
...***...
Di meja tempat makanan disajikan, banyak sekali jenis makanan yang tersedia. Lisa mengambil piring lebar, lalu menyendok nasi kuning yang ada di dalam tampah besar. Tak lupa dia mengambil lauk dan sayuran sebanyak yang dia mau. Lisa benar-benar terlihat sedang kelaparan.
Adel yang mengantri di belakangnya menggeleng melihat kelakuan tanya itu. Dia pun menyendok nasi, tapi hanya secukupnya, sesuai dengan porsi yang dia perlukan. Sedangkan Nita hanya mengambil segelas minuman dingin yang disediakan di sana. Setelah mengambil makanan, ketiganya kembali ke tempat semula. Lisa terlihat begitu berusaha menarik perhatian Eza, tetapi lelaki itu masih saja cuek dan sama sekali tak menganggap kehadirannya.
"Eza, aku makan dulu ya." Lisa dengan tingkah sok akrabnya.
"Emmm." Eza hanya menjawab dengan deheman, dia masih sibuk memainkan ponsel. Pesan yang dikirim ke Yasmin belum di balas.
Ketiak Nita juga menghampiri mereka, tanpa sengaja kakinya tersandung, alhasil dia hampir saja terjatuh. Minuman yang tadi diambil masih di tangannya. Beruntung Dion bertindak cepat meraih dan memegangi kedua bahu Nita. Namun, minumannya malah jatuh, gelas itu pun pecah.
Suara pecahan itu sontak membuat semua orang yang ada di sekitar menoleh pada mereka. Eza pun terkejut dan refleks menunduk, lalu berjongkok.
"Hati-hati, Za!" seru Lisa cemas. Walau perhatiannya tak di gubris Eza sama sekali.
__ADS_1
Saat Eza mengambil sisa-sisa pecahan gelas tersebut untuk disingkirkan. "Aauuu, sssttt … sial!"
Tangan Eza malah terkena pecahan beling tersebut, mengiris telapak tangannya tanpa sengaja. Darah segar mengalir begitu saja tanpa permisi, membuat Eza langsung melepaskan serpihan gelas tersebut dari tangannya.
"Eza!" Ketiga perempuan di sana berteriak ngeri.
Lisa yang langsung sigap menggenggam tangan Eza dengan wajah sedikit takut. “Eza, kamu nggak apa-apa?”
Mendengar keributan yang ditimbulkan, Yasmin langsung menghampiri mereka dengan langkah tergesa-gesa.
“Ada apa ini?” tanya Yasmin tampak penasaran.
"Eza, ikut saya. Biar saya obati!” ajak Yasmin, Eza pun berdiri. Dia pun melipat bibirnya ke dalam, menahan senyuman yang hampir saja tidak bisa ditahan karena kecelakaan kecil ini begitu menguntungkan baginya.
“Bu, biar saya aja yang ngobatin! Ada P3K nggak?” tanya Lisa menawarkan diri untuk menolong Eza.
__ADS_1
Dion yang bisa membaca pikiran Lisa, langsung menyahut, “Lis, Bu Yasmin kan, Dokter. Serahkan saja padanya!”
Mendengar ucapan Dion, Lisa seketika diam dan melempar tatapan sinisnya. Dia tidak suka jika Eza terlalu dekat dengan Yasmin, wanita muda yang begitu cantik dan mempesona di umurnya yang sudah tidak lagi disebut gadis. Sudah dipastikan, banyak mata lelaki yang kan tertarik padanya. Dia takut Eza juga akan menyukai wanita itu. Padahal yang sebenarnya terjadi, mereka memang sudah menjalin hubungan dan hanya satu orang yang tahu—Dion.
Eza mengekori langkah Yasmin menuju ruangan praktiknya yang lengkap dengan peralatan kesehatan. Eza terus mengukir senyumnya walau Yasmin sedang tak melihat.
“Cepatlah, Eza! Kenapa jalan terlalu lama, lihat itu darahmu terus menetes!”
Bukannya menjawab, Eza malah tersenyum melihat Yasmin menegurnya karena jalan terlalu lama. Saat mereka sampai di depan ruangan, Yasmin menyuruh Eza masuk. Tak ada siapapun di ruangan tersebut. Beberapa orang berada jauh di halaman depan, sehingga pergerakan mereka tidak ada yang mengetahui.
“Kenapa bisa sampai luka berdarah seperti itu sih, apa yang terjadi? Lain kali hati-hati, Langit!” Yasmin berceloteh tanpa melihat Eza. Dia sibuk menyiapkan kotak untuk mengobati lelaki itu, tampak sedikit khawatir dengan tangan Eza yang berdarah—takut lukanya dalam. Eza duduk kursi depan meja konsultasi, sedangkan Yasmin berjongkok di depannya sambil mengeluarkan kain kassa steril yang dibasahi povidone iodine untuk membersihkan luka pada tangan Eza.
“Senja, kamu begitu cantik. Entah kata apalagi yang bisa menggambarkan hatiku sekarang,
“Langit, diamlah! Ini bukan saatnya untuk menggombal.” Yasmin melirik sebentar, lalu fokus lagi ke tangan Eza. Perlahan, darah itu dibersihkan dengan hati-hati. Bukan wajah sakit yang Eza perlihatkan. Namun, wajah bahagia dan tampak berseri karena Yasmin begitu perhatian padanya. Sentuhan tangan Yasmin begitu lembut Eza rasakan.
__ADS_1
“Senja, kalau kamu dokternya. Aku rela mau sakit apa pun, biar kamu bisa merawatku. Lihat, kena pecahan gelas aja, kamu seperhatian ini. Aku jadi berpikir, jika nanti kamu buka praktek seperti ini, kamu pasti akan banyak menyentuh banyak lelaki!” Eza menghembuskan napas kasar, mengingat sentuhan tangan Yasmin bukan dirasakannya sendiri. Melainkan dirasakan oleh umum karena sebagai dokter dia harus bersikap profesional.
...***...