
...***...
Setelah berita itu sampai ke telinga Yasmin. Dia langsung memeriksa media sosialnya. Yasmin memang jarang mengecek akun pribadinya. Dia lebih suka membuka situs bisnis dan investasi yang dia jalankan. Laporan tentang perusahaan selalu dikirim melalui email dan Yasmin lebih suka mengeceknya melalui laptop, sedangkan ponsel lebih banyak dia gunakan untuk berkomunikasi.
Yasmin menduga, Hilman pasti membuat ulah karena pekerjaan yang diberikan tidak sesuai dengan harapan lelaki itu. Hingga pria itu nekat kembali menentangnya. Dia tidak takut dengan ancaman terakhir sebelum meninggalkan kota Jogja.
Pria itu sudah diperingatkan Eza, untuk jangan lagi mengganggu hidup Yasmin. Yasmin juga sudah memberikan apa yang diminta. Bisa dibilang itu sudah sepadan untuk Hilman yang pernah berjasa bagi perusahaan. Kompensasi sebelumnya juga lumayan banyak. Jika kini dia menuntut banyak, tentu saja Yasmin tidak akan setuju. Dia tidak peduli lagi walau mereka pernah menjadi satu keluarga. Kali ini Yasmin benar-benar akan membuat Hilman jera.
Baru saja Yasmin hendak menghubungi Pak Gito, ponselnya tiba-tiba berdering. Yasmin pun terkejut saat membaca nama Pak Gito di layar ponselnya. Kebetulan ini membuat Yasmin sedikit menebak, pasti ada sesuatu yang akan disampaikan oleh lelaki itu karena tidak biasanya menelepon di waktu malam. Padahal, sebelumnya tujuan Yasmin menelepon Pak Gito untuk memberi kabar tentang pernikahannya.
“Iya, Om. Aku baru saja mendengar kabar itu dari Santi. Aku juga terkejut, tapi sebaiknya nanti kita pikirkan jalan keluarnya biar dia jera. Dia pasti marah karena bukan jabatan perkantoran yang kita berikan.” Yasmin terkekeh, dia sama sekali tidak memikirkan akibat buruk nantinya. Yang terpenting, Eza sudah mempercayainya. Itu sudah lebih dari cukup baginya. Masalah orang tuanya Eza jika mendengar kabar tersebut, Yasmin juga tidak akan ambil pusing. Pasti akan ada jalan keluar nantinya dengan bantuan Eza.
“Yasmin, maaf bukannya Om mau ikut campur. Tapi Om penasaran, kenapa Hilman tiba-tiba berkata seperti itu? Kabar itu tidak mungkin benar, kan?”
Gito bingung dengan pernyataan Hilman yang akan rujuk dengan Yasmin, sedangkan jika dipikir-pikir, lelaki itu sama sekali tidak pantas untuk menjadi suami Yasmin kedua kalinya karena kesalahan yang dulu cukup fatal, tidak mungkin jika wanita itu akan memberikan kesempatan lagi. Gito bisa menebak bahwa Hilman memang tengah sakit hati karena dia merasa ditipu oleh Yasmin dan Gito masalah pekerjaan.
Awalnya dia sangat berharap menduduki posisi di bagian kantor walau tidak setinggi jabatannya dulu, setidaknya dia masih bisa bekerja dengan memakai jas sebagai penampilannya yang berwibawa dan tidak dianggap rendah oleh orang-orang sekitarnya. Namun, ketika dia baru saja bertemu Gito, dia melampiaskan amarahnya karena tidak terima dengan pekerjaan yang diberikan. Lelaki itu merasa direndahkan dan sama sekali tak dihargai. Setelah beberapa saat dia pergi dari perusahaan Kimia Hesa, Hilman langsung membalaskan dendamnya pada Yasmin. Mungkin, cara ini akan berhasil membuat Yasmin bisa kembali lagi padanya walaupun terpaksa. Padahal, hal itu tidak akan mungkin terjadi.
“Jadi begini, Om. Sebenarnya barusan saya juga mau telepon Om Gito, mau bicarain soal pernikahan.”
__ADS_1
“Yasmin, kamu beneran mau rujuk sama Hilman? Terus terang Om tidak akan setuju, apalagi dia sudah ....”
Belum selesai Gito berbicara, Yasmin tertawa pelan mendengar reaksi Gito. Dia mengerti akan maksud lelaki itu yang mulai salah paham.
