Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Penjelasan


__ADS_3

...***...


Sementara di sisi lain, Yasmin masih terkejut karena tiba-tiba Eza mematikan telepon. Rasa kantuk yang tadi menguasainya seketika hilang setelah mendengar penuturan Eza akan datang. Yasmin tentu panik, bagaimana jika ada yang melihat kedatangan Eza di tengah malam begini. Tanpa berpikir panjang, Yasmin mengetikkan pesan pada Eza.


"Langit, jangan ke rumah, kita bertemu di luar saja."


Tampaknya Eza masih belum berangkat, pesan Yasmin langsung mendapatkan balasan selang beberapa detik kemudian.


"Oke, ke cafe di dekat jalan masuk kampung, yang sebelah pom bensin."


"Baiklah."


Yasmin mulai menebak-nebak, hal mendesak apa yang membuat 'Langitnya' mendesak untuk bertemu. Yasmin mulai berpikir tentang berita bohong yang Hilman sebarkan. Apakah itu sudah sampai di telinga Eza? Dengan sedikit merasa bersalah, Yasmin meninggalkan rumahnya. Seharusnya dia menceritakan lebih awal, walau dia yakin Eza akan mempercayainya, dan berita itu hanya bualan Hilman. Namun, dia sudah tidak berterus terang tentang apa yang terjadi. Lagi-lagi Yasmin melakukan hal itu.


Wanita itu kemudian bersiap, sementara Eza juga langsung mengendarai motornya dengan laju. Di perjalanan, pikiran Eza kalut, tak ada sesuatu yang lain yang dipikirkannya kali ini kecuali Yasmin.


Sepuluh menit berlalu, Eza kini sampai di kafe tersebut, sedangkan Yasmin sudah duduk di meja paling ujung sudut ruangan. Yasmin melihat kedatangan Eza dan langsung menelpon, menyuruh datang ke meja yang ditempatinya saat ini.


Wajah gelisah, serta menahan emosi, kini diperlihatkan Eza. Lelaki itu tampak gusar dan menghela napasnya kasar. Dia pun duduk di depan Yasmin yang terhalang meja. Tatapannya nyaris membuat Yasmin takut, kemarahan Eza kali ini memang sangat sulit ditebak. Bahkan, Yasmin belum berani mengatakan sesuatu sebelum lelaki itu memulainya.


"Katakan semuanya dan jangan ada satupun yang kamu tutupi, Senja!"


"Maksud kamu apa, Langit?"


"Harusnya aku yang nanya, maksud kamu apa menyembunyikan ini semua? Apa ... kamu membohongiku soal anak itu, Senja?"

__ADS_1


Eza tidak bermaksud meragukan Yasmin, tapi kali ini dia ingin semua jelas. Apa karena Yasmin wanita yang lebih dewasa darinya, maka tidak perlu memberitahu semuanya?


"Langit! Jangan emosi. Bisa nggak kamu dengerin aku dulu? Dan masalah anak, apa kamu masih meragukannya, hah?"


"Aku sama sekali tidak meragukan anak itu, Senja. Tapi kamu yang membuat aku berpikir dua kali karena kamu nggak berterus terang soal Hilman. Mau sampai kapan kamu akan terus menyimpan semua masalah dan rahasia kamu?"


Yasmin masih terdiam, dia juga cukup bingung harus mulai berbicara dari mana. Selang beberapa saat, seorang pelayan kafe datang mengantar dua gelas minuman, Yasmin juga memesankan minuman hangat untuk kekasihnya itu.


"Minum dulu, Langit. aku akan menjelaskan semuanya," tutur Yasmin seraya meraih gelasnya.


"Sebenarnya aku memang belum sempat memberitahumu soal ini. Aku minta maaf. Jangan marah, ya." Yasmin mencoba merayu Eza, dia menggenggam tangan lelaki itu.


"Senja, tolong bilang sejujurnya, benar, kan, itu anakku? Aku tidak mau ada kebohongan yang kamu tutupi lagi. Mau itu anakku atau bukan, yang jelas aku akan tetap menikah denganmu karena cinta."


Yasmin sedikit terhenyak dengan perkataan Eza. Apakah berita itu telah mempengaruhinya separah ini? Yasmin tau Eza tidak maksud meragukannya. Eza hanya ingin penjelasan dan pengakuannya. Wanita itu berusaha mengendalikan dirinya, tetap tenang dan berpikir dengan jernih.


"Lalu, kenapa Hilman menyebarkan berita itu? Kalau saja tadi Dion tidak memberitahuku, mungkin sampai nanti kamu juga nggak akan menceritakan hal ini."


Eza terus menatap lekat manik indah Yasmin yang tampak memelas, mengharap maaf. "Hilman mungkin kecewa karena pekerjaan yang dia minta tidak sesuai harapannya, jadi mungkin saja dia memilih cara ini untuk membuatku mendatanginya ke Jakarta."


