
...***...
Sementara itu, di dalam kamar. Yasmin bersandar di balik pintu, setelah menutup dengan keras. Terbesit dalam pikirannya, mengingat semua kejadian yang sudah dia lakukan dengan Eza. Hal yang paling ditakutkan kini terjadi, saat dirinya harus jatuh cinta dan terpaksa harus membuang rasa itu jauh-jauh.
"Langit telah pergi, akhirnya perpisahan ini terjadi juga. Maafkan aku, ini juga sangat berat untukku. Tapi kita memang tidak mungkin, kamu terlalu muda." Yasmin membatin dengan napas terengah-engah. Dia memegang dada yang kian sesak.
"Ya, Tuhan … apa yang telah aku lakukan? mengapa aku begitu bodoh membiarkan seorang anak muda menyentuh tubuhku!" Teriak Yasmin memukul dadanya.
Bukankah dia telah mengambil keputusan, akan menerima pria itu? Jarak umur yang Yasmin pikir hanya terpaut lima tahun, tak akan jadi masalah, bukan?
Lalu kenapa sekarang dia berubah pikiran? Hingga tega mengucapkan kata-kata yang menyakitkan pada pria itu.
Yang sebenarnya terjadi tadi malam…
__ADS_1
Yasmin tidak sengaja melihat identitas Eza yang sebenarnya, ketika dia hendak ke kamar mandi. Pakaian berserakan di mana-mana. Miliknya dan milik pria itu. Yasmin menendang benda yang tergeletak di dekat celana Eza. Itu adalah sebuah dompet. Ketika Yasmin mengambil dan meletakkan di meja. Dompet itu terbuka begitu saja. Sehingga identitas yang terletak di bagian atas, terlihat.
Yasmin terkejut, ketika matanya tertuju pada empat angka di bagian tahun kelahiran. Lalu dia membandingkan dengan tahun kelahirannya. Empat belas tahun, perbedaan umur mereka.
Jika hal itu tidak terjadi, mungkin sampai kapanpun Yasmin tidak akan tahu kenyataan ini. Bahwa Eza hanyalah seorang anak yang baru beranjak dewasa. Dan hari ini adalah ulang tahunnya, Eza baru saja berumur dua puluh satu tahun.
Eza lebih pantas menjadi keponakannya, ketimbang seorang kekasih.
Kakinya mulai terasa lemah, lututnya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Yasmin akhirnya luruh dan menjatuhkannya ke lantai.
__ADS_1
Dibiarkan air mata itu jatuh semakin deras, entah berapa banyak. Dadanya semakin terasa sesak, sehingga dia memukul sekuat tenaga, lagi dan lagi. Berharap rasa sakit itu akan berkurang. Yasmin menumpahkan segala sesal, dia mengutuk dirinya sendiri.
"Bodoh, aku memang wanita bodoh. Paling bodohnya lagi, aku menikmati dosa yang seharusnya tidak aku lakukan. Bodohnya aku, bisa jatuh cinta padanya. Eza Aksa Aditama, nama kamu akan kuingat, cukup ingat, bukan untuk mengenang!"
Tak ingin terlalu larut dalam kebodohannya. Yasmin berpikir untuk segera pergi dari tempat itu. Dengan cepat dia mengemaskan barang-barangnya. Dia beranjak seraya mengusap kasar buliran hangat yang membasahi pipinya. Tempat ini terlalu menyakitkan, dia tidak akan pernah kembali lagi ke sini.
Penerbangannya telah dijadwalkan malam ini. Namun, Yasmin memutuskan untuk mempercepat kepulangannya. Yasmin menghubungi resepsionis hotel di lobby. Dia meminta tolong sang resepsionis untuk memesankan tiket pesawat secepatnya agar dia tidak bertemu lagi dengan Eza.
Yasmin mendapatkan tiket, berangkat dua jam lagi dari waktu sekarang. Apa pun yang terjadi hari ini dan hati yang lalu, adalah sebuah pelajaran berharga bagi Yasmin. Memiliki rasa yang tak seharusnya dimiliki secepat itu, apalagi dengan orang asing yang batu saja dia kenal. Ini sungguh menyakitkan, Yasmin tidak pernah menyangka kisah cintanya akan serumit ini.
Dengan berat hati, Yasmin haru meninggalnya tempat itu. Pulau yang memberinya kenangan yang sangat berharga. Kisah cinta yang salah, asmara yang tertinggal di Bali. Mungkin esok atau nanti, rasa itu akan perlahan dibuang jauh-jauh.
"Selamat tinggal, Langit."
__ADS_1
...***...