Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Langit Senja


__ADS_3

...***...


Mobil sudah siap di tempat penjemputan, tepatnya di depan lobi hotel. Eza lantas membukakan pintu mobil untuk Yamin dan mempersilakan wanita itu untuk masuk. Tangan satu lagi menggenggam atap mobil, melindungi kepala Yasmin dari benturan.


“’Kamu mau mengajakku kemana, Langit?” tanya Yasmin setelah berada di dalam mobil bersama Eza.


“Nanti kamu akan tau.” Eza menjawab singkat, keduanya hening selama dalam perjalan setelah Eza puas memuji Yasmin beberapa kali.


Baginya, kalimat pujian tidak akan cukup menggambarkan terpesonanya Eza saat ini pada wanita cantik di sebelahnya. Tak dapat dipungkiri, Yasmin pun juga begitu terpesona dengan penampilan Eza malam ini.


Mobil melesat dengan kecepatan sedang, keduanya sangat menikmati perjalanan malam di Kota Bali. Sangat menarik dan indah, lampu-lampu yang berada di tepi jalan menambah kesan indah pada jalanan tersebut.


Sekitar 27 menit telah berlalu, sampailah mereka di sebuah Tamarind Restaurant Bali, bisa juga disebut Tamarind (Kitchen and Lounge). Terletak tepat di tepi pantai yang begitu indah, bangunannya terbuat dari struktur dan anyaman bambu ciri khas restoran tersebut.


Eza mengajak Yasmin turun dari mobil setelah dia membukakan pintu untuk wanita pujaannya itu. “Ayo!” ajak Eza sembari mengulurkan tangannya, Yasmin pun langsung meraih tangan kekar Eza dengan senyuman yang manis.


“Langit, kamu membawaku ke sini ... ini begitu indah. Terima kasih.” Yasmin terkesiap begitu keluar dari mobil dan menangkap pemandangan indah yang ada di depannya.

__ADS_1


“Ayo, kita ke sana! Di dalam lebih indah, aku yakin kamu pasti menyukainya,” tutur Eza mengulas senyum tipisnya yang begitu manis.


Yasmin pun hanya mengangguk dan tak bisa mengatakan satu patah kata pun karena terlalu terkesima dengan kejutan Eza. Padahal Eza masih menyiapkan beberapa kejutan yang nantinya akan membuat Yasmin semakin jatuh cinta dengan sikap manis Eza.


Begitu memasuki restoran yang elegan tersebut, keduanya langsung dibuat terpukau oleh setiap detail arsitektur bambu yang menghiasi setiap sudutnya. Desain restoran tersebut penuh cita rasa dalam penataan ruang utama, lounge, dan meja makan yang begitu rapi.


Saat kedua pasang mereka tengah asyik mengitari restoran tersebut, tiba-tiba ada salah satu karyawan yang menyambutnya.


“Selamat malam, selamat datang. Ada yang bisa kami bantu? Atau sudah reservasi sebelumnya?” tanya seorang wanita dengan pakaian rapi menghampiri Eza dan Yasmin.


“Ya, saya sudah reservasi, atas nama Langit Senja,” jawab Eza melirik ke arah Yasmin.


“Silakan, kami antar ke lantai dua.”


Karyawan tersebut berjalan di depan mereka, menunjukkan meja yang sudah dipesan Eza. Pengunjung di sana hampir memenuhi kuota meja. Namun, suasana begitu damai dan tenang diiringi musik jazz, menambah kesan romantis di restoran tersebut.


“Mejanya ada di sebelah sana, Tuan.” Karyawan itu menunjukkan dengan sopan.

__ADS_1


“Baik, terima kasih,” ucap Eza.


“Silakan duduk, Nona Senja!” Lelaki itu lantas menggeser kursi untuk duduk Yasmin, memastikan wanita itu nyaman dengan posisinya.


“Kamu terlalu berlebihan, Langit. Harusnya kamu tidak perlu repot-repot seperti ini,” tutur Yasmin sedikit tidak enak setelah sejak awal Eza terus memperlakukannya seperti ratu.


“Apanya yang berlebihan, bahkan kamu minta apa pun, aku pasti akan menurutinya. Kamu spesial, Senja.” Ucapan Eza semakin membuat Yasmin luluh, tidak ada salahnya jika saat ini dia menikmati kebahagiaannya. Mungkin, ini memang sebagai ganti sakit hatinya kala itu.


Embusan angin menerpa wajah dan rambut Yasmin yang terurai panjang. Eza yang memperhatikan hal tersebut segera membantu menyisipkan anak rambut tersebut di belakang telinga Yasmin. Keduanya duduk saling berhadapan, dengan pembatas meja yang menghalangi.


“Ah, sebentar. Kamu tunggu di sini dulu, ya. Aku harus ke toilet sebentar.” Yasmin pun mengangguk menurut.


Eza lalu menemui seorang karyawan yang sudah membawa bunga tepat di dekat tangga. Bunga lily casablanca berwarna putih menyatu dengan mawar merah serta begitu harum menyeruak ke dalam indra penciuman Eza, apalagi terdapat bunga baby breath yang menambah kesan manis pada rangkaian bouqet di tangannya.


“Ini, Tuan bunga pesanannya.”


“Terima kasih, Anda tepat waktu. Saya baru saja mau turun.” Eza lantas memberikan tips pada karyawan berlalu dan berlalu pergi.

__ADS_1


Eza berjalan dengan langkah mantap, kaki jenjangnya menuntun ke arah wanita yang tengah duduk menghadap ke pantai.


...***...


__ADS_2