
...***...
Baru saja Yasmin hendak membalas lagi, tiba-tiba ada panggilan masuk. Yasmin menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. Dia berpikir Eza tidak bisa bersabar.
“Halo,” sapa Yasmin setelah menggeser tombol layar ke atas, menerima telepon itu.
“Senja, kamu ke mana aja, sih? Kenapa lama balasnya? kamu nggak apa-apa, kan? atau kamu sakit?” Eza terus menghujani pertanyaan pada Yasmin.
“Langit, aku sibuk sejak tadi. Jadi nggak sempat cek HP,” jawab Yasmin dengan seolah menggerutu. Dia sedikit risih dengan cara perhatian Eza. Namun, disisi lain, hal itu sangat dirindukan jika sehari saja tidak mendapat ocehan pria itu.
“Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa. Nanti malam, sudah nggak sibuk, kan?”
“Emm .... nggak. Memangnya kenapa? Jangan bilang kamu mau mengajakku lagi. Aku capek, Langit.” Yasmin menjatuhkan tubuhnya di ranjang sembari menghembuskan napasnya, dia tampak lelah.
“Kali ini, aku tidak akan membuatmu capek dan sakit lagi. Aku cuma mau nunjukin kamu beberapa lukisanku. Kamu belum pernah ke Malioboro juga, kan, sebelumnya?”
“Belum sih, tapi aku capek. Bisa nggak lain kali aja?”
__ADS_1
“Aku nggak mau nunggu seminggu lagi, senja. Lagipula kita pergi besok siang, karena aku hanya akan ke Malioboro hari Minggu saja.” Ucapan Eza tampak begitu lembut, tetapi sedikit menekan agar Yasmin mau ikut bersamanya.
“Ya, ya, baiklah. Aku mau,” kata Yasmin pasrah. Wanita itu memang selalu luluh jika Eza sudah memaksa, entah kenapa dia sulit sekali untuk menolak meskipun sudah berusaha, pada akhirnya dia pasti akan mau.
Keesokan harinya, jam menunjukkan pukul tiga sore. Yasmin sudah siap untuk menunggu kedatangan Eza. Seperti biasa, Yasmin hanya mau dijemput di gang. Dia paling takut berurusan dengan orang desa yang nyatanya suka mencampuri urusan orang lain. Menjaga imej memang begitu sulit, apalagi mengingat sebentar lagi Yasmin akan menjadi orang yang di kenal di desa itu, setelah membuka klinik kesehatan.
Hampir tiga puluh menit mereka melewati jalanan yang cukup padat karena bersamaan dengan cuti sekolah. Banyak bus-bus dan juga kendaraan beroda empat yang memenuhi kota Jogja.
Teras Malioboro, begitulah sekarang julukan tempat untuk pedagang kaki lima yang sebelumnya berada di emperan toko sepanjang jalan Malioboro. Terletak di ujung jalan paling selatan dan utara. Dua tempat tersebut cukup ramai dan sangat diminati wisatawan untuk berbelanja mulai dari makanan, souvenir, juga pakaian khas Jogja.
“Sekarang hari Minggu, Senja. Memang weekend sangat ramai pengunjung. Apalagi kalau bersamaan dengan anak sekolah yang sedang melakukan study tour. Pasti semakin sesak.” Eza menggenggam tangan Yasmin. tetapi wanita itu menolaknya karena malu. Dia juga takut jika ada anak didiknya yang mengetahui.
“Jangan bergandengan, takut nanti ada anak kampus yang melihat.”
“Senja, ayolah! Mana mungkin orang sebanyak ini akan memperhatikan kita? Kamu nggak mau, kan, hilang dibawa orang? Bagaimana jika nanti ada lelaki lain yang menggandengmu?” kalimat Eza sontak membuat Yasmin tertawa karena keheranan.
“Bisa-bisanya kepikiran sampai situ, nggak mungkinlah. Bilang aja kamu mau modus!” Yasmin terkekeh dengan lirikan khasnya, tetapi bibirnya sedikit melengkung memperlihatkan senyuman tipisnya.
__ADS_1
Melihat respons Yasmin dan juga senyumannya, seketika meluluhkan hati Eza. Lelaki itu terus melirik ke sampingnya, menikmati setiap mimik wajah Yasmin dan ekspresinya.
Eza tetap menggandeng tangan Yasmin, sesekali merangkulnya, melingkarkan tangannya ke pinggang. Kali ini tak ada penolakan dari Yasmin, dia hanya pasrah dengan apa yang Eza buat, karena cukup ramai orang yang memasuki kawasan tersebut. Lelaki itu cukup posesif untuk melindungi Yasmin agar tidak berdesakan dan bersenggolan dengan kaum adam yang berpapasan di jalan yang cukup sempit.
“Tempat kamu melukis di mana? Masih jauh nggak?” tanya Yasmin.
“Kita naik ke atas, nanti belok kanan sedikit, nggak jauh kok. Kenapa? Capek? Mau kugendong?”
“Jangan macam-macam, ya!” Lagi-lagi Eza dibuat tertawa oleh Yasmin, wajah galak wanita itu bagaikan candu baru untuk Eza. Begitu senang dia menggoda Yasmin, terlihat sangat menggemaskan jika wanita itu sedang marah.
Sesampainya di gerai lukisannya, ada satu temannya yang juga tengah menunggu gerai tersebut, tempat itu memang digunakan untuk bergantian, mengingat jadwal mereka yang memang mempunyai kesibukan masing-masing selain melukis.
“Bro, aku tinggal, ya!” ucap teman Eza yang tengah mengalungkan tasnya dan hendak pergi karena Eza sudah datang menggantikan posisinya.
“Oke, hati-hati-hati di jalan.” Eza pun menepuk bahu temannya itu yang langsung dijawab dengan isyarat ibu jari pertanda ‘oke’. Lelaki itu pun pergi tampak tergesa-gesa. Namun, tak lupa dia menyapa Yasmin dengan senyuman ramah.
...***...
__ADS_1