
...***...
Wanita itu pun kemudian mulai memakan sup merah tersebut. Tanpa disangka, Yasmin malah semakin tak menyukai yang ini. Namun, wanita itu enggan mengatakannya pada Eza, ia merasa sungkan jika terus-terusan merepotkan Eza. Akhirnya Yasmin tetap memakan sup tersebut. Reaksinya saat menyuap makanan tersebut sangat terlihat jelas di mata Eza bahwa Yasmin tak menyukainya.
“Senja, kenapa? Apa supnya tidak enak juga?”
“Enak kok,” jawab Yasmin dengan ekspresi datar. Dia seperti menelannya dengan terpaksa. Ada rasa mual yang menyangkut dalam tenggorokannya.
“Aku sudah kenyang, Langit.” Yasmin lalu menggeser mangkuk supnya menjauh darinya.
“Kamu hanya memakan beberapa suap, bagaimana bisa itu mengenyangkan? Makan yang benar, Senja.”
Yasmin menghela napasnya kasar, Eza seperti cenayang yang bisa membaca pikirannya. “Langit, bukankah kamu mengambil jurusan kedokteran, bukan psikologi. Lalu kenapa kamu seolah bisa membaca pikiranku?”
“Senja, aku sudah mengetahui pribadimu, bahkan hingga ke dalamnya,” ucap Eza menahan senyumannya saat mengatakan hal itu yang dilirik dengan tatapan tajam oleh Yasmin. “Jika hanya raut wajahmu, aku jelas masih bisa membacanya, itu sangat terlihat jelas kalau kamu memang tidak menyukainya.”
“Ehm ... sebenarnya, apa yang kamu katakan memang benar, Langit. Hanya saja, aku tidak ingin merepotkanmu lagi.”
“Baiklah, kalau begitu, aku akan mencarikannya lagi untukmu.” Eza dengan semangat mengatakan hal itu. Dia lantas berdiri hendak mencari sup lagi untuk Yasmin. Namun, dengan cepat tangan Yasmin menariknya.
__ADS_1
“Tidak perlu, Langit. Aku sudah kenyang sekarang.”
“Apa, kamu ingin aku tetap di sini, hem? Masih kangen?” Pertanyaan Eza sontak membuat Yasmin tersipu malu.
Wanita itu hanya menahan senyum malunya. “apa sih, Langit.”
Eza pun duduk kembali, tetapi lelaki itu berjanji saat dirinya pulang dari rumah Yasmin, dia akan membawakannya sup yang paling enak. Lelaki itu sedikit merasa aneh dengan tingkah lalu Yasmin, tak seperti biasanya, dia selalu memuji makanan dan bahkan hampir semua dia mau memakannya—tidak pernah memilih-milih makanan.
Jam menunjukkan pukul lima sore, Eza hanya berdiam diri di sana melihat Yasmin yang sejak tadi sibuk melayani pasiennya. Lelaki itu tampak merasa tenang jika dirinya berada di dekat wanitanya, perasaannya semakin tenang, dan tentu saja rindu tidak akan menggebu-gebu mengajak bertemu jika insan yang disayanginya berada dalam pandangannya.
Selang beberapa saat kemudian, Eza berpamitan pada Yasmin dan membiarkan wanita itu untuk beristirahat. Namun, saat malam nanti Eza akan datang kembali yang disetujui oleh Yasmin, asal dirinya hanya ingin mengantar sesuatu, bukan untuk bertamu lama, apalagi bermalam. Meski Yasmin penasaran, tetapi dia tahu bahwa Eza selalu memberinya kejutan. Jadi, dia memilih mengiyakan permintaan Eza begitu saja.
___
Saat berada di dalam, dia langsung mencari seseorang. Biasanya jam segini mamanya sudah kembali dari restoran. Benar saja, Erna sedang duduk santai di ruang tengah sedang menonton televisi.
"Mama, apa kabar?" Panggil Eza tersenyum penuh kerinduan.
Melihat sang putra berdiri di hadapannya, Erna langsung berhamburan memeluk Eza. "Eza, akhirnya kamu tau pulang juga?"
__ADS_1
"Mama kangen, Eza?" tanya Eza membalas pelukan mamanya dengan erat.
"Iya kangen lah, Sayang." Erna melepas pelukannya, lalu memukul lengan Eza dengan kesal. "Kamu ini, mama suruh pergi, kamu pergi?"
"Aduhhh, Mama? Kan mama yang mau?" Eza mengelus belas pukulan mamanya.
"Iya, mama yang mau. Tapi bukan berarti nggak pulang-pulang?" Erna sedikit berteriak.
Dia pun tersenyum. "Iya, iya … Eza minta maaf. Eza pikir mama masih marah?" Eza memeluk mamanya lagi.
"Mama udah nggak marah. Setelah tau kamu benar-benar bekerja keras di luar sana. Mama juga minta maaf ya, Sayang," ucap Erna yang masih dalam pelukan sang putra. Kebahagiaan terpancar dari raut wajah wanita paruh baya itu.
Setelah hari pengusiran itu, Erna benar-benar menyesal. Erna mencari tau semuanya, tentang sang suami yang membantu Eza membeli motor. Peningkatan Eza dalam kampus, serta kegiatan Eza di kafe dan di hari Minggu. Erna sebenarnya bersyukur juga, ada baiknya juga dia keras pada Eza waktu itu. Sebab itulah Erna membiarkan. Hingga dia memendam kerinduannya pada sang putra selama ini.
Erna membawa Eza duduk. "Mana barang-barang kamu? Kenapa nggak bawa apa-apa?" Erna tak melihat koper ataupun tas ransel Eza.
"Eza nggak bawa, Ma … Eza belum berencana tinggal di rumah lagi," jawab Eza kemudian.
Erna yang berpikir Eza akan kembali tinggal bersamanya, menjadi Emosi. "Kalau buka mau tinggal disini? Kenapa kamu pulang? Anak nakal!" Tangan Eza dipukul sekali lagi.
__ADS_1
"Kangen sup buatan mama," jawabnya menyengir.
...***...