
...***...
Motor sport berwarna merah hitam milik Eza memasuki kawasan parkir sebuah kafe. Motor yang dibekali dengan mesin 150cc itu dapat melaju dengan kecepatan tinggi. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, dari tempat tinggal Yasmin. Jaraknya lumayan jauh, sekitar sepuluh kilometer. Dia harus bergegas masuk, karena jadwal kerjanya di kafe itu akan dimulai lima menit lagi.
"Ehh, Za … dari mana aja, Lo?" Sapa Aldo. Dia juga bekerja di Cafe Coffee itu.
"Ada urusan … gue ganti baju dulu," jawab Eza langsung pergi ke belakang.
"Cciihh, paling nemuin gebetannya."
Kabar tentang Eza telah menemukan Senja, telah sampai di telinganya, begitu pun juga dengan Rizal. Tentu saja hal itu mereka ketahui dari Dion yang satu fakultas dengan Eza.
__ADS_1
Eza, Dion, Aldo dan Rizal sudah berteman sejak lama. Dari saat mereka masih duduk di bangku SMA. Dion dan Aldo, tinggal satu rumah dengan Eza. Sedangkan Rizal tinggal dengan orang tuanya, karena dia berasal dari keluarga yang mampu, sama seperti Eza.
Setelah Eza memutuskan untuk tinggal sendiri, banyak perubahan yang terjadi pada hidupnya. Salah satunya bekerja di kafe itu bersama Aldo. Dulu dia adalah pengunjung tetap kafe tersebut, selalu mentraktir teman-temannya. Kini Eza justru memilih untuk bekerja melayani pengunjung kafe karena keadaan yang memaksanya untuk mandiri.
Kebanyakan dari pengunjung kafe adalah anak muda yang suka menghabiskan waktu di luar rumah. Tak jarang, banyak pelanggan perempuan yang datang, beberapa ada yang mengenal Eza karena teman kampus. Namun, ada juga sebagian besar dari mereka yang memang datang hanya untuk berniat menggoda Eza. Eza adalah sosok yang sering dikagumi kaum hawa. Kebaikan dan ketampanannya membuat mereka terpesona.
“Ada yang pesanannya belum diantar?” tanya Eza pada Aldo seraya merapikan bajunya.
“Nih, Lo anter ke meja 13. Kayaknya mereka lagi nungguin Lo tuh!” tutur Aldo mengurungkan niatnya untuk mengantar, dan menyerahkan nampan ke Eza.
“Itu si Lisa. Tiap hati ke sini mulu apa nggak bosan dah!” gerutu Aldo tampak heran.
__ADS_1
Eza pun menanggapi ucapan Aldo dengan datar, dia lantas mengantar minuman ke meja tersebut dengan penampilannya yang keren—membuat semua pasang mata beralih fokus padanya.
“Hai, Za. Tumben baru kelihatan. Aku kira kamu nggak kerja,” sapa seorang perempuan dengan tampilan modisnya. Cantik, tetapi cukup agresif. Begitulah seorang Lisa dikenal di kampusnya. Dia terang-terangan mendekati Eza walaupun lelaki itu bersikap biasa padanya.
“Iya, tadi ada urusan” jawabnya tersenyum. “Enjoy, Guys. Guee ke belakang dulu, banyak kerjaan .” Eza gegas meninggalkan Lisa dan teman-temannya.
Bagi Eza, wanita mana pun tidak akan ada yang bisa menggantikan Yasmin di hatinya, sehingga seberapa banyak kaum hawa yang mendekatinya, sudah dipastikan mereka hanya akan diberi respons sewajarnya layaknya teman.
Bekerja sebagai waiters di kafe itu, tidak terlalu buruk. Walaupun dia selalu sibuk setiap hari karena banyaknya pelanggan. Tapi gaji yang didapatkan lumayan besar, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Eza akan bekerja di sana setiap malam, dari pukul 19.00 hingga tutup pukul 23.00. Tetapi setiap hari Minggu Eza akan berada di taman kota, ataupun Malioboro.
Alun Alun Kidul (Alkid) Kota Yogyakarta, merupakan tempat berkumpul warga kota Jogja. Taman itu tak pernah sepi dari pengunjung, apalagi di hari Minggu dan hari libur. Di sana juga tempat para pejuang rupiah untuk mencari rezeki. Termasuk Eza, dia memanfaatkan bakat dan hobi lukisnya untuk menambah penghasilan. Terkadang, dia juga berada di Malioboro karena biasanya di sana lebih ramai wisatawan yang tertarik dengan lukisan kilat yang Eza buat.
__ADS_1
Satu pesan yang selalu Eza ingat dari papanya. 'Setinggi apa pun kedudukan yang papa dan mama kamu miliki. Ingat itu adalah hasil kerja keras kami. Kamu boleh menikmatinya, papa dan mama akan berikan untukmu. Namun, menikmati hasil jerih payah sendiri itu rasanya lebih luar biasa.' Hingga saat ini Eza menjadikan ucapan itu sebagai semangatnya.
...***...