Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Protektif


__ADS_3

...***...


Galang sedikit merasakan tidak enak hati dan bingung melihat sikap Eza dan Yasmin karena memperdebatkan sesuatu tentang dirinya. Keduanya seperti sedang mengatakan sesuatu dari tatapan mata. Lelaki itu pun kemudian berpamitan untuk pergi ke toilet, sejenak menghindari kebingungannya. 


"Permisi, Mbak Yasmin. Boleh saya ke toilet?” izin Galang seraya menatap ramah wanita itu. 


“Oh boleh, silakan! Kamar mandinya ada di sebelah sana,” tutur Yasmin menunjuk sudut ruang yang terdapat kamar mandi untuk umum.


“Terima kasih, permisi.” Galang berdiri gegas menuju toilet.


Sementara itu, Eza dan Yasmin saling tatap tanpa berkedip. Eza seolah memendam sesuatu yang sangat besar di hatinya. Dia sedikit kecewa dengan sikap Yasmin yang seolah tak menganggapnya perihal masalah kedatangan lelaki asing itu. Tentu saja dia cemburu jika Yasmin berdekatan dengan lelaki lain, meskipun dia hanya seorang dokter baru yang baru saja dikenal Yasmin. Namun, hal itu tidak menutup kemungkinan jika Yasmin bisa saja jatuh cinta terhadap lelaki tersebut, apalagi ketampanannya juga hampir seimbang jika dibandingkan dengan Eza. 

__ADS_1


“Apa? Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Eza yang sedikit tegas terhadap Yasmin saat keduanya duduk membisu dan hanya lempar tatapan.


“Kamu kenapa, si, Langit?” Yasmin merasa Eza seperti menahan emosinya. Raut wajahnya seolah ditekuk, alisnya menukik seiring dengan matanya yang masih tajam menatap wanita di depannya itu. 


Mata Eza mengitari sekitar, ia mencari tempat yang sedikit aman. Tanpa persetujuan, lelaki itu menggenggam pergelangan tangan Yasmin dan menariknya, membawanya ke sebuah ruangan yang tampak sepi. Tak peduli meski itu di rumah Yasmin dan harus menjaga sopan santun, tetapi kali ini kesabarannya sudah tidak bisa ditahan lagi. 


“Langit, kamu mau ngapain, sih? Aku sedang ada tamu, kamu jangan buat ulah. Jangan seperti anak kecil begini.” Yasmin terus mengomel karena tidak suka perlakuan Eza yang selalu memaksa. 


Lantai satu rumah itu memiliki dua kamar yang cukup besar. Satu ruangan Yasmin gunakan untuk ruang periksa pribadinya. Satu ruangan lagi telah dipersiapkan untuk Galang. Ada satu lagi ruangan sedikit lebih kecil yang akan digunakan untuk ruang rawat pasien sementara. Eza membawa Yasmin ke ruangan itu, karena dia tau tempat itu masih kosong. Bed pasien dan peralatan medis lainnya belum datang dari Jakarta.


“Langit, lelaki itu bukan siapa-siapa. Dia dokter yang baru saja aku kenal dan kita harus terlibat dalam satu pekerjaan. Jadi, buat apa kamu cemburu? Kamu cemburu, kan?” Yasmin berusaha menjelaskan pada Eza, bagaimanapun dia juga sedikit merasa bersalah terhadap kekasihnya itu.

__ADS_1


“Aku tahu itu, aku paham. Tapi, yang aku nggak suka, ini semua terlalu mendadak dan sebelumnya kamu juga tidak pernah cerita padaku. Bisa nggak, kamu sedikit saja menganggapku?” Eza meraup wajahnya kasar dengan kedua tangan. 


“Baiklah, aku minta maaf karena sudah mengecewakanmu. lain kali, aku tidak akan mengulanginya  lagi, maafkan aku." Yasmin pun paham dan mengerti perasaan Eza. 


Wanita itu terbiasa bersikap tegas dan terkadang dia lupa mengontrol ucapannya saat bersama dengan orang lain. Tidak mudah baginya untuk menyembunyikan statusnya sebagai kekasih Eza. Di selalu terbawa dengan bersikap lebih formal saat bersama orang lain, jika Eza bersamanya.  Sehingga melupakan hati yang harus ia jaga.


“Maaf? Apa kamu serius meminta maaf?” tanya Eza menatap lekat Yasmin. Suaranya memelan takut jika Galang sudah selesai dari kamar mandi. Dia mengintip di balik pintu untuk memastikan. 


“Tentu saja aku serius, aku minta maaf karena aku memang salah, nggak seharusnya aku menekanmu dan memojokkanmu, aku juga salah karena aku tidak berbicara tentang ini terlebih dahulu.” Yasmin berinisiatif menggenggam tangan Eza, merayu lelaki itu agar tidak terus-terusan marah padanya.


Sifat over protektif Eza mulai terlihat seperti pasangan pada umumnya. Rasa cemburu itu begitu terlihat dan Yasmin rasakan saat melihat tingkah Eza. Padahal, sebelumnya lelaki itu sangat sabar dan sekalipun tidak pernah memarahinya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2