Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Terlalu muda


__ADS_3

...***...


Melihat reaksi Yasmin saat dirinya mengatakan hal itu. Intan pun berpikir, pasti ada yang salah. Yasmin mungkin salah paham dengan kata-katanya. Dia pun mengerti, lalu meluruskan maksudnya.


"Mbak … maaf, jangan salah paham. Mas Eza nggak mengatakan apa-apa. Saya hanya menilai dari tatapan mata Mas Eza ketika melihat lukisan itu. Ada cahaya yang terpancar dari matanya, binaran cahaya yang terpancar dari orang yang sedang jatuh cinta." Intan menjelaskan.


Yasmin pun merasa lega. Dia khawatir, orang-orang akan berpikiran aneh tentang dirinya. Tetapi, ada yang membuat Yasmin heran. Bagaimana Intan bisa mengenalinya? Sedangkan penampilan Yasmin sangat berbeda sekarang.


"Mbak benar-benar cantik. Lihat orang aslinya, jauh lebih menyenangkan," tutur Intan lagi.


"Terima kasih," ucap Yasmin mengulas senyuman. "Bagaimana Mbak Intan bisa mengenali saya?" tanya Yasmin kemudian.


"Saya ini pengamat lukisan Mbak. Mata saya sangat sensitif jika ada yang menarik perhatian." Intan terkekeh.


"Ternyata begitu, Intan pasti sangat suka dengan seni." Pikir Yasmin. Dia menerka-nerka umur Intan sekitar tiga puluhan. Hampir seumuran dengan dirinya.


Di sisi yang lain. Eza yang sedang sibuk bekerja, telihat tersenyum. Dia mendengar semua obrolan kedua wanita itu. Karena jarak mereka tidak begitu jauh. Beberapa saat kemudian, Eza datang menghampiri mereka.


"Ini, Mbak, sudah selesai." Eza menyerahkan lukisan Intan.


"Oya." Intan menerimanya. Lalu mengeluarkan selembar amplop ke tangan Eza. "Ini sisa pembayaran, Mas. Terima kasih, ya."


"Terima kasih juga, Mbak," balas Eza menerima pemberian Intan.


Kemudian Intan mendekat pada Eza, lalu berbisik. "Mas Eza … Senjamu sangat cantik, jangan lepaskan dia. Semangat!" Sekilas dia melihat Yasmin, lalu tersenyum manis.

__ADS_1


Yasmin menyipitkan matanya. "Apa yang wanita itu bisikkan? Kenapa Eza tersenyum?" batinnya.


"Saya permisi dulu, Mas … Mbak." Pamitnya kepada keduanya. Lalu tiba-tiba matanya berkedip begitu melihat Yasmin.


Intan melenggang meninggalkan toko itu. Eza mengeleng sambil tersenyum. Sedangkan Yasmin terheran-heran dengan hal yang baru saja dialaminya.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Eza setelah melihat raut wajah Yasmin.


"Emm … aku hanya kaget, dia mengedipkan matanya. Apa yang dia bisikkan tadi?" Yasmin beralih pandang.


"Mbak Intan memang seperti itu, dia sedikit unik. Seleranya juga sangat tinggi. Dia memintaku untuk mengejarmu," ucap Eza menekankan kalimat terakhir.


Namun, pikiran hanya Yasmin hanya terfokus pada ucapan Eza yang pertama. "Kamu menyukainya?"


Pernyataan Yasmin membuatnya terkekeh. "Kamu cemburu, Senjaku? Jangan takut, dia bukan seleraku. Aku sudah bilang, kamu satu-satunya wanita yang kuinginkan. Lagipula, dia sudah bertunangan, tadi itu lukisan dia dengan calon suaminya."


"Hahaha, sudahlah … jangan berpikir yang tidak-tidak, Senjaku." Eza tergelak, lalu mencubit hidung Yasmin gemas. Dia lalu mebuka amplop yang ada di tangannya.


Yasmin meringgis sesaat, lalu memperhatikan apa yang Eza lakukan. Pria itu mengeluarkan lembaran uang seratus ribuan dari amplop. Yasmin menghitungnya, dia terkejut, bayaran Eza ternyata lumayan banyak.


"Satu lukisan tadi dihargai segitu?" tanya Yasmin sedikit kaget.


"Tidak … aku tidak pernah memasang tarif yang tinggi untuk setiap hasilnya. Hanya saja, ada beberapa pelanggan yang memberi lebih dari tarif sebenarnya. Tapi … yang ini lebih banyak dari biasanya." Eza pun heran dengan jumlah uang yang ada di tangannya.


"Mungkin karena dia sangat puas dengan hasil lukisan yang kamu buat. Syukuri aja apa yang udah kamu terima," ucap Yasmin.

__ADS_1


"Iya, kamu benar. Aku bersyukur, berkat kamu aku didatangkan rezeki yang berlimpah." Eza pun tersenyum dan meyimpan uang itu ke kantongnya.


"Aku? Kenapa?"


"Karena kamu wanita yang membawa keberuntungan," ucap Eza kemudian. Yasmin pun terdiam. "Sudahlah, sebaiknya kita lanjutkan yang tadi."


"Yang mana?" tanya Yasmin pura-pura lupa.


"Kamu lupa atau pura-pura? Tadi kamu mau bilang sesuatu." Eza memanyunkan bibirnya. Dia pun pura-pura marah.


Yasmin terkekeh melihtanya. "Begitu aja ngambek, wajahmu jelek," ejek Yasmin mencibir.


"Kamu mengataiku? Awas kamu ya …."


Pinggang Yasmin digelitiki oleh Eza. Membuat wanita itu tertawa kegalian. Dia mengelinjang memohon ampun. Sudut matanya mengeluarkan air mata karena tertanwa. Dia memohon ampun agar Eza menghentikan aksinya.


"Langit! Langit … cukup! Sudah, geli …!"


Eza pun berhenti, dia juga terlihat sangat senang biasa bercanda seperti ini dengan wanita pujaannya butuh. "Baiklah, aku sudah berhenti. Sekarang katakan apa jawabanmu? Kamu mau menjadi kekasihku?" Eza mengulang pertanyaan lagi.


Yasmin menghelas napas sejenak, menetralisir dirinya dari tawa akibat ulah Eza. "Langit. Saat perpisahan kita di Bali waktu itu, aku tanpa sengaja melihat identitasmu. Waktu itu aku akan mengungkapkan perasaanku padamu. Tapi, karena apa yang aku lihat, aku jadi berubah pikiran. Langit, kamu terlalu muda bagiku. Jarak usia kita empat belas tahun." Suara Yasmin melemah di kalimat terakhir.


Eza terdiam cukup lama setelah mendengar penuturan Yasmin.


"Kamu pasti berubah pikiran, Langit," batin Yasmin berucap.

__ADS_1


...***...


__ADS_2