
...***...
Keesokan harinya, saat Yasmin bangun. Pagi masih gelap, matahari belum memunculkan sinarnya, Yasmin kembali merasakan mual yang luar biasa. Entah kenapa akhir-akhir ini dia sering muntah dan lemas. Raganya terus mengajak untuk beristirahat, seolah tak ada semangat menjalani harinya.
Untuk pertama kalinya dia merasakan seperti ini, biasanya dia hanya akan mual jika salah makan atau memang masuk angin biasa. Namun, hal itu berlangsung sangat singkat. Hanya dalam hitungan jam setelah minum obat, pasti akan sehat kembali. Akan tetapi, kali ini sudah tiga kali pagi dia mengalami hal yang sama setiap harinya.
Saat berada di kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya, Yasmin mencuci mulutnya di wastafel. Sejenak, pikirannya melayang menatap pantulan cermin di wajahnya. Entah apa yang dia pikirkan saat ini, yang jelas dia terpaku tanpa kata. Ada semburat kecemasan tergambar jelas di wajahnya. Dia terlihat mengingat-ingat sesuatu.
Yasmin kemudian menuruni tangga, memasuki ruang prakteknya dan mengambil satu buah benda kecil pada lemari penyimpanan obat. Benda itu banyak tersedia untuk persiapan para pasien nantinya. Dia kemudian masuk ke kamar mandi dan buang air kecil. Memeriksa urinenya pada sebuah wadah kecil menggunakan tespek yang dipegangnya.
Yasmin sangat terkejut dengan hasil yang dilihatnya kali ini. Ya, tespek itu memperlihatkan dua garis merah yang menandakan dia positif hamil. Wanita itu seketika lemas, kakinya seolah tak mampu menopang tubuhnya. Pandangannya kosong menatap sudut kamar mandi. Dia tak percaya dirinya bisa hamil, apalagi selama bertahun-tahun, Hilman mengecapnya sebagai wanita mandul.
“Nggak, ini nggak mungkin. Sepertinya tespek ini salah, mungkin nggak akurat,” gumamnya. Lalu dia berusaha menyadarkan pikirannya lagi bahwa apa yang dilihatnya tidak mungkin keliru. Semua obat-obatan dan kebutuhan dibeli yang berkualitas bagus. Apalagi dia memang sudah telat, bulan ini dia tidak kedatangan menstruasi.
__ADS_1
“Hanya dengannya aku berhubungan terakhir kali, itu artinya, ini anak ... aargh! Bodoh, bodoh! Kenapa bisa seperti ini!” Yasmin merutuki kebodohannya. Dia lantas menarik napas panjang, pikirannya sedang kalut saat ini. Dia terlalu bingung memikirkan kedepannya.
Baru saja dia merasakan kebahagiaan dengan Eza. Mengungkapkan rasa satu sama lain. Namun, kini ada yang mengganjal di hati Yasmin. Cerita Eza tentang kehidupannya dengan sang mama begitu memprihatinkan. Tidak mungkin dia akan meminta tanggung jawab, apalagi dengan statusnya sekarang sebagai janda. Tentu bukanlah hal yang mudah untuk dijalani.
Akan tetapi, Yasmin berusaha berpikir jernih memikirkan jalan keluarnya. Dia memilih untuk memendam ini semua sampai tiba saatnya dia mendapatkan suatu cara tanpa harus merugikan Eza. Dia terlalu kasihan jika melihat Eza akan semakin mendapat masalah jika mengetahui kehamilannya. Pria itu masih harus menata masa depannya. Yasmin tak ingin mengorbankan Eza.
Kehamilan ini begitu mengejutkan untuk Yasmin Di sisi lain, ada rasa lega karena ternyata dia bukanlah perempuan mandul. Selama menikah dengan Hilman dia memang tidak pernah memeriksakan kondisi rahimnya karena terlalu takut dengan vonis dokter. Dia mungkin tidak siap menerima, jika ada penyakit menakutkan.
Setelah memikirkan beberapa pertimbangan, pada akhirnya Yasmin memilih untuk bungkam. Dia tetap akan menanggung semuanya seorang diri tanpa Eza tahu tentang kehamilannya saat ini. Masalah bagaimana pandangan masyarakat nantinya, dia akan menyiapkan jawabannya nanti.
Setelah duduk di pinggiran ranjang, dia mengangkat telepon itu. "Halo!"
"Selamat pagi, Senjaku! Kamu sudah bangun?"
__ADS_1
Ada perasaan senang dia rasakan setelah mendengar suara Eza. "Pagi, langit. Aku sudah Bagun dari tadi."
"Apa yang akan kamu lakukan pagi ini Sayang? Oya, jam berapa peresmiannya dimulai?"
"Aku akan bersiap-siap, lalu menyiapkan sarapan. Acara akan dimulai jam tiga sore. Pagi ini aku akan ke kampus dulu, saat jam makan siang aku pulang untuk persiapan acara."
"Aku jadi ingin memakan makananmu." Suara Eza terdengar terkekeh. "Aku akan datang setelah jam makan siang. Aku membawa Dion bersamaku, tidak masalah, kan?"
"Dia tau tentang hubungan kita?"
"Iya, dia tau, tapi jangan khawatir. Dion orang yang paling aku percaya."
"Baiklah, asal dia bisa menjaga rahasia."
__ADS_1
Panggilan itu pun dia akhiri segera. Yasmin pikir, tidak masalah jika Eza datang bersama temannya. Akan lebih baik, juga bisa menghindari tatapan mata warga yang tidak senang dengan dirinya.
...***...