Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Manis dan pahit


__ADS_3

...***...


Dua hari lagi, waktu yang tersisa untuk Yasmin dan Eza menghabiskan waktu bersama. Hari kelima, Eza membawa Yasmin ke tempat yang ingin wanita itu kunjungi. Liburan Yasmin yang semula dia pikir akan biasa-biasa saja, menjadi terasa spesial setelah bertemu dengan Eza. Apalagi sekarang telah tumbuh rasa yang semula gak ingin lagi dia miliki.


Hari ke enam ini, mereka mengunjungi pusat perbelanjaan yang mewah, berada di Seminyak. Yasmin membeli beberapa pakaian Bali dan juga souvenir ciri khas Bali. Untuk dia jadikan oleh-oleh pulang nanti.


Saat melewati sebuah toko yang menjual pernak-pernik, Yasmin memberhentikan langkahnya. Dia menarik tangan Eza masuk ke toko itu itu. Deretan kalung cantik menarik perhatiannya. Sambil Yasmin menimbang-nimbang pilihan, Eza pun ikut memilih dengan matanya.


Wanita memang kurang afdol jika berlibur tanpa berbelanja. Eza telah menenteng beberapa paper bag hasil belanjaan. Kebahagiaan tergambar jelas di wajah mereka. Dua orang asing yang tidak saling mengenal beberapa hari lalu, kini seperti dua insan yang tengah di madu asmara.


“Senja, lihat ini! Bagus, cocok buat kamu!” seru Eza menunjukkan satu kalung yang terbuat dari mutiara.


"Ah ... ini sangat lucu. Kamu pintar memilih sesuatu. Kamu sangat mengerti apa yang aku mau." Dia mengambil kalung dari tangan Eza dan mendekatkan ke dadanya. Kalung mutiara berwarna putih itu sangat menarik di matanya, mewah.

__ADS_1


“Sini, coba aku pakaikan,” tawar Eza, tangannya terulur siap menerima kalung itu.


Yasmin memberikannya dan dengan semangat dia menyingkap rambut ke atas lalu membalikkan badan. Sambil melihat ke cermin, Yasmin memperhatikan pantulan wajah Eza dari sana. Sempurna, batinnya. Eza yang sadar jika diperhatikan sejak tadi, mengedipkan matanya sedikit genit.


Yasmin pun tertawa, “Kamu kenapa sih, Langit?”


“Kamu terus menatapku, kamu pikir aku nggak tahu?” Eza juga menatap wajah cantik itu dari cermin, lalu mendekatkan wajahnya. “Hati-hati, nanti kamu jatuh cinta.” Bisik Eza tersenyum tepat di telinga wanita itu dan tertawa sangat menggoda.


“Enak aja! Justru kamu yang akan jatuh cinta kepadaku.” Yasmin semakin menyimpulkan tawanya sambil terus bercermin melihat penampilannya dengan kalung mutiara itu.


“Maksudnya? Rasa apa?” Yasmin membalikkan tubuhnya dan menatap Eza. "Apa dia juga menyukaiku?" batin Yasmin bertanya.


“Rasa manis dan pahit. Hahaha ....” Eza mengalihkan pembicaraannya, dia tersadar akan ucapan spontannya beberapa detik yang lalu.

__ADS_1


“Kamu apaan sih! Garing banget deh!” Yasmin memukul pelan dada Eza dan tersenyum. Ada sedikit rasa kecewa.


"Senja, kamu wanita yang sangat menarik, kamu mampu bersemayam di hatiku sejak kita bertemu pertama kali. Ingin sekali aku mengenal dirimu yang sebenarnya. Jika, rasa ini aku ungkapkan, apa kamu akan menerimanya?" ungkap Eza dalam hati.


Yasmin menyerahkan kalung di tangannya pada si penjual. Dia berniat membayarnya.


"Senja, sudah kubilang, aku akan membayarnya untukmu. Menurutlah!” Eza menurunkan tangan Yasmin yang hendak mengeluarkan uang dari dompet.


"Baiklah. Terima kasih, padahal aku masih mampu membayarnya sendiri," gerutu Yasmin. “ Lagi pula, sejak tadi semua juga pakai uangmu. Aku nggak enak."


Sejak tadi Eza memang tidak mengizinkan wanita itu membayar apapun yang dibeli. Yasmin bahkan tidak mengeluarkan uang sepeser pun.


"Sssttt ... diamlah. Jangan membuatku makin gemas padamu. Jika banyak bicara, kamu semakin lucu.” Jari telunjuk Eza menempel di bibir Yasmin, menyuruhnya diam. Lagi-lagi, pria itu mengedipkan mata, membuat Yasmin tersipu.

__ADS_1


Setelah selesai berbelanja, mereka kembali ke hotel. Mereka ingin beristirahat sejenak sebelum kembali ke pantai sore ini. Rencananya mereka akan bermain jetski dan juga fasilitas pantai lainnya.


...***...


__ADS_2