Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Makan seafood


__ADS_3

...***...


Liburan Yasmin dan Eza yang singkat ini, membawa mereka merasakan suasana kebahagiaan yang pernah dilalui. Pantai Ngobaran yang dikatakan memiliki keindahan yang hampir sama dengan Bali, membuat mereka seperti kembali ke saat-saat itu. Dimana hanya ada mereka berdua menikmati setiap harinya dengan senyum dan tawa. Yasmin senang, Eza lebih merasa senang lagi. Melihat Yasmin selalu tersenyum sepanjang hari ini.


Waktu yang singkat ini dimanfaatkan dengan baik. Beberapa spot foto telah mereka kunjungi. Yasmin mengabadikan momen keindahan alam yang terpampang di depan matanya. Terakhir kali saat di Bali, mereka tidak pernah berfoto bersama. Kali ini Yasmin tak akan melewatkan, mengambil banyak foto bersama sang kekasih.


Ketika mereka sedang menikmati hamparan pasir dengan berjalan kaki. Yasmin tiba-tiba menghentikan langkahnya. Eza berada selangkah di depannya dengan tangan mereka masih bergandengan. Merasakan tangannya sedikit tertarik ke belakang, Eza pun berbalik.


"Senja, ada apa?" tanya pria itu pada Yasmin yang tertunduk. Tangan wanita itu memegangi perutnya. "Perut kamu kenapa?"


"Langit." Lirih Yasmin pelan. Dia kini melepas genggaman tangan Eza dan memegang perutnya dengan kedua tangan.


Eza mendekat pada Yasmin. Dia berusaha melihat wajah kekasihnya itu saat tertunduk. "Iya, Senja ada apa? Jangan membuatku khawatir."


"Aku … lapar." Dengan sedikit malu Yasmin mengatakannya.


"Hahh? Kita baru tiga jam yang lalu makan siang, kamu lapar lagi?" Eza merasa heran.


Wanita itu mengangkat kepalanya. Matanya terlihat seperti bocah cilik yang meminta dituruti permintaannya. Mulutnya bergetar seperti akan menangis karena dimarahi.


"Aku lapar …!" rengeknya tiba-tiba, benar-benar seperti anak kecil.


"Senja? Iya, iya, kita pergi makan. Jangan menangis hanya karena lapar. Kamu seperti anak kecil saja. Akhir-akhir ini kenapa tingkahmu menjadi aneh?" tanyanya mulai kebingungan.


"Kamu mau bawa aku pergi makan atau tidak? Banyak nanya kamu." Yasmin meninggikan suaranya.


"Iya … Senjaku, kita pergi makan." Eza kembali menggandeng tangan Yasmin dan meninggalkan pantai.


Ketika berada di mobil, Yasmin mengatakan ingin makan sesuatu yang dia sangat inginkan. Yasmin mencari rekomendasi di internet, dia pun menunjuk pada sebuah restoran yang menyediakan makanan seafood. Eza segera membawa Yasmin ke sana. Wanita itu kembali merengek, cepat-cepat sampai di sana.


"Ada apa dengan Senja akhir-akhir ini? Suasana hatinya cepat sekali berubah. Kadang terlihat sangat dewasa, kadang seperti anak kecil yang suka merengek. Manjanya melebihi dari sebelumnya." Eza membatin. Dia memperhatikan wajah Yasmin yang tersenyum melihat gambar makanan di layar ponsel.

__ADS_1


"Kamu sangat ingin makan seafood, Senja?" Eza bertanya sambil melihat ke jalanan.


"Iya, terakhir kali kita makan itu saat di Bali. Aku ingin mencobanya lagi. Lihat, aku mengiler begitu lihat gambarnya aja." Yasmin menunjukan mulutnya yang hampir mengeluarkan air liur.


Eza terkekeh melihat Yasmin bertingkah lucu seperti itu. "Senja, kamu sangat menggemaskan."


Sesampainya di lokasi, mereka langsung masuk ke dalam. Tempat makan itu merupakan sebuah hotel yang ada restorannya.


Beberapa makanan jenis seafood sedang dibawa oleh pelayan. Yasmin seperti tidak sabar ingin menyantap semuanya. Kedua tangannya bahkan telah siap memegang sendok dan garpu. Eza hanya menggeleng melihat tingkah Yasmin yang membuatnya semakin gemas.


