Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Ancaman


__ADS_3

...***...


Mengusir Hilman adalah cara yang tepat untuk menghindari pertanyaan yang akan dilontarkan oleh lelaki itu. Semakin lama dia di sini, Yasmin akan semakin tidak tahan melihat wajahnya.


Hilman memajukan tubuhnya, ingin menyudutkan Yasmin. “Sebentar, kita lupakan masalah mandul. Yasmin, kita sudah berpisah selama lebih dari lima bulan. Mustahil jika itu anakku, lalu siapa yang sudah menghamilimu, sedangkan di kertas itu tertulis kandungan masih berusia enam minggu?” 


“Aku bilang pergi, Mas! Jangan mencampuri urusanku!” Yasmin meninggikan suaranya. 


Dua orang yang berada di luar–Suci dan Galang bisa mendengarnya. Mereka saling melempar pandangan karena penasaran apa yang sebenarnya terjadi. 


“Yasmin, jangan buru-buru mengusirku. Kabar kehamilan kamu, sepertinya menarik. Apa kamu tidak mau berbagi cerita denganku?” Hilman menyeringai, sebuah ide licik terlintas di kepalanya. “Apa kamu takut aku akan menyebarkan hal ini ke khalayak umum? Tenang saja, aku akan menjaga rahasia ini, aman. Asalkan ....” 


Hilman lalu berjalan mendekat ke arah Yasmin, wanita itu hanya tampak gugup dan kebingungan. Menyeimbangkan napasnya yang memburu. Mau beralasan apa pun sepertinya akan percuma. Hilman sudah mengetahui semuanya, dia hanya mampu merutuki kebodohannya karena teledor dan tidak berhati-hati.


“Kau tahu Yasmin, jika seorang tahu akan hal ini. Maka aku yakin pasti nama kamu akan tercoreng. Bayangkan saja, seorang dokter dan juga dosen di universitas ternama yang merupakan janda, ternyata sedang hamil. Sungguh mengerikan, kamu pasti akan menerima sesuatu yang buruk setelah ini. Tapi, aku bisa jamin hal ini akan aman dan tak ada satu orang pun yang tau. Asalkan kamu mau menuruti permintaanku. Tentu kamu tau, kan, apa yang aku mau?” Pria itu menunjukkan kelicikannya. 


Yasmin terdiam, dia menghela napas kasar. Mau tidak mau, dia terpaksa menuruti perintah Hilman karena sebuah ancaman yang baginya memang menakutkan. Dia tidak bisa membayangkan jika nanti kehamilannya akan terdengar di kampus dan kawasan tempat tinggalnya. Sudah dipastikan citranya sebagai dokter akan jelek, dan kemungkinan terburuknya dia akan dia akan diusir dari desa tersebut. 


“Baiklah, aku akan memasukkanmu lagi di perusahaan. Tapi bukan sebagai direktur utama. Tidak ada tawar menawar. Ini sudah cukup adil.” 


Meski Yasmin dengan berat hati menerima tawaran Hilman, tetapi baginya hal itu tidak sebanding dengan apa yang dia dapat nanti saat membayangkan hal terburuk menimpanya. Kehidupannya di desa itu sudah sangat membuatnya nyaman dan enggan meninggalkannya. Apalagi dia bisa menyalurkan kepuasan dengan membuka klinik yang bertujuan membantu warga sekitar. Yasmin tidak mau jika kariernya hancur begitu saja jika kehamilannya tersebar dan didengar oleh warga. 

__ADS_1


Setelah kesepakatan yang dibuat Yasmin dan Hilman, akhirnya lelaki itu memutuskan untuk pergi dari kediaman Yasmin. Tampak tawa kepuasan terukir di bibir pria itu. Dia lantas berjalan keluar dan hanya sapa angguk pada Galang dan Suci yang masih duduk di ruang tengah. 


Kedua orang tersebut mendengar sedikit banyak obrolan Yasmin dengan Hilman. Suci dan Galang pun lantas menyusul Yasmin ke ruangannya. Merasa dekat dan khawatir dengan keadaan Yasmin, Suci pun lalu mendekat, mengelus bahu Yasmin seraya berkata, “Yasmin, tadi siapa? Apa dia mantan suami kamu?” 


“Iya, Mbak,” jawab yasmin masih dengan wajah syok.


