Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Cemburu?


__ADS_3

...***...


Tak ada yang tahu kapan cinta itu akan terbentuk. Semua berawal dari pertemuan, kemudian berubah jadi rasa keingintahuan. Walau tak ada niatan untuk memiliki rasa yang tak ingin dimiliki. Tetapi cinta bekerja dengan caranya sendiri. Ia tak punya lampu isyarat seperti lalu lintas. Tidak ada aba-aba untuk memulai atau menghentikan. Cinta mengalir bagai air sungai dari hulu ke hilir. Mampu menyeret apapun ketika gejolaknya kian deras. Tak terkecuali untuk insan yang sudah tak menginginkannya.


Sama halnya dengan Yasmin yang kini hatinya telah tertanam benih cinta. Namun, kekerasan hatinya ia perkuat agar bisa menyangkal semua rasa yang tak ingin ia sentuh. Bahkan air mata tak diizinkan untuk keluar.


"Senja, senja … tunggu!" Tangan Yasmin berhasil diraih pria itu.


Langkah Yasmin terhenti tepat di depan lift. "Langit, lepas! Aku harus kembali ke kamar." Tangan Eza ditepis, tombol naik ditekan, lalu bersedekap berusaha terlihat santai.


"Kamu marah? Tolong dengar dulu penjelasanku." Mata Eza memperhatikan Yasmin yang sengaja menghindari tatapannya dan menganggap seolah tak ada orang di dekatnya.


"Nggak ada yang perlu dijelaskan, Langit. Aku berada di tempat yang salah," tuturnya tanpa menoleh. Yasmin berusaha menjaga mimik wajahnya sebiasa mungkin agar Eza tak mengira kalau saat ini dirinya tengah cemburu.


Eza menaikkan sebelah alisnya. "Kamu cemburu?"

__ADS_1


Hal itu membuat Yasmin mendelik pada pria itu. Mereka bertatapan, Eza penuh tanya dan Yasmin dengan penyangkalan.


"Aku? Cemburu?" Terukir senyuman tipis di bibirnya. "Bukankah itu terdengar lucu? Kita ada hubungan apa sehingga bisa ada kata itu?" tanyanya kemudian.


"Kita …." Eza tak mampu menjawabnya. Meski sama-sama mengerti akan perasaan satu sama lain, tetapi hal itu sangatlah mustahil untuk diungkapkan.


"Benar, kita tidak ada hubungan apa-apa. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku pergi memang karena itu harus. Di sana bukan tempatku, aku tidak mau mengganggu kalian," jelas Yasmin kemudian.


Pintu lift terbuka, Yasmin pun keluar dan tergesa-gesa melangkahkan kakinya, Eza pun mengikutinya. Segala kegundahan hatinya ia tahan. Menghindari setiap kali Eza ingin melakukan kontak mata.


Tangan kanannya diangkat, menahan ucapan Eza. "Kamu tidak perlu menjelaskan siapa gadis itu. Sama sekali nggak ada hubungannya denganku."


Bagaimanapun Eza mencoba. Wanita itu akan terus menghindar. Lalu ia putuskan untuk mengalah. Satu tarikan napas kecil ia embuskan dan Yasmin menyadari hal itu, wanita itu menang.


"Oke, oke baiklah. Kita masih bisa bertemu? Bagaimana dengan sarapanmu? Jalan-jalan kita?"

__ADS_1


Tak peduli lagi Yasmin ada perasaan benci padanya atau tidak. Berada dekat dengan wanita itu sudah cukup baginya. Setidaknya janji untuk menemani Yasmin selama seminggu bisa terpenuhi.


"Aku sangat lelah, mau sarapan di kamar saja." Yasmin lalu membuka kamar dan segera masuk.


"Boleh aku temani? Aku juga belum makan apa-apa. Aku masih bisa menemanimu selama liburan, kan?" Eza menahan pintu yang tengah terbuka, berharap dirinya akan dipersilakan masuk oleh Yasmin”


"Terserah."


Senyuman manis mengembang dari bibir Eza. Dia masih ada waktu tiga hari lagi. Masih ada kesempatan untuk meluluhkan hati wanita itu. Bagaimanapun juga dia akan terus berusaha. Hingga dia berhasil mendapatkan 'Senjanya.'


“Boleh aku masuk, kan?”


“Hem.” Yasmin pun melenggang masuk dan membiarkan Eza masuk dan menutup pintu. Wanita itu hanya malas meladeni Eza yang terus memohon untuk berada di dekatnya.


Yasmin mendaratkan tubuhnya di sofa, ia lalu mulai men-scroll ponselnya untuk menghindari kecanggungan saat Eza mulai duduk di dekatnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2