Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Bermanja


__ADS_3

...***...


Beruntung, Yasmin dan Eza saat ini ada di restoran hotel, sehingga memudahkan Yasmin untuk beristirahat di sana setelah Eza memesan kamar untuk wanitanya.


“Kamu istirahat dulu, ya, Sayang,” ucap Eza seraya menuntun Yasmin untuk duduk di ranjang berukuran doble.


Yasmin hanya bisa menurut apa kata Eza, lagi pula dirinya memang tengah lemas sekarang, kondisinya memang sulit ditebak sejak kehamilan trimester pertama ini. Yasmin kemudian berbaring, sedangkan Eza duduk di samping wanita itu, mengelus pucuk rambutnya dengan penuh kasih.


“Maaf, ya, gara-gara kondisiku seperti ini, kita jadi nggak bisa menikmati liburannya.” Yasmin menatap Eza merasa bersalah.


“Sudah, Senja, jangan pikirkan liburan. Pikirkan kondisimu sekarang, besok masih ada hari lagi untuk kita menikmati alam indah ini. Jadi, sekarang kamu nggak usah memikirkan apapun, tidurlah!”


“Terima kasih.”


Tak terasa, tiga jam telah berlalu, kini Yasmin terbangun dari tidurnya. Wanita itu mengerjap, posisinya miring tepat berhadapan dengan Eza yang juga tengah berbaring miring menghadap padanya. Perlahan, Yasmin menyadarkan pikirannya, matanya juga mengerjap berkali-kali seperti kebingungan karena ada Eza di sampingnya.


“Udah enakan?” tanya Eza.


“Hem, udah.” Yasmin menjawab singkat. “Aku hampir lupa kalau aku sekarang sedang bersamamu,” ucap Yasmin sambil tersenyum tipis.


“Kamu memang menggemaskan, bangun tidur pun, kamu bisa menarik perhatianku.” Telapak tangan Eza menopang kepalanya, sedangkan tangan satu lagi mengelus lembut pipi Yasmin.


Wanita itu pun mendekat, dia mendekat ke dada Eza, tangannya melingkari pada perut lelaki itu. Sesaat kemudian, Yasmin memejamkan mata, menikmati pelukan hangat dan nyaman yang sudah lama tak dirasakan, ditambah lagi aroma parfum khas yang begitu melekat di tubuh Eza, membuatnya semakin tergoda untuk terus berdekatan dengannya. Eza pun mendekap wanita itu dengan erat. Entah apa yang dipikirkan saat ini, seharusnya jalan hidup yang dilalui seperti ini memanglah dilarang, berduaan tanpa menikah. Namun, seolah bisikan setan membuat mereka terlena akan rayuan cinta satu sama lain.


Yasmin memanggil Eza dengan manja dan sedikit mendongakkan kepalanya. “Sayang ...”


“Ya?” Eza tersenyum, sangat jarang sekali di mendengar Yasmin memanggilnya dengan panggilan itu. “Aku lapar, bolehkan memesan makanan? Tadi. Kan, aku belum jadi makan.”

__ADS_1


“Iya, boleh dong, Sayang. Apa pun yang kamu mau makan, pesanlah sesukamu!”


Yasmin pun melepas dekapan Eza dan beringsut duduk. Wanita itu lalu melihat buku menu yang sudah diambilkan Eza dari meja. Yasmin kali ini memilih makanan biasa yang menurutnya tidak akan mual jika mencium aromanya. Meski dan ragu takut akan muntah lagi, tetapi dia harus memaksakan diri untuk makan, demi kesehatan janin yang ada dalam kandungannya.


Tak lama kemudian, makanan pun datang. Kali ini, dia dengan lahap memakan semua makanan yang dipesan, begitu pun dengan Eza, dia juga mengisi perutnya setelah tadi gagal makan lagi karena mengurus wanitanya. Makanan tadi siang belum cukup membuatnya kenyang, karena Yasmin telah merebutnya.


Yasmin sesekali membuka mulutnya untuk di suapi oleh Eza. Tingkah manjanya kali ini benar-benar disukai Eza, padahal jika di luaran sana, saat bersama dengan orang lain, Yasmin akan bersikap sangat berbeda.


“Kenapa kamu sangat manja sekali, Senjaku. Kamu membuatku semakin gemas,” tegur Eza saat Yasmin fokus mengunyah sambil menonton televisi.


“Apa bermanja dengan kekasih sendiri itu dilarang? Atau … kamu lebih suka jika wanita lain yang bermanja denganmu?” tatapan Yasmin melirik sedikit sinis, tetapi Eza malah tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Yasmin.


