
...***...
Dengan santainya Eza keluar dari sana. Saat mencapai depan pintu, sedikit terburu-buru dia memasuki toilet pria. Selangkah Eza berada di depan pintu, dua orang wanita masuk ke toilet wanita. Untuk saja mereka tidak menyadari Eza yang baru keluar.
Di dalam sana, salah satu dari wanita itu, memandangi Yasmin yang terpaku di depan bilik toilet. Kemudian dia menghampiri.
"Bu … Bu Yasmin, kenapa?" tanya wanita itu menyentuh tangan Yasmin yang berpegangan pada dinding. Dia adalah salah seorang mahasiswa jurusan kedokteran.
Yasmin pun tersadar. "Hah, saya nggak apa-apa."
"Wajah Ibu memerah, Bu Yasmin sakit?" tanyanya lagi.
Yasmin lantas memegangi kedua pipinya. Memang terasa sedikit panas. "Hawa disini sedikit panas." Dia pun tersenyum pada mahasiswi tersebut. "Saya permisi."
Yasmin mulai melangkahkan kakinya. Dia berhenti sejenak untuk bercermin, merapikan pakaiannya. Setelah itu, Yasmin langsung keluar dengan anggun. Kedua orang mahasiswa itu saling pandang. Mereka mengedikkan bahu.
Sementara itu, di dalam toilet pria. Eza terlihat sedang mengatur napasnya. Sebelah tangan di dinding menopang tubuhnya, sebelah lagi memegangi dadanya. Eza menekan pada bagian jantung yang berdebar kencang karena pertemuannya dengan Yasmin barusan.
"Senja, kamu sangat cantik. Aku hampir tidak bisa menahannya," gumam Eza sangat pelan.
Ketika matanya menatap wajah Yasmin dari dekat. Eza berusaha menahan diri agar tidak mencium wanita yang sangat dirindukannya itu. Andai saja Eza tak menahannya, mungkin sesuatu yang lebih akan terjadi. Wajah Yasmin terus terbayang dalam benaknya.
"Lain kali, jika ini terjadi … aku tak tau, apakah aku bisa … sial!" seru Eza menepuk keningnya sendiri.
Pria itu sadar, dia tak bisa terlalu terburu-buru. Dia akan melakukannya dengan hati-hati. Eza tak ingin lagi kehilangan Yasmin untuk yang kedua kalinya. Perpisahan di Bali sudah cukup membuat dirinya menderita.
___
Pukul lima sore harinya, Yasmin telah berada di rumah. Dia baru saja kembali dari mengurus beberapa surat yang diperlukan untuk izin prakteknya. Yasmin juga sudah meminta bantuan Suci—tetangga yang tempo datang ke rumahnya. Dia berniat akan menjadikan Suci sebagai pekerjanya di klinik, sebagai penerima pasien di bagian administrasi. Sedangkan yang akan mengurus obat-obatan, Yasmin akan mempekerjakan apoteker.
Untuk besok, dia hanya perlu menyerahkan surat izin yang diberikan oleh perangkat desa ke dinas kesehatan kota. Setelah itu, Yasmin hanya perlu menunggu izin untuk membuka Klinik jadi. Untuk perlengkapan dan peralatan medis, Yasmin telah memesan dari Jakarta. Dalam waktu satu Minggu akan di kirim ke rumahnya.
Yasmin berbaring di tempat tidur, setelah selesai membersihkan dirinya. Hari ini sangat melelahkan. Mungkin dia akan memesan makanan delivery saja, ketimbang masak sendiri. Saat Yasmin akan memesan makanan dari aplikasi hijau di ponselnya. Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Haii, Senja … aku langitmu."
Yasmin membaca pesan tersebut, tanpa sadar dia tersipu. Sedetik kemudian dia mengubah mimik wajahnya. "Ternyata dia …," guman Yasmin berwajah masam. Dia tak langsung membalas.
__ADS_1
Dua menit kemudian, Eza mengirim pesan lagi.
"Kenapa kamu nggak balas, Senja. Kamu sudah baca."
Yasmin tersenyum kecil. "Cuma malas." balasnya
"Kenapa kamu terlalu jujur. Kamu tau, hatiku sangat sakit."
"Jika sakit, pergilah ke dokter."
"Aku mau kamu yang menjadi dokterku. Kamu dokter cintaku, Senja."
Tombol keluar dari aplikasi chat ditekan. "Hisss, mengada-ada." Yasmin bergumam sendiri, dia tak membalas pesan terakhir. Dia ingin melanjutkan niatnya untuk memesan makanan.
Lalu ada notifikasi masuk lagi. Terlihat bagian atas layar ponselnya.
"Senja."
"Senjaku."
:-( :'(
Yasmin tersenyum begitu melihat pesan terakhir di bagian notifikasi. Membayangkan emoji dengan muka sedih, terlihat sama dengan muka Eza.
"Iya, ada apa?"
Pesan itu pun dibalasnya.
"Akhirnya :-)"
"Aku menunggumu di depan gerbang, aku akan mengantarmu pulang."
"Nggak perlu, aku sudah di rumah."
"Kapan kamu pulang?"
"Setelah kelas terakhir tadi."
__ADS_1
"Kalau gitu, aku ke sana sekarang. Kita makan malam di luar."
"Aku lelah, mau pesan delivery aja."
"Senja please … kalau kamu menolak, aku akan kesana, nanya ke warga rumah kamu sebelah mana."
"Hisss … baiklah. Tunggu di gang waktu itu."
"Oke …."
Yasmin akhirnya mengalah. Walaupun dia menolak, tapi tidak dengan hati kecilnya. Tersirat semburat kebahagian dari wajah cantik itu. Lalu Yasmin menyimpan nomor telepon Eza dengan nama 'Langitku'. Entah kenapa itu yang terlintas dalam pikirannya.
...***...
...Hai hai hai Readers ☺️...
...Waktunya Author ngumumin pemenang GA mingguan, tgl 6 - 12 juni....
...Juara 1 - Cahyaning Fitri...
...Juara 2 - Fitri Chan...
...Juara 3 - The Shadow Ghost...
...Tiga nama di atas akan mendapatkan pulsa, 20rb, 15rb, dan 10rb....
...Hubungi WA ini ya 088279017405...
...Terima kasih atas partisipasinya......
...Nantikan GA selanjutnya .......
...☺️✌️...
...❤️❤️❤️...
__ADS_1