Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Perhatian kecil


__ADS_3

...***...


Kerinduan seorang ibu terhadap anak merupakan sesuatu yang terasa cukup menyesakkan hati Erna. Bagaimanapun juga, kemarahannya pada Eza saat itu hanyalah emosi sesaat. Sekarang mereka tampak meluapkan rasa rindu tersebut. Apalagi, kedatangan Eza kali ini memang secara tidak langsung karena Yasmin yang menginginkan sup merah. Resep sup merah Erna di restorannya termasuk salah satu masakan yang digemari Eza juga. 


“Jadi, kamu pulang nggak bawa barang Cuma karena kangen sup buatan Mama?” tanya Erna searya menyiapkan bahan sup di dapur. Eza masih berdiri di ambang pintu menyaksikan mamanya yang hendak memasak.


"Ya, karena kangen Mama jugalah.” Eza mengedipkan matanya genit. Kedipan itu telat saat Erna melirik kebelakang.


"Bermalamlah di sini, Sayang, Mama masih kangen." tutur Erna, dia menggeleng karena kedipan mata Eza.


Eza mendekat dan duduk di kursi kecil dekat meja racik. “Ma, lain kali saja, ya. Besok Eza ada kelas pagi. Kalau berangkat dari sini nanti kejauhan,” bujuk Eza.


“Ya, sudah tapi janji, ya. Sering-sering pulang.” Ucapan Erna langsung diiyakan oleh Eza. 

__ADS_1


Erna pun kini tengah serius memasak sup merah untuk Eza, sedangkan lelaki itu menunggunya sambil berbincang dengan papanya di ruang santai. Tak lama kemudian, sup itu pun siap dan diberikan pada Eza. Dia pun langsung berpamitan pada kedua orang tuanya. 


Eza langsung menuju rumah Yasmin untuk mengantarkan sup tersebut. Tak peduli walau malam hari, niatnya kini hanya mengantarkan makanan itu sebentar dan sudah disepakati oleh Yasmin. Sesampainya di sana, Eza mengetuk pintu tersebut dan langsung dibukakan oleh Yasmin. 


“Senja, Sayang,” panggil Eza saat pintu itu dibuka oleh Yasmin. Senyuman pria itu lebih manis daripada gula.


Yasmin mengintip kebelakang punggung Eza, pria itu seperti menyembunyikan sesuatu. “Kamu bawa apa, sih?” tanya Yasmin penasaran. 


“Ini bunga untukmu, biar harimu cerah seperti bunga ini. Siapa tahu, bisa menghilangkan rasa capek kamu setelah seharian bekerja keras. Terimalah,” tutur Eza seraya memberikan seikat bouqet mawar kuning bercampur merah. 


“Terima kasih, tapi lain kali tidak perlu membeli sesuatu yang tidak penting, Langit. Kamu harus menyimpan uangmu.” Yasmin tak mau hanya karena untuk menyenangkan hatinya, Eza harus menghamburkan uang. Mengingat dia tau Eza kini hidup secara mandiri.


“Uang bukan segalanya, Senja. Kamulah yang lebih berarti. Apapun yang kamu minta, aku pasti akan berusaha mewujudkannya. paham?” Eza menatap manik mata Yasmin. Wanita itu pun mengangguk. 

__ADS_1


“Jadi, kamu kesini Cuma mau antar bunga?” tanyanya kemudian.


“Tentu saja tidak. Aku juga membawa ini.” Eza memberikan sup merah pada yasmin. “Aku jamin, kali ini kamu pasti suka.”


“Ini kamu beli di mana, apa jauh? Kenapa harus repot-repot, Langit. Harusnya tidak perlu seperti ini,” tutur Yasmin yang merasa tidak enak karena sejak siang Eza hanya menuruti permintaannya.


“Sudah, makanlah. Apa perlu aku suapin?” tanya Eza sedikit menggoda. 


Yasmin melirik tajam. “Apa kamu mau digerebek warga?”  


“Senja, kita tidak berbuat apa-apa, kenapa harus digerebek?”


“Sebaiknya kamu cepat pulang, Langit, sebelum orang-orang melihatmu. Meskipun tampak sepi, aku yakini banyak mata yang mengintai.” Yasmin seolah mengusir Eza. Lelaki itu hanya menurut.

__ADS_1


Setelah berbincang sebentar tanpa mempersilahkan masuk, Eza pun segera berpamitan pada Yasmin. Beruntung, hari ini dia tidak ke kafe, jadi setelah sampai kos, Eza akan menelepon Yasmin, menemaninya makan walau hanya melalui sambungan video call.


...***...


__ADS_2