Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Kecurigaan Suci


__ADS_3

...Haii haiii Readers...


...🤗...


...Author kembali menyapa .......


...Apa kabar kalian nih. Semoga sehat selalu dan tetap bahagia.......


...Kali ini Author mau mengundang kalian semua bergabung di Grup Chat Author ya......


...Namanya...


...'Grup MamGemoy in house'...


...Caranya masuk. Klik profil Author, di bagian bawah nama ada grupnya, Klik aja ya ☺️...


...Akan ada banyak kotak Hadiah setiap harinya....


...Dan juga Author akan mengadakan Gift Away rutin....


...Info akan di kirimkan di dalam grup. Kalian nggak mau ketinggalan kan?🤗...


...Oya, grupnya bebas kok, nggak akan ada peraturan yang memberatkan. Boleh ngobrol apa aja. Asal tetap jaga kesopanan.......


...Jangan lupa, Dukung Terus Yasmin Dan Eza ya.......


...Like, Komentar yang banyak ☺️...

__ADS_1


...Cukup sekian......


...Terima kasih...


...❤️❤️❤️...


Salam dari Eza dan Yasmin 😘




***


...***...


Suci menuntun tubuh Yasmin, membawanya duduk di ruang tengah. Tadinya ruangan itu adalah tempat untuk bersantai. Kini digunakan untuk ruang tunggu pasien. Yasmin juga meletakkan TV di sana, agar pasien tidak akan bosan menunggu antrian. 


Suci pun duduk di samping Yasmin. “Kamu kenapa muntah terus dari kemarin? Kamu pusing nggak? Masuk angin atau gimana?” tanya suci, matanya sedikit menelisik tubuh Yasmin.


“Yasmin, ceritalah, apa yang terjadi. Siapa tahu kamu akan lega jika bercerita, tapi kalau memang itu sangat privasi. Aku tidak akan memaksamu.” Suci mengelus lengan Yasmin, perhatiannya seperti seorang kakak ke adik. Kecurigaan Suci dengan kondisi Yasmin sekarang, membuatnya enggan memutuskan sendiri sebelum Yasmin berkata jujur padanya. 


Yasmin yang mendengar penuturan Suci pun terkejut, dia berpikir Suci memang sudah mengetahui kehamilannya, tetapi untuk bercerita ... dia mengurungkannya. Yasmin hanya terdiam dan menatap wajah Suci, antara bimbang harus jujur atau tidak. Meski sudah menjadi orang kepercayaannya, Yasmin tidak begitu mudah untuk membuka aib yang baginya cukup memalukan itu. 


“Yasmin, boleh Mbak tanya?” 


Jantung Yasmin seakan berdetak lebih kencang, entah kenapa dia seperti memendam kesalahan yang begitu besar dan akan terbongkar saat ini juga. 

__ADS_1


“Apa, Mbak?” 


“Dari kemarin, aku penasaran dan cukup bisa  membaca gerak-gerik anak didik kamu. Kalau nggak salah namanya Eza. Dia yang mengangkatmu ketika pingsan kemarin, kamu tahu ... tatapannya begitu dalam. Dia tampak khawatir dan sangat cemas akan keadaanmu. Apa kalian ...? Dan dia jua memanggilmu ‘Senja’. Apa itu nama kamu?”


Sudah pasti, semua memang akan terungkap juga. Untuk kali ini, Yasmin akan berterus terang, setidaknya bukan soal kehamilan yang menjadi aib besar baginya. Lagi pula percuma juga Yasmin menyembunyikan, toh Suci sudah bisa menebak dan mengetahui semuanya sebelum Yasmin bercerita. Dia seolah bisa menebak jika dia dan Eza menjalin hubungan.


“Iya, Mbak.” Yasmin menghembuskan napas perlahan, menyiapkan kalimat selanjutnya yang akan dia katakan. “Aku dan Eza memang pacaran, tapi ... mungkin semuanya akan berakhir.” 


Suci mengerutkan keningnya. “Maksud kamu?”


“Ya, mungkin Mbak Suci merasa aneh melihat seorang janda berpacaran dengan seorang pemuda, apalagi dia anak didikku. Aku juga tidak paham kenapa bisa memiliki rasa padanya, Mbak. Entah dari mana datangnya, aku menolak pun rasanya seperti menyiksa diriku sendiri.” Yasmin tertunduk setelah mengatakan semua itu. Dia merasa sangat malu.


Melihat raut wajah Yasmin yang terlihat jujur dengan ucapannya, Suci pun memberikan kesimpulan. "Yasmin, aku tidak pernah sama sekali berpikir buruk tentang suatu hubungan. Bagiku, umur bukanlah segalanya. Sekarang yang penting, lelaki itu bisa terima kita apa adanya dan tidak menyakiti, itu sudah lebih dari cukup buat aku pribadi. Dan, jika memang kalian saling cinta, kenapa kamu akan menjauhinya, baru saja kamu bilang, kamu tersiksa jika menolaknya.”


Suci sadar, Cinta memang tak bisa dikendalikan. Dia sendiri pernah merasakannya. Wajar atau tidak suatu hubungan, jika dua orang yang saling mencintai nyaman menjalankannya. Tak ada yang salah, tidak akan pernah salah.


“Soal itu .... maaf aku belum bisa cerita sekarang, Mbak.” Lagi-lagi Yasmin tertunduk. Lidahnya seakan sulit untuk berkata-kata.


"Baiklah, jika kamu belum bisa cerita sekarang. Tapi sepertinya kamu sudah tau, aku sudah bisa menebak apa yang terjadi padamu. Aku hanya bisa mengatakan, jika kamu butuh bantuan, atau teman untuk bercerita. Aku akan ada untuk kamu. Itupun jika kamu percaya padaku. Soal apa yang aku ketahui sekarang, aku berjanji akan menjaga rahasia kamu. Itu juga yang kamu mau, kan?" 


Perkataan Suci sungguh membuatnya tubuh Yasmin bergetar. Dia lantas memeluk Suci dan melepaskan tangisan di bahu wanita itu. 


"Benar, Mbak … tebakan kamu benar! Terima kasih sudah mau merahasiakannya! Semua ini sangat berat untukku Mbak. Aku janji akan jujur pada Mbak Suci, tapi bukan sekarang. Sepertinya aku butuh untuk menenangkan diri dulu." Yasmin menangis tersedu-sedu. Bahu Suci terasa nyaman untuknya berkeluh kesah.


"Iya, Yasmin. Mbak mengerti. Kamu yang sabar. Apapun masalah yang kamu hadapi sekarang, semoga akan ada jalan keluarnya." Suci menepuk pundak Yasmin perlahan. Dia sepertinya juga akan menangis, matanya sudah mulai berkaca-kaca. Suci ikut membayangkan, penderitaan seperti apa yang Yasmin hadapi sekarang.


"Terima kasih sekali lagi, Mbak."

__ADS_1


...***...


__ADS_2