Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Lukisan Yasmin


__ADS_3

...***...


Yasmin masih berdiri dan memperhatikan lukisan berjejer di depannya. Dia terpesona dengan salah satu gambar yang begitu menarik perhatiannya. Lukisan awan abu-abu bercampur kebiruan itu bergoreskan warna jingga, membentuk senja dengan sempurna, di bawahnya terdapat pantai yang begitu indah. Namun, saat dia mendekat, lukisan itu ternyata ada bayangan dua orang yang tampak mesra saling berhadapan seolah hendak berciuman.


Eza hendak mempersilakan Yasmin untuk duduk, tetapi saat melihat Yasmin tengah mengamati lukisan, Eza pun mendekatinya. Dia berdiri tepat di belakang Yasmin. Wanita itu menyentuh lukisan, merabanya seolah teringat memorinya saat di bali dengan Eza saat itu.


“Senja,” ucap Eza seraya ikut menatap lukisan tersebut.


“Ya, senja ini begitu indah.” Yasmin masih memperhatikan setiap inci lukisan tersebut, tangannya tak berhenti meraba kanvas tersebut.


“Lebih indah lagi Senjaku,” Eza tersenyum yang hanya disahuti decakan oleh Yasmin.

__ADS_1


“Siapa yang melukisnya?” tanya Yasmin.


“Siapa lagi kalau bukan Langit?” Yasmin menoleh ke samping. “serius kamu yang lukis?”


“Buat apa aku bohong, Senja. Di sana, masih banyak lukisan tentangmu, tentang kita. Eza menunjuk bagian dalam gerai tersebut, meski tak begitu besar, tetapi tempat itu cukup untuk menuangkan cinta lukisnya.


“Kalau kamu suka, nanti bawa aja.” Eza lalu menggandeng tangan Yasmin, mengajaknya masuk untuk melihat koleksinya. “Lihatlah!”


“Hei, kenapa menangis, hem?” Eza menunduk dan memiringkan kepalanya, melihat wajah Yasmin, pipinya sudah basah akan air mata.


“Kamu ... terima kasih buat semuanya. Maaf jika selama ini aku sangat menyebalkan.” Wanita itu menyeka air mata di pipi dengan jari lentiknya.

__ADS_1


Tangan Eza pun segera menggenggam kedua tangan Yasmin. Lelaki itu lantas mengusap sisa air mata itu dengan ibu jarinya.


"Nggak seharusnya kamu menangis, Senja.” Melihat ekspresi Yasmin yang begitu dalam, Eza seolah mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya. Dia begitu yakin, Yasmin juga mempunyai rasa yang sama terhadapnya. Namun, rasa itu tampak tertahan dalam relungnya.


“Mungkin, aku lelaki bodoh yang belum bisa mengerti apa itu cinta. Aku memang baru memahaminya saat aku mengenalmu. Lukisan ini, aku membuatnya saat aku begitu merindukanmu. Setiap goresan kuas, pikiranku tak pernah berhenti membayangkanmu. Percayalah, Senja, kamu wanita satu-satunya yang selama ini ada di hatiku.”


Yasmin seketika bungkam, dia terkejut dengan penuturan Eza. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat menahan sesak di dada karena begitu dalam kalimat yang Eza ucapkan. Walau sempat meragu, tetapi Yasmin cukup tahu kali ini, bahwa Eza memanglah lelaki yang tulus mencintainya.


Yasmin tertunduk, dalam kepalanya seolah kosong, tak tahu apa yang harus dikatakannya. Jari telunjuk Eza menyentuh dagu Yasmin dan menaikkannya ke atas, membuat wajah ayu Yasmin kini terlihat jelas di mata Eza. Tatapan itu begitu sejuk. Dua insan saling memendam rasa kini tampak meluapkan satu sama lain. Batin Eza bergejolak, memaksanya untuk mengucapkan kalimat yang sudah lama ingin dia katakan pada wanita pujaannya.


“Senja, jika detik ini, aku ingin menjadikanmu sebagai kekasihku, apa kamu bersedia?”

__ADS_1


...***...


__ADS_2