
...***...
Keesokan harinya, Yasmin mendapat kabar dari Profesor Ali bahwa dokter umum yang dijanjikan untuk membantu Yasmin, akan datang hari ini. Seorang pemuda bernama Galang, dia baru saja selesai magang di sebuah rumah sakit swasta, tetapi tidak lanjut bekerja dikarenakan tidak nyaman. Ia memilih untuk membantu Yasmin setelah mendapat tawaran dari Profesor Ali. Jiwa relawannya lebih cocok jika bekerja bersama Yasmin. Di sebuah klinik di desa yang sederhana.
Yasmin mengatur seseorang untuk membantunya agar dia tidak kewalahan menangani pasien yang cukup ramai. Terlebih lagi dia harus menyesuaikan jadwal mengajarnya di kampus. Ditambah lagi dengan kondisinya sekarang sedang hamil, mendapat bantuan dari dokter lain, dia sangat bersyukur.
Siang hari, setelah Yasmin pulang dari kampus. Dia beristirahat sebentar di ruang santai lantai dua, sebelum dia membuka kliniknya. Akan tetapi, Suci sudah bersiap rapi. Wanita itu selalu rajin dan semangat jika sudah tiba jam kerjanya.
“Assalamualaikum, permisi!” seru seorang lelaki dari pintu depan.
Suci yang tengah berbincang dengan Yasmin, kemudian berdiri menemui tamu tersebut. Dia berpikir jika yang datang adalah seorang pasien. Ternyata lelaki muda dengan penampilannya yang rapi, juga tampan.
“Iya, ada yang bisa dibantu? Mau periksa, ya? Silakan masuk, Bu Dokternya sedang istirahat sebentar.” Suci melayani dengan ramah.
“Oh bukan, Bu. Saya datang kemari mau mencari Bu Yasmin, saya ditugaskan untuk membantu beliau di sini," jelas lelaki itu.
__ADS_1
“Oalah, silakan masuk!” Suci pun membantu membawakan barang-barang Galang. Pria itu mengucapkan terima kasih.
Selang beberapa saat, Yasmin keluar setelah Suci memanggilnya. Kemudian turun kebawah menemui Galang di ruang tunggu.
“Perkenalkan, nama saya Galang Perwira, Bu. Sesuai arahan Profesor Ali, saya bersedia bekerja dan membantu Bu Yasmin di klinik ini dengan senang hati.” Dia mengulurkan tangan, mengajak Yasmin bersalaman, sebagai rasa hormatnya.
Yasmin pun menyambut. “Galang, benar umur kamu masih 25 tahun? Apa saya harus memanggilmu ‘Pak’?” tanya Yasmin mengulas senyum ramah.
Galang melambaikan tangannya sedikit canggung. “Ah, tidak perlu, Bu. Panggil Galang saja biar lebih akrab. Boleh saya panggil Mbak Yasmin aja? Maaf kalau lancang, tapi saya lihat belum terlalu pantas untuk dipanggil ibu.” Dia ingin bisa lebih akrab dengan Yasmin.
“Iya, silakan. Nggak apa-apa, saya tidak keberatan, kok." Yasmin memperhatikan sejenak. "Kamu pasti capek, bisa istirahat dulu sebentar, saya buatkan minum, ya. Sambil nanti cari penginapan yang dekat sini.”
Wanita itu dengan sopan membicarakan masalah pekerjaan dan beberapa hal penting yang harus disampaikan mengenai kliniknya. Untuk gaji mereka sudah sepakat kalau Yasmin akan membayar penuh sesuai dengan ketentuan. Galang tidak memikirkan hal itu sebenarnya, dia lebih suka melakukan pekerjaan dengan ikhlas. Tetapi, Yasmin tetap akan membayarnya.
Untuk masalah tempat tinggal, Yasmin juga menyarankan beberapa rumah kos untuk ditempati Galang. Mereka mencari melalui aplikasi. Namun, masih belum ada yang cocok. Sebagai seorang yang mengundang Galang datang ke kliniknya, Yasmin juga merasa bertanggung jawab atas yang satu ini. Saat dia sedang berpikir, tiba-tiba dia teringat akan sesuatu.
__ADS_1
"Bagaimana kalau saya tanyakan kepada anak didik saya, beberapa dari mereka ada yang tinggal sendiri." Yasmin teringat dengan Eza dan kawan-kawannya.
"Boleh, Mbak. Jika masih ada tempat yang kosong."
Yasmin kemudian bermaksud menghubungi Eza. Lalu, tiba-tiba ponselnya berdering. Kebetulan Eza menelepon di saat yang tepat. Yasmin pun mengangkat dengan Segera.
"Halo!" sapa Yasmin dengan nada biasa saja.
"Halo, Senjaku … kamu lagi sibuk nggak, Sayang?" Eza terdengar bersikap manja, Yasmin tak tahan ingin tersenyum. Namun, dia menahannya.
"Eza, kebetulan kamu telepon. Saya perlu bantuan kamu, bisa kamu datang kesini?" Yasmin bicara layaknya seorang dosen. Dia langsung saja ke inti pembicaraan.
Mendengar cara bicara Yasmin yang berbeda. Eza bisa menebak, kakasihnyabitu sedang berada di dekat seseorang. "Kamu butuh bantuan apa? Oke, aku segera kesana."
"Oke, saya tunggu." Yasmin langsung mematikan telepon.
__ADS_1
Ternyata Galang dari tadi memperhatikan Yasmin. Dilihat dari raut wajahnya, ada rasa kagum yang terpancar disana. Seorang wanita dewasa yang sangat berwibawa ketika berbicara. Galang mulai menebak, Yasmin bukanlah orang biasa. Wanita itu pasti seorang yang hebat.
...***...