Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Dekapan Eza


__ADS_3

...***...


Dua kaki yang terjuntai di bawah meja, bergerak ke depan dan belakang. Seiring dengan tubuh yang ikut bergoyang, Yasmin menopang dagunya. Matanya tak lepas dari Eza yang sibuk menyiapkan bumbu. Pria itu berada di hadapannya, sedang mengiris bawang untuk nasi goreng. Yasmin terkekeh saat Eza menarik udara dari hidungnya dengan cepat. Karena cairan telah keluar dari lubang hidungnya. Mata pria itu telah berair dan merah.


"Kamu ketawain aku?" tanya Eza mengusap sudut mata yang berair dengan lengan.


"Abisnya lucu, ngiris bawang aja sampai nangis."


"Aku kan nggak tiap hari masak, Senja. Jadi nggak terbiasa sama si bawang." Sebiji bawang merah diangkat ke atas.


Yasmin kembali terkekeh. "Kamu harus membiasakan diri. Sepertinya aku akan selalu meminta kamu masak setelah menikah." Kaki Yasmin berhenti bergerak, Eza membalas ucapannya dengan senyuman.


"Siap, Tuan Putri. Langit akan melakukan apapun perintah Senjanya," ucap Eza semangat sambil menempelkan tangan kanan di keningnya, seperti memberi hormat. Yasmin terkekeh melihatnya.


Sambil menunggu nasi goreng spesial buatan Eza jadi. Yasmin naik ke lantai dua, membersihkan diri sekali lagi. Setelah makan dia mau langsung tidur. Sepertinya sudah terlalu larut untuk membicarakan tentang semua pada Eza. Lebih baik besok saja, dia akan menyuruh Eza pulang setelah selesai masak.


Selang beberapa menit, Eza naik dengan sepiring nasi goreng plus dua telur mata sapi di atasnya. Tak lupa Eza menaruh tomat, timun, serta selada sebagai sayuran. Dia juga menimbang tentang gizi yang Yasmin konsumsi, demi anaknya juga.


Yasmin tengah duduk diatas karpet berbulu di ruang tengah. Wanita itu sedang terpaku pada layar laptopnya. Eza sedikit mendengus, kekasihnya itu masih menyentuh pekerjaan malam-malam begini.


"Senja, kamu sedang bekerja? Ini sudah malam." Panggilan Eza membuat Yasmin menoleh. Dia tersenyum penuh damba pada nampan yang dibawa Eza.


"Nasi gorengnya sudah jadi? Sini, sini, cepat, Langit!" Yasmin sudah tidak sabar.


Eza menghampiri Yasmin dan meletakkan hasil masakannya di meja. "Kamu, sedang apa? Jangan bekerja malam-malam begini."


Eza ikut duduk di samping Yasmin. Pakaian wanita itu telah berganti dengan baju tidur, wajahnya telah bersih dari makeup. Rambutnya digulung ke atas dan diikat asal. Penampilan seperti biasa saat berada di rumah. Eza merasa sudah seperti seorang suami yang melihat wajah rumahan sang istri. Dia jadi tidak sabar untuk segera tinggal seatap dengan wanita kesayangannya itu.

__ADS_1


"Bukan, Langit. Tadi Om Gito mengirim hasil rapat hari ini. Perusahaan sedang merencanakan pembuatan obat baru. Aku diminta untuk melihat proposalnya. Sekalian mau ngabari kalau Hilman udah mulai bekerja, sesuai dengan posisi yang dikasih."


Eza mengambil sendok untuk menyuapi Yasmin. "Terus?"


Yasmin membuka mulut, menerima suapan Eza. Setelah menelan makanan, dia kembali melanjutkan ucapannya. "Kata Om Gito, Hilman kerja uring-uringan. Dia juga ngirim video, pas Hilman ngamuk di gudang."


"Oya? Dia bekerja di bagian apa?" tanya Eza penasaran. Dia juga ingin tau, pembalasan seperti apa yang Yasmin berikan pada pria brengsek itu.


Sambil terus memakan nasinya Yasmin memberitahu. Dia terkekeh sebelum melanjutkan. "Sopir angkutan barang."


Eza pun ikut terkekeh. Jelas saja Hilman mengamuk, dari direktur, berubah jadi supir. Eza begitu senang mendengarnya. Namun, ada rasa khawatir akan sesuatu. Hilman pasti sedang bersiap untuk membalas. Eza bertekad, akan selalu menemani Yasmin menghadapi pria itu. Dian tak ingin membiarkan Yasmin sedetik pun tanpa dirinya.