"Tapi, dia tahu dari mana kehamilan kamu?"


"Waktu itu, aku memang ceroboh. Dia masuk ke ruang kerjaku, bersamaan dengan saat aku membaca hasil cek kehamilan. Jadi, dia menggunakannya untuk mengancamku untuk mendapatkan pekerjaannya di perusahaanku."


"Senja, aku nggak tahu harus gimana lagi supaya kamu nggak selalu membuatku kecewa. Sebenarnya, kamu menghargaiku sebagai kekasihmu atau tidak? Sudah berapa banyak rahasia yang kamu simpan? Apa masih ada lagi? Mau sampai kapan kamu menyembunyikannya dariku? Apa kamu ingat, sejak di Bali, kamu menyembunyikan perasaanmu, setelah bertemu, kamu merahasiakan kehamilanmu, saat kita dekat, kamu menutupi identitas aslimu, masalah Galang juga. Dan sekarang lihatlah, kamu bahkan menyembunyikan tentang Hilman, Senja. Aku benar-benar nggak habis pikir, apa sebegitu tidak pentingnya aku dimata kamu?"

__ADS_1


Eza terus berbicara panjang lebar tanpa memberi kesempatan Yasmin untuk menjawabnya. Lelaki itu kemudian mengusap kasar wajahnya, dia seolah sudah habis kesabaran dengan Yasmin yang selalu menyembunyikan sesuatu dan tidak terbuka sama sekali terhadapnya.


"Langit, aku minta maaf. Jangan seperti ini. Aku hanya ...." Yasmin mulai meneteskan air matanya karena rasa bersalah terhadap Eza.


"Shtt ... jangan menangis, Sayang. Aku paling nggak bisa melihat air mata kamu jatuh."


Entah apa yang membuat Yasmin begitu rapuh, dia memang bersalah. Jika menengok ke belakang, dia bahkan sangat sering menutupi sesuatu terhadap Eza. Kali ini, dia sadar jika itu tidak benar--mengingat Eza adalah kekasihnya yang sebentar lagi menjadi pendamping hidupnya.


Eza pun kemudian beralih tempat duduk di samping Yasmin, dia lantas merangkul lengan Yasmin dan mengelusnya. Satu tangannya tergerak menyeka air mata wanita itu. "Maaf, bukan maksudku untuk memarahimu, maaf jika aku sudah melukai hatimu, Sayang. Aku cuma ingin kamu jujur, hanya itu."


"Aku minta maaf, Langit. Selama ini memang aku salah, aku terbiasa tertutup dari dulu, aku hanya belum terbiasa mencurahkan semuanya pada siapapun kecuali Santi. Hanya dia yang bisa mengerti aku selama ini, sudah belasan tahun aku bersahabat dengannya. Tapi, aku janji, setelah ini aku tidak akan menyembunyikan apapun dari kamu. Sekali lagi, aku minta maaf."


"Baiklah, aku bisa mengerti, Sayang. Tapi, ingat ya, sebentar lagi aku bukan hanya menjadi kekasihmu, tapi 'suami' jadi, aku harap kamu mau berbagi apapun padaku."


"Aku janji. Jangan marahi aku lagi." Yasmin memasang wajah melas hingga membuat lelaki itu kasihan.


"Aku juga minta maaf ya karena sudah emosi tadi. Lalu, masalah Hilman ... apa aku harus menghajarnya sekarang juga? Aku bisa ke Jakarta malam ini juga, Sayang. Dia benar-benar menantangku, sudah aku peringatkan untuk tidak mengganggu hidupmu, sekarang berani sekali dia." Eza merasa geram dan berniat mendatangi lelaki itu.


"Jangan gegabah, Sayang. Kita pean-pelan saja. aku punya rencana, nanti kita akan ke Jakarta sama-sama, tapi aku nggak akan mengenalkanmu di khalayak umum. Apa kamu keberatan? Maksudku, aku tidak ingin nama baik keluarga kamu tercemar gara-gara kamu menikah denganku. Bukankah mereka juga ingin pernikahan ini dirahasiakan? Setidaknya untuk sekarang. Jadi, tidak mungkin aku membawamu nanti saat jumpa pers, bagaimana? Kamu setuju nggak?” tanya Yasmin yang mengusulkan rencana yang sudah ia susun sejak dirinya mendengar berita tersebut.


"Hem, baiklah. Aku menurut saja. Tapi, untuk urusan Hilman, aku ingin kamu tidak mencampuri urusan laki-laki itu, Sayang."


"Kamu mau apakan dia, Langit? Jangan berbuat nekat! Ingat kita punya hukum negara."


"Hanya ingin sedikit bermain-main, Sayang. Kamu jangan khawatir."

__ADS_1


...***...


__ADS_2