Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Keluar dari rumah


__ADS_3

...***...


Setelah mengatakan kalimat terakhirnya, Eza pun pergi meninggalkan meja makan. Adhitama tak bisa berkata-kata, melihat kekerasan hati istri dan putra semata wayangnya. Yang mana dari keduanya harus dia bela?


Wajah Erna telah memerah karena amarah. "Eza! Berhenti kamu!"


Teriakan mamanya tak di gubris sama sekali. Eza langsung menuju kamarnya di lantai dua. Membereskan beberapa barang yang dia perlukan. Dia akan menginap sementara di rumah kost Dion, sebelumnya dia sudah minta izin jika sekiranya dia terpaksa harus keluar dari rumah. 


Eza menghampiri mama dan papanya yang sedang duduk di ruang keluarga. Tas ransel besar yang biasa Eza gunakan untuk mendaki gunung, telah menggantung di pundaknya. Serta satu koper besar dia seret di samping kanannya. Eza meletakkan kunci mobil, serta kartu kredit di atas meja, tepat di depan mamanya duduk. Wanita itu bersedekap masih dengan wajah marahnya. Keputusan Eza membuatnya tak ingin melihat wajah sang putra. Dia memilih untuk menatap ke arah lain, hati wanita itu begitu keras.

__ADS_1


Sementara Adhitama hanya bisa menatap wajah Eza yang kecewa dengan sikap istrinya. Eza beralih pandang padanya, dia mengangguk kecil, memberi izin pada Eza untuk pergi walau hatinya sangat berat. Dilihatnya, senyum terpaksa tersirat dari bibir Eza. Tak dipungkiri, dia merasa bangga dengan sikap tegas Eza yang memilih jalannya sendiri. Eza seorang pria yang harus bertanggung jawab dengan dirinya sendiri.


Eza menunggu mamanya membuka suara. Kunci dan kartu kredit yang dia letakkan, tak dilirik Erna sama sekali. 


Eza membuang napas panjang. "Ma, Eza minta maaf jika membuat Mama kecewa. Eza pamit, Eza benar-benar tidak bisa menuruti keinginan mama untuk meninggalkan dunia seni. Eza tau, Eza salah telah mengabaikan kuliah dan melanggar perjanjian kita. Eza akan memperbaiki kesalahan Eza tersebut. Demi menghilangkan rasa kecewa mama itu, Eza tetap akan melanjutkan kuliah kedokteran seperti yang Mama mau. Eza akan membuktikan, selain menjadi dokter, Eza juga bisa menjadi seniman. Eza harap Mama tidak mencabut biaya kuliah juga."


Dia diam sejenak. Erna masih diam dengan wajah masam dan menghindari tatapan matanya. "Sekali lagi Eza minta maaf sama Mama, Papa juga." Eza melihat pada Adhitama dan mendapat anggukan dari pria yang menjadi tauladan dirinya itu. Eza tersenyum tipis.


Melihat hal itu, Erna pun tanpa ragu menyerahkan tangannya untuk dicium Eza. Ada sedikit rasa senang di wajah Eza melihat reaksi mamanya yang memberi restu. Walau Erna tak mengatakan sepatah katapun, itu sudah cukup membuktikan, Mamanya mau menerima keputusannya. 

__ADS_1


Eza mencium punggung tangan mamanya tiga kali, serta memberi kecupan di kening sekali. Meski Erna tak beraksi, Eza tetap melakukan hal itu. Kemudian Eza beralih pada papanya. 


"Baik-baik di luar sana, Za. Jangan lupa kasih kabar. Papa percaya, kamu bisa menjaga diri, dan tau mana yang baik dan buruk." Nasehat Adhitama.


"Iya, Pa. Eza akan mengingat kata-kata Papa. Eza titip Mama, mungkin sekarang Mama masih sangat marah. Nanti Eza akan datang lagi mengunjungi Mama dan Papa."


Adhitama menepuk bahu sang putra. Memberi restu dan dukungan dari tatapan matanya. Sementara, Erna mulai bereaksi setelah Eza melangkah pergi. Ada semburat kesedihan dari wajahnya. Namun, kekerasan hatinya, mampu mengalahkan rasa iba sebagai seorang ibu. Erna pun bangkit, dia pun berlalu pergi, masuk ke kamar.


Terdengar helaan napas berat dari Adhitama. Kedua orang terkasihnya sedang berselisih. Pria yang sudah menginjak usia 45 tahun itu, merasakan kesedihan yang dalam. Dia menggelengkan kepalanya. 

__ADS_1


"Semoga Tuhan melindungi Eza di luar sana dan bisa menepati janjinya. Semoga hati Erna bisa melunak setelah merasakan kepergian anak semata wayang kami." Dia Adhitama dalam hati.


...***...


__ADS_2