Yasmin memakan dengan lahap nasi goreng buatan Eza. Seperti tak ingin satu orang pun berebut dengannya. Laptop milik Yasmin sudah tertutup. Yasmin memutuskan untuk makan sendiri. Sementara Eza memandangnya seraya merebahkan kepala di meja. Mata pria itu terlihat sangat lelah. Yasmin sudah menyuruhnya untuk pulang. Namun, Eza menolak dan menunggu Yasmin selesai makan.


"Langit, aku sudah selesai." Yasmin menolah pada Eza. Tanpa dia sadari, mata kekasihnya itu telah terpejam. Yasmin merasa kasihan.


Yasmin menyentuh pipi Eza dengan lembut. Mencoba membangunkan lelakinya. "Langit." Tapi Eza terlihat sangat pulas, Yasmin tak tega untuk membuatnya terbangun.


Wanita itu juga tak tega menyuruh Eza pulang selarut ini. Dalam keadaan mengantuk. Akan sangat berbahaya mengendarai motor dalam keadaan seperti itu. Yasmin membiarkan Eza untuk tidur di sini malam ini. Tapi tidur dalam posisi seperti ini juga tidak akan nyaman.


"Langit, bangun. Pindah ke kamar." Tubuh Eza digoyangkannya.


Eza melenguh, dia membuka mata dengan susah payah. Eza baru terpejam selama sepuluh menit. "Senja." Pria itu mengangkat kepala. Matanya tak bisa terbuka dengan sempurna.


"Pindah ke kamar." Yasmin menarik lengan Eza, mereka berdiri bersama.


Pria itu terlihat masih setengah sadar. Dia menuruti saja apa yang Yasmin perintahkan. Tanpa tau kemana arah jalannya, Yasmin membawanya masuk ke kamar.

__ADS_1


Tubuh Eza dibaringkan ke tempat tidur. Matanya masih saja terpejam. Yasmin melirik jam dinding sesaat. Sudah pukul dua pagi. Dia juga harus istirahat. Setelah merasa kenyang, matanya kini mengantuk. Yasmin mematikan lampu ruangan tengah, menutup pintu kamarnya dan ikut berbaring. Dipandanginya wajah pria yang telah lelap di sampingnya. Yasmin mendekat dan memeluk tubuh Eza.


"Selamat malam, Langit." Lirihnya sebelum terpejam.


Eza sepertinya mendengar suara Yasmin di alam bawah sadarnya. Pria itu memiringkan tubuhnya, membawa Yasmin ke dalam pelukannya. Memberikan lengannya sebagai bantal. Merengkuh hingga mereka tak berjarak.


"Malam, Senja." Suara Eza lemah membalas ucapan selamat malam Yasmin. Entah dia sadar atau tidak, Yasmin cukup terkejut mendengarnya.


Yasmin mendongak, melihat apakah Eza terbangun. Mata pria itu masih terpejam. Eza mungkin mengigau. Tapi setelah itu, Eza justru mendekat, mengarahkan bibirnya ke kening Yasmin. Eza memberikan kecupan.


"Selamat malam, Senja. Tidurlah."


Yasmin bersemu kemerahan dengan perlakuan Eza. Kekasihnya itu ternyata bangun, hanya matanya cukup berat untuk terbuka. Eza membelai lembut rambut Yasmin, lalu mendekatkan wajah wanita itu ke dalam dadanya. Yasmin merasakan hembusan napas Eza di puncak kepalanya. Menerpa permukaan rambutnya.


Perasaan nyaman dan damai Yasmin rasakan. Saat menghirup aroma tubuh Eza yang menenangkan. Pria itu mengenakan parfum yang beraroma maskulin, tapi terdapat sentuhan feminin dalam wanginya. Perpaduan pas yang membuat Yasmin tak melupakan aroma itu. Yasmin menyukainya, ditambah lagi jika tercampur dengan bau alami tubuh Eza. Hal itu yang membuat Yasmin selalu ingin berada dalam pelukan kekasihnya itu.


"Kamu nggak tidur." Suara Eza kembali terdengar.


"Emm?" Yasmin kembali mendongak.


Eza membuka mata mengecup kening Yasmin sesaat. "Senja … kamu masih asyik menghirup aroma tubuhku. Bagaimana aku bisa tidur?"


Yasmin merasa malu, dia ketahuan. Wanita itu kembali menyembunyikan kepalanya dalam dada Eza. Pria itu itu tersenyum. Tangan Yasmin diraih dan di letakkan di pinggangnya. Meminta wanita itu juga memeluknya. Yasmin tak tau, betapa Eza berusaha untuk menahan dirinya. Dia berusaha untuk tertidur.


Beberapa menit kemudian mereka akhirnya terlelap dalam pelukan satu sama lain.


...***...

__ADS_1


__ADS_2