“Om, Om Gito tenang aja. Sampai kapan pun, Yasmin tidak akan mungkin rujuk dengan Mas Hilman. Tapi, soal pernikahan ... aku memang akan menikah dengan lelaki pilihanku, Om. Lelaki yang berhasil memperlakukan aku dengan baik. Jadi, pernikahan itu rencananya akan dilaksanakan seminggu lagi. Aku harap, Om Gito mau mendampingiku di hari bahagia itu,” terang Yasmin yang disambut rasa syukur Gito yang turut bahagia.
“Saya pasti datang, Yasmin. Syukurlah, akhirnya kamu menemukan lelaki yang mampu membahagiakanmu, semoga semua diberi kelancaran, ya. Om ikut bahagia jika kamu bahagia. Lalu, bagaimana soal Hilman?”
“Terima kasih, Om. untuk Mas Hilman, kita atur rencana supaya dia jera dan tidak akan lagi berbuat nekat, Om."
Sebagai orang terdekat Yasmin yang sangat mengerti kehidupan Yasmin sebelumnya. Gito juga tidak rela jika wanita yang sudah dianggap anak itu menikah lagi dengan Hilman—lelaki yang sudah menyakitinya. Tidak menutup kemungkinan jika hal pahit akan terjadi lagi, mengingat sifat Hilman yang licik dan serakah. Bahkan dia juga nekat menyebarkan berita sepihak tanpa sepengetahuan Yasmin.
Hari berganti, kini Yasmin dan Eza tampak semakin tidak sabar menunggu hari pernikahan yang semakin dekat. Pertemuan mereka tak lepas dari pembahasan tentang konsep pernikahan yang mereka mau. Meskipun hanya syukuran, tapi Yasmin ingin hari bahagia itu dilaluinya dengan sempurna bersama dengan orang terkasih.
“Apa ada masalah dengan berkas pengajuan pernikahan itu, Pak?” tanyanya kaget sembari memelankan suara dan memandang sekitar. Waspada jika ada yang mendengar pembicaraannya.
“Iya, kami mohon maaf atas kesalahan tersebut karena tidak meneliti berkas dengan saksama, jadi dimohon secepatnya datang ke KUA untuk penjelasan lanjutan.”
“Baik, terima kasih, Pak.”
__ADS_1
Eza pun memasukkan lagi ponselnya ke saku. Kemudian, lelaki itu menelepon Yasmin untuk memberi kabar tentang pihak KUA yang menyuruhnya untuk datang.
“Senja, nanti kamu sudah tidak mengajar lagi, kan?” Setelah ini kita harus pergi ke KUA, ada hal penting yang harus dibahas,” tutur Eza tampak berbisik.
“Baiklah, nanti kita bicarakan lagi, kita bertemu di tempat biasa sebentar lagi.” Yasmin pun langsung mematikan telepon tersebut.
Tanpa disangka-sangka, ternyata percakapan Eza tidak sengaja didengar oleh seseorang yang berada di balik pohon.
“Hai, Za!” sapa seorang gadis dengan pakaian sedang memeluk buku, yang tak lain adalah Lisa.
Gadis itu tampak terkejut begitu mendengar Eza membahas soal pernikahan, dia yang penasaran pun langsung bertanya pada lelaki itu. Perasaannya yang lama terpendam kini setengah hancur begitu tahu Eza akan menikah. Akan tetapi, dia menepis pikiran itu, dan mencoba berpikir positif jika yang didengarnya barusan tidak benar.
“Hei, sejak kapan kamu di situ?” tanya Eza tampak sedikit panik, dia berharap gadis itu tidak mendengar pembicaraannya dengan Yasmin.
“Aku ... apa benar yang aku dengar barusan, Za. Kenapa kamu membahas pernikahan? Apa kamu mau menikah?” Lisa bertanya tanpa basi-basi, dia begitu penasaran dengan jawaban Eza.
Eza yang tampak gelagapan pun akhirnya memilih untuk menghindar, toh dia juga tidak menyebut nama Yasmin saat telepon tadi. Jadi, Lisa tidak mungkin tahu dengan siapa ia menerima telepon.
“Menikah?” Eza tertawa dan melanjutkan, “Mana mungkin aku menikah sekarang, sepertinya kamu salah dengar, Lis. Kalau begitu, aku pergi dulu, ya! Buru-buru soalnya, bye!”
__ADS_1
Eza pun berjalan tergesa-gesa menjauh dari Lisa, sesekali menengok ke belakang—khawatir jika gadis itu mengikuti langkahnya.
...***...