
...***...
Yasmin terdiam mengingat hal itu. Memang sesuatu yang sulit, dia sudah mencoba sebelumnya.
Lama Santi menunggu jawaban