Satu persatu makanan di tata ke meja mereka. Raut wajah Yasmin tiba-tiba berubah. Dia mengernyit begitu melihat makanan itu. Hidungnya ditutup dengan kedua tangan. Eza menyadari itu, dia menunggu hingga pelayan itu pergi.


"Kamu kenapa?" tanya Eza Demba suara pelan.


"Langit, ini seafood?" Wanita itu masih menutup hidungnya. Penciumannya seperti sangat terganggu dengan makanan yang ada di meja.


"Iya, kamu pernah makan ini sebelumnya, kan?"


"Senja! Kamu mau kemana?" Eza bergegas menyusul Yasmin. Wanita itu menuju ke toilet. "Senja tunggu!"


Langkah kaki Eza berhenti sejenak di depan pintu toilet. Di memastikan tidak ada orang lain di dalam sana. Setelah merasa aman, barulah dia masuk. Yasmin sedang berada di bilik toilet paling ujung, berjongkok di dalamnya. Eza langsung mendekat. Dia menahan pintu agar tetap terbuka. Jika ada orang lain masuk tidak akan menimbulkan kecurigaan.


"Senja." Belakang leher Yasmin dipijat perlahan, membantu agar wanita itu lebih leluasa memuntahkan isi perutnya.


Yasmin berhenti sejenak, dia terengah-engah. "Langit, ngapain kamu disini?"


"Tolong, jangan usir aku. Biar aku membantumu." Eza teringat saat terakhir kali Yasmin muntah.


Wanita itu pun tak peduli lagi. Perutnya masih terasa diaduk-aduk. Mual yang dia rasakan semakin hebat. Yasmin kembali menundukkan wajah pada lubang toilet itu. Menghabiskan apa yang masih tersisa di dalam lambungnya.


Saat Yasmin masih berjuang di sana. Seseorang tiba-tiba masuk dan menghampiri mereka.

__ADS_1


"Mas, ngapain di sini?" tanya si wanita yang sedikit kaget melihat Eza ada di dalam toilet wanita.


Eza menoleh ke belakang, melihat wanita asing itu berdiri tepat di dekat pintu. "Ini, Mbak, pac ... eh istri saya tiba-tiba muntah. Jadi saya mengantarnya, takut terjadi apa-apa kalau sendirian." Eza sengaja mengubah kata-katanya.


"Istrinya kenapa bisa muntah?"


"Saya kurang tau, Mbak. Makannya saya bingung." Eza semakin cemas, Yasmin terlihat sangat kesulitan.


"Ya udah di pijit aja terus, Mas. Biar cepat dikeluarkan semua, biar lega."


Lima menit kemudian, Yasmin pun berhenti muntah. Eza membantunya menyiram dan berdiri. Pria itu merangkul pundak Yasmin saat keluar dari sana. Sedangkan wanita tadi masih berdiri di sana, dia terlihat prihatin dengan Yasmin yang kelelahan.


Yasmin kesulitan untuk berdiri. Eza menopang tubuhnya dengan kuat. "Kamu nggak apa-apa, Senja?" Kekasihnya itu tak menjawab.


"Mas, ini … dilap dulu." Wanita asing itu memberikan selembar tisu.


"Terima kasih, Mbak."


"Sebaiknya bawa duduk dulu, Mas. Dikasih minum istrinya."


Eza segera membawa Yasmin keluar. Dengan sangat hati-hati, Eza membantu Yasmin berjalan ke meja mereka. Namun, Yasmin menolak kembali ke sana. Eza pun minta Yasmin duduk di kursi panjang yang ada di dekat mereka. Eza meninggalkan Yasmin sebentar untuk membayar makanan yang tadi mereka pesan. Setelah kembali Eza mengajak Yasmin ke rumah sakit.


"Tidak, tidak usah ke rumah sakit. Aku baik-baik aja, aku hanya mau berbaring." Yasmin menolak ajakan Eza.


Pria itu pun berpikir sejenak. "Kita sekarang ada di hotel. Kamu mau tidur dulu sebentar di sini?" Hanya inilah satu-satunya jalan.


"Terserah saja," jawab Yasmin singkat.


Eza pun membuka satu kamar untuk Yasmin beristirahat. Dia sangat khawatir, Yasmin tak mau diajak memeriksakan kondisinya. Ini kedua kalinya Yasmin sakit saat mereka bepergian. Tentu saja Eza sangat merasa bersalah. Kali ini dia hanya bisa mengikuti kemauan Yasmin.


...***...

__ADS_1


__ADS_2