“Mbak Yasmin baik-baik aja, kan? Apa dia menyakiti, Mbak?” tanya Galang tampak khawatir karena tadi sempat ada perdebatan.


Yasmin tersenyum hambar melihat pada Galang. “Aku nggak apa-apa, kok. Terima kasih, Galang.”


“Apa kamu sudah menceritakan semuanya tentang kehamilan kamu? Lalu apa  dia mau diajak  rujuk?” tanya suci penasaran.


Suci yang tidak tahu permasalahannya pun hanya asal bicara. Padahal, dia tidak tahu siapa ayah dari anak yang dikandung Yasmin. “Kasihan anak kamu, Yasmin, dia butuh seorang ayah nantinya.”


Namun, belum juga Yasmin mengatakan yang sebenarnya. Tiba-tiba saja Eza masuk ke ruangan itu dan mendengar semuanya.


“Loh, Za? Sejak kapan kamu datang?” tanya Galang yang tengah berdiri di sudut ruang. 


“Senja, apa maksudnya ini semua?" tanya Eza tampak terpukul mendengar Yasmin yang hendak rujuk dengan mantan suaminya. 


“Maksud kamu apa, Langit? Kamu kenapa ke sini?” 

__ADS_1


Hubungan keduanya semakin terasa biasa dan terbuka di antara Suci dan Galang karena mereka pun juga sudah mengetahui semuanya.


“Siapa lelaki tadi? Aku berpapasan dengannya di depan. Apa dia ... kenapa kamu nggak cerita semuanya, Senja? Kenapa kamu nggak bilang kalau mantan suami kamu datang dan soal rujuk itu ... apa itu benar?” Pertanyaan Eza seolah apa yang dia dengar adalah benar.


“Langit, dengarkan dulu, bisa nggak mau duduk?” Yasmin memijat pelipisnya yang terasa nyeri. 


Tanpa mendengar ucapan Yasmin, Eza pun langsung keluar lagi dari ruangan tersebut dan bermaksud untuk mengejar Hilman. Melihat Eza yang berjalan dengan seribu langkah, Galang pun dengan cepat berusaha mengekori sambil berteriak menghentikan Eza. Namun sial, Eza sudah berlalu pergi melajukan motornya dengan kecepatan tinggi sehingga suaranya tak terdengar.


Eza pun menyusul mobil Hilman yang belum lama pergi dari desa tersebut, kemungkinan lelaki itu masih berada di gang karena jalan sempit itu memang perlu berhati-hati untuk melewatinya. Eza masih ingat betul mobil sedan hitam yang terparkir di halaman rumah Yasmin beberapa saat yang lalu. Apalagi ketika Eza berpapasan dengan Hilman sempat memperhatikan wajahnya. Dia melihat lelaki itu masuk ke dalam mobil tersebut. 


Eza pun menghentikan motornya tepat di depan mobil Hilman yang berjalan perlahan. Dia menyuruh lelaki itu turun dari mobilnya. Hilman yang merasa aneh dengan pemuda tersebut pun langsung keluar karena penasaran apa tujuannya sudah menyuruh dia berhenti secara mendadak, padahal mereka tak saling mengenal. 


“Anda siapa?” tanya Hilman seraya menutup pintu mobilnya. 


"Tidak perlu tau siapa saya. Saya hanya ingin menyampaikan. Sebaiknya Anda jangan pernah berharap untuk kembali pada Yasmin. Karena dia akan segera menjadi milik saya. Paham?” Maksud Eza untuk menghentikan niat Hilman yang ingin rujuk dengan Yasmin.


Hilman yang mendengar penuturan Eza pun terkesiap lalu tersenyum masam dan menelisik Eza dari bawah hingga atas. “Boleh juga nyalimu sebagai lelaki! Sepertinya kamu tak pantas berjejer dengan Yasmin! Permisi, saya harus pergi, waktuku akan terbuang sia-sia jika melayani bocah ingusan sepertimu.”


Setelah mengatakan hal tersebut, Hilman pun gegas kembali ke mobil dan menggelengkan kepalanya. Sedangkan Eza mendekat dengan hati yang memanas. 


“Saya peringatkan, jangan pernah menyebutku bocah ingusan. Dan satu lagi! Pergi dari kehidupan Yasmin, jangan pernah mengusik hidupnya!” 

__ADS_1


...***...


__ADS_2