Selesai menyantap makanan dan menaruh trolly di luar kamar, keduanya masih duduk di kursi, tetapi Yasmin sibuk dengan ponselnya. Wanita itu tengah bergelayut manja di tubuh kekar Eza, bersandar pada dada bidang lelaki itu. Sofa yang cukup panjang mampu menampung kaki keduanya untuk berselonjor. Walau tubuhnya terasa sesak dan terhimpit tubuh Yasmin dari belakang, Eza sangat menikmatinya. Dia juga sesekali memperhatikan Yasmin sedang menggeser-geser layar, memperlihatkan berbagai konten di media sosialnya.


“Senja, nanti malam mau jalan-jalan nggak?” Eza berkata sembari mengalungkan tangannya di bawah leher Yasmin dan mengecup pucuk kepala Yasmin.


“Baiklah, nanti aku akan cari tempat yang bagus.” Kedua tangan Eza lalu mendekap Yasmin dari belakang, dia merasa sangat gemas pada wanita itu.


“Langit, sesak napas, nih!” sungut Yasmin.


“Entah, hari ini kamu sangat menggemaskan, Senja. Rasanya aku ingin memakanmu, andai aku bisa memilikimu seutuhnya sekarang, pasti aku akan sangat bahagia.”


Yasmin terkekeh, dia mendongak melihat Eza. Barisan kalimat yang dilontarkan Eza seolah membuatnya terkesiap—teringat akan sesuatu yang begitu penting yang sejak kemarin sangat mengganggu pikirannya.


“Langit, aku mau bertanya sesuatu,” ucap Yasmin sembari beringsut. Kini keduanya duduk saling berhadapan.


“Tanya apa, Sayang?”

__ADS_1


“Hem ... target nikah kamu umur berapa?” tanya Yasmin yang tujuannya untuk memancing jawaban Eza sebelum dia berterus terang soal kehamilannya.


“Aku ingin menyelesaikan kuliah dulu, sukses, dan setelah itu, aku akan menikahimu, Senja. Kamu mau menungguku, kan?”


Mendengar ucapan Eza, cukup membuatnya tercengang dan menghela napas panjang. Sepertinya harapannya kali ini untuk berkata jujur akan tertunda. Sudah sangat jelas, secara tidak langsung Eza belum siap untuk bertanggung jawab untuk sekarang ini. Akan tetapi, meskipun begitu, Yasmin sedikit ada rasa bahagia karena Eza mempunyai niatan untuk menikahinya.


“Senja, kenapa bengong?” tanya Eza saat Yasmin terdiam membisu, terpaku di tempat dana hanya menatap mata Eza.


Lelaki itu pun menjentikkan jarinya. “Sayang!”


“Ah, ya!” seru Yasmin sedikit terkejut.


“kamu belum jawab pertanyaanku, kamu mau menungguku, kan?” Eza memperjelas pertanyaannya, dia juga sedikit berpikir bahwa umur Yasmin bukanlah remaja yang beranjak dewasa, umurnya sudah begitu matang, khawatir jika wanita itu enggan menunggu terlalu lama untuk menikahinya.


“Hem, ya. Aku akan mencoba bersabar, Langit. Tapi, aku tidak bisa seratus persen memegang perjanjian karena masa depan tidak akan ada yang tahu nasibnya.”


“Kenapa bicara seperti itu? Apa kamu tidak yakin denganku? Atau kamu akan menerima lamaran lelaki lain?” Eza menggenggam kedua lengan Yasmin dan menatapnya lekat.


“Hish, bukan begitu, Langit. Aku hanya ... aku tidak tahu nanti umurku akan bertahan lebih lama atau tidak, jadi jika aku mati cepat, kamu tidak akan bisa memilikiku.”


Eza meletakkan jari telunjuknya ke bibir Yasmin. “Ssttt ... kenapa kamu bicara seperti itu, Senja? Jangan membuatku takut. Apa kamu sakit? Aku pasti akan menjadikanmu istri suatu hari nanti. Bersabarlah menunggu!”


Meskipun dada Yasmin seolah sesak mendengar penuturan Eza, tetapi dia berusaha untuk menerimanya. Kemungkinan terbesarnya, anak yang dikandungnya sekarang tidak akan memiliki ayah yang sah meski sudah tahu ayah biologisnya.


“Aku tidak sakit, Langit."


Tak atau apakah yang dia lakukan ini benar, Yasmin seakan berada dalam pilihan yang sulit.

__ADS_1


...***...


__ADS_2