Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Mitos Masangin


__ADS_3

...***...


Selang beberapa menit kemudian, Yasmin pun sudah siap dengan pakaian rapinya. Baju panjang sopan juga kerudung yang menutupi kepala membuat penampilannya semakin terlihat anggun. Tak lupa dia mengenakan jaket, agar terlindungi dengan angin malam. Setelah memastikan penampilannya terlihat bagus, Yasmin segera berjalan menuju gang tempat dia janjian. Tak menunggu lama, Eza pun tiba.


“Sudah lama menunggu?” tanya Eza seraya memberhentikan motornya. 


“Lumayan,” jawab Yasmin, dia memakai helm yang dipegang dengan ekspresi datar.


"Maaf, Senjaku karena sudah membuatmu menunggu,” Eza memasang wajah rasa bersalahnya. “Bisa naik? Pegang tanganku jika butuh bantuan.”


“Tidak perlu.” Namun, saat Yasmin akan naik, dia rasa sedikit gamang karena terlalu tinggi. Yasmin lantas menggunakan bahu Eza sebagai pegangan, padahal tangan pria itu telah siap dari tadi. Eza pun tersenyum gemas.


Keduanya kini mulai menikmati perjalanan malam hari. Lampu-lampu begitu indah menghias di tepi dan tengah jalan khas kota Jogja. 


“Mau makan di mana?” tanya Yasmin penasaran arah tujuan mereka.


“Jangan berharap makan romantis dulu, ya. Aku akan mengajakmu di tempat keramaian. Kamu pasti belum pernah ke sana. Aku jamin kamu nggak akan nyesel.” Eza mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Yasmin.


Wanita itu hanya menurut. Dia juga begitu penasaran dengan kota Jogja. Keinginannya untuk melihat-lihat kota, masih belum terlaksana, sejak kedatangannya ke kota pelajar tersebut. Dia hanya sibuk di kampus dan menghabiskan waktu menata ulang perabot rumahnya. 


Begitu banyak kendaraan lalu lalang memenuhi kota Jogja. Kota wisata yang penuh dengan tempat-tempat indah, membuat setiap orang ingin selalu mendatanginya. Kali ini, Eza mengajak Yasmin ke alun-alun kidul (Alkid), tempat yang cukup ramai dikunjungi. Lapangan yang luas di tempat tersebut selalu dipenuhi orang. 


Kini, Eza dan Yasmin telah duduk di lesehan pinggir lapangan. Mata Yasmin berbinar ketika melihat betapa ramainya tempat ini. Pandangan Yasmin terfokus pada kendaraan yang berhias lampu warna warni yang sangat terang mengelilingi alun-alun. Eza melihat Yasmin tersenyum pada kendaraan itu.


"Kamu tertarik dengan kendaraan itu?" tanya Eza membuyarkan lamunan Yasmin.


Wanita itu menoleh sesaat pada Eza, lalu kembali melihat kendaraan itu. "Itu apa? Sangat lucu …," ucap Yasmin mengulas senyum.

__ADS_1


"Odong-odong … kamu mau naik?"


"Apakah boleh? Aku mau coba," tatapan mata Yasmin berharap.


"Oke, setelah kita makan. Aku ajak kamu mengelilingi alun-alun dengan kendaraan itu." Mereka pun tersenyum.


Yasmin hanya pernah melihat kendaraan lampu itu dari berita online. Tidak menyangka akan sebagus itu jika dilihat secara langsung. 


Setelah selesai makan, Eza memenuhi permintaan Yasmin. Berkeliling alun-alun dengan kendaraan berlampu warna warni. Yasmin sangat senang, walau hanya beberapa putaran saja. Dia juga tak lupa menambah foto di galeri ponselnya.


"Kamu suka? Sudah bisa merasakan menjadi putri dalam negeri dongeng?" tanya Eza setelah mereka turun.


"Negeri dongeng?" Yasmin balik bertanya.


"Iya, anggap saja sekarang kamu sedang menaiki kereta kencana bersama seorang pangeran. Putri Yasmin dan Pangeran Eza." Tatapan mata Eza melihat wajah Yasmin.


Eza pun tergerak, muka cemberut Yasmin sangat menggemaskan. "Ada satu tempat lagi yang ingin aku tunjukan."


"Oya, di mana?"


"Ayo, ikut!" Eza menggandeng tangan Yasmin.


Sekarang Yasmin dan Eza berdiri di depan dia buah pohon beringin. Pohon itu memiliki mitos yang sangat susah di kenal oleh masyarakat kita ataupun wisatawan. Eza menceritakan tentang Mitos ini. 


Masangin adalah salah satu mitos terkenal di Alkid Yogyakarta. Dua beringin besar yang berada di tengah alkid dijadikan lokasi ritual masangin. Masangin sendiri adalah ritual berjalan melewati antara dua beringin dengan mata tertutup. Konon hanya yang berhati bersih dapat melewati beringin kembar Alkid. Mitos ini menjadi daya tarik pengunjung yang ingin membuktikan kebenarannya. 


"Kamu mau mencobanya?" 

__ADS_1


"Melewati beringin ini?" tunjuk Yasmin. 


"Iya." 


Yasmin melambaikan tangannya. "Tidak, aku tidak ada keinginan apapun."


 "Ayolah, keinginan apapun boleh." Sedikit memaksa Eza mendorong Yasmin agar lebih dekat ke tengah. Yasmin berdecak akan ulahnya. Eza kemudian mengeluarkan sapu tangan dari kantong celana belakang. "Nah, pakai ini."


"Bukannya ada yang menyewakan penutup mata?"


"Jangan pakai bekas orang," ucap Eza seraya menggulung sapu tangannya.


Yasmin tak punya pilihan selain menuruti perkataan pria itu. Sebenarnya ada sedikit rasa senang, Eza begitu perhatian padanya, seperti biasa. 


Saat ini matanya sudah tertutup rapat. Eza memutar tubuhnya tiga kali. Lalu menyuruhnya berjalan ke depan. Sebelum melangkahkan kaki, dia mengucapkan keinginannya dalam hati. Hanya apa yang terlintas di benaknya saja. Lagipula ini hanya mitos, pikirnya. Percaya atau tidak, Yasmin tak terlalu berharap banyak.


Tangan Yasmin membentang, dia mulai berjalan perlahan. Entah arahnya benar atau tidak. Rasanya dia hanya berjalan lurus. Setelah beberapa langkah, Yasmin di hentikan oleh seruan Eza.


"Senja, kamu berhasil!"


"Berhasil?" Yasmin membuka penutup matanya. Eza berada dua langkah di hadapannya. Yasmin berbalik, ternyata dia telah berada di seberang. 


"Keinginanmu akan terkabul. Apa yang kamu minta?" Pria itu penasaran. 


"Hanya mitos, Langit. Aku nggak percaya dengan hal seperti itu." Yasmin mengembalikan sapu tangan milik Eza, kemudian berlalu pergi.


...***...

__ADS_1


 


__ADS_2