia sangat licik, tidak sembarang orang bisa mengatasinya.”
Yasmin tersenyum sinis. Dia sudah bisa mencium gelagat Hilman. Rupanya, lelaki itu jauh-jauh datang ke Jogja hanya untuk mendapatkan jabatannya kembali. “Sudahlah, Mas. Pergi dari sini. Percuma, sampai kapan pun aku tidak akan percaya ucapanmu. Dan ingat satu lagi, aku tidak akan pernah mengizinkan kamu kembali ke perusahaan Ayahku."
Sepertinya usaha kali ini sia-sia. Hilman seperti salah langkah. Dia harus segera memikirkan cara lain. Untuk membuat Yasmin kembali tunduk di tangannya.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan pergi sekarang. Tapi, sebaiknya kau pikirkan baik-baik, Yasmin. Kamu pasti tidak akan rela perusahaan ayahmu akan jatuh ke tangan orang lain. Kali ini, aku benar-benar mau membantumu.” Hilman pun berpaling, matanya lantas mengitari setiap ruangan Yasmin. “Rupanya, kamu hebat sekarang, sudah mempunyai klinik sendiri,” ucap Hilman seraya mengulas senyumnya yang dibuat-buat dan terkesan menjijikkan.
"Terima kasih.” Yasmin tersenyum, tangannya mempersilahkan Hilman untuk segera keluar dari ruangan tersebut.
Merasa usahanya gagal, Hilman lantas berniat untuk pergi. Namun, kepergiannya bukanlah sebuah keputusasaan, melainkan hanya sebuah usaha awal untuk membiarkan Yasmin memikirkan tawarannya. Bagi Hilman, masih ada hari esok untuk berusaha lagi meyakinkan Yasmin. Untuk sementara waktu, dia mengalah, dia akan tinggal berapa hari di Jogja sampai Yasmin mau menerimanya lagi sebagai direktur utama di Kimia Hesa.
Tanpa sengaja, tiba-tiba pandangan Hilman mengarah pada sudut meja kerja Yasmin. Dia yang telah berdiri melihat buku berwarna pink di dekat rak dokumen. Hilman lantas mengambil buku yang tertulis nama Yasmin pada sampulnya. Yasmin yang menyadari hal itu, dia langsung tersentak kaget lalu berusaha merebut buku tersebut.
“Jangan lancang, kembalikan!” bentak Yasmin menatap tajam Hilman.
Namun, lelaki itu tidak peduli dan masih membaca lembaran kertas yang berisi hasil pemeriksaan kehamilan tersebut. Batinnya sudah bergejolak, rasa cemas sekaligus khawatir menggumpal dalam dadanya. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi jika Hilman mengetahui rahasia terbesarnya itu.
Sebuha lembaran tes kehamilan terselip disana. “Hamil? Hasil tes kehamilan, Yasmin Mahesa. Yasmin, kamu hamil?” tanya Hilman seolah menyudutkan.
“Bukan urusan kamu." Yasmin kemudian berhasil merebut buku dan lembaran kertas itu. Begitu cerobohnya saat dia lupa menyimpan itu. Karena kedatangan Hilman, fokusnya hanya pada lelaki itu.
“Tunggu, bukankah kamu mandul? Kenapa bisa hamil?” Hilman penasaran dan sedikit terkejut dengan hasil tes tersebut.
“Pergi dari sini, sebelum aku memanggil warga untuk mengusirmu.” Dada Yasmin terasa sesak, dia sedikit ketakutan dan tak tahu harus berkata apa.
__ADS_1
...***...