
...***...
Pukul tiga sore, klinik mulai dibuka. Yasmin melayani pasien seperti biasanya. Dari siang tidak banyak pasien yang mendaftar, Yasmin tidak terlalu repot dengan pekerjaannya. Ditambah lagi Gilang sudah ada di sana, dia mulai membantu memeriksa pasien, sehingga pekerjaan mereka cepat selesai.
Menjelang malam hari, hanya ada dua pasien tersisa, Gilang bisa mengatasinya sendiri. Sementara Yasmin mempersiapkan makan malam untuk mereka. Eza yang masih berada di sana, sengaja mengintip Yasmin ke dapur. Melihat apakah ada yang bisa dibantu, karena dari tadi dia hanya duduk dan memperhatikan orang disekitarnya lalu lalang.
"Senja." Eza tiba-tiba berdiri di sebelah Yasmin.
Yasmin yang sedang memotong sayuran, menoleh kebelakang. "Langit, ngapain kamu di sini?" Dia sengaja memelankan suaranya, takur ada yang tiba-tiba mendengar. Walau dia tau jarak dapur dan ruangan ruangan tengah sedikit.
"Aku merasa bosan di depan, boleh aku membantumu?"
"Kamu tidak perlu bantu, aku bisa sendiri. Kalau ada yang berpikir macam-macam bagaimana?" tanya Yasmin seraya melihat ke arah pintu masuk dapur. Dia tau, kemungkinannya sangat kecil akan ada orang yang datang. Tapi tetap saja dia merasa harus waspada.
"Aku kan cuma membantumu aja. Lagipula kalau aku bantu pekerjaan akan cepat selesai," ucapnya sedikit cemberut.
Yasmin pun mengalah. Selagi Eza bisa menjaga sikap, dia tidak keberatan. "Ya, sudah. Jaga jarak aja, takut ada yang datang."
"Iya, aku tau. Jadi apa yang bisa aku kerjain?" tanya Eza melihat banyaknya bahan-bahan di atas meja.
"Emm, kamu potong sayuran bisa kan?"
__ADS_1
"Tentu saja bisa. Mana sini."
Yasmin menyerahkan sayuran yang ada di tangannya. Dia pun mengerjakan hal yang lain. Sesuai kesepakatan, Eza menjaga sikapnya, dia hanya mengerjakan apa yang Yasmin minta. Agar tidak bosan mereka mengobrol ringan.
Yasmin sedikit merasa merasa menyesal, karena meminta Eza tinggal untuk makan malam. Dia lupa bahwa kekasihnya itu haru bekerja di kafe. Walau Eza mengatakan sudah meminta izin akan datang terlambat, tapi dia masih merasa tidak enak.
Eza memperhatikan wajah Yasmin yang berubah seketika. Tidak biasanya, Yasmin berpikir terlalu berlebihan tentang masalah kecil seperti ini. "Demi bisa memakan masakan kamu, aku rela, Senja. Sudah jangan dipikirkan lagi."
Yasmin hanya bisa tersenyum mengembalikan suasana hatinya. Dia tidak hanya memikirkan itu saja. Perhatian Eza memang sangat dibutuhkan. Namun, bagaimana kalau ini dilakukan setiap saat untuk dirinya. Kehidupan Eza yang lain akan terganggu. Yasmin berpikir keras, bagaimana jika Eza tau masalah kehamilannya? Eza akan rela meninggalkan kuliah dan kerjaan demi menemaninya.
Dia akan mencari cara agar Eza mau meninggalkan dirinya. Lagi-lagi Yasmin harus memikirkan apakah harus melepaskan Eza atau tidak.
Pukul tujuh mereka selesai makan. Tak menunggu lama-lama, Eza dan Galang berpamitan. Dia akan mengantar Galang ke rumah kos sebentar, lalu pergi ke kafe. Suci yang ikut makan malam bersama mereka juga berpamitan untuk pulang, setelah membantu Yasmin membereskan peralatan bekas makanan. Kini tinggallah Yasmin sendiri di rumah itu.
Seperti biasa, sebelum tidur Yasmin mengerjakan beberapa materi untuk di kampus. Lelah yang dia rasakan hari ini lebih dari biasanya. Dia tau itu adalah efek dari kehamilannya. Yasmin pun pergi tidur lebih awal malam ini.
Menjelang tengah malam, Yasmin terbangun untuk ke toilet. Saat kembali ingin berbaring, dia melihat jam pada ponsel. Pada saat bersamaan, sebuah pesan masuk dari Eza.
"Senja, kamu sudah tidur?"
Yasmin terlihat senang, dia pun membalasnya. "Aku terbangun ke kamar mandi. Kamu baru pulang dari kafe, Langit?"
__ADS_1
"Iya, baru saja selesai bebersih. Aku rindu padamu, Senja."
"Tiap hari bertemu, kamu masih bilang rindu?"
"Bertemu tapi tidak pernah menghabiskan waktu bersama."
"Kita sama-sama sibuk, Langit. Harus bagaimana lagi?"
"Ingin rasanya aku membawamu ke suatu tempat, menghabiskan waktu berdua saja denganmu."
"Kamu ingin berlibur, lagi?"
"Jika kamu mau."
Tanpa mereka sadari, mereka berbalas pesan hingga larut malam. Mereka berhenti setelah sadar sudah jam satu dini hari. Eza dan Yasmin pun memutuskan untuk mengakhirinya.
Galang sudah tertidur sedari tadi, ketika Eza belum pulang. Kamar yang Eza tempati cukup lumayan besar. Hanya saja cuma ada satu ranjang single, yang kini digunakan Eza. Beruntung ada kasur bekas penghuni lama di gudang, Galang bisa menggunakannya. Dia tidak keberatan tidur di lantai, jika tempatnya terasa nyaman. Sepertinya dia akan betah berada di sana.
Sementara, di tempat lain. Yasmin masih merenung, memikirkan tentang ajakan Eza untuk menghabiskan waktu berdua. Yasmin berpikir, dia bisa mengambil kesempatan ini untuk mengetahui sesuatu. Dia akan mencoba berterus terang kepada kekasihnya itu. Membiarkan masalah ini terlalu lama, akan semakin runyam nantinya. Dia butuh kepastian, apakah nantinya Eza bisa menerima kenyataan ini.
...***...
__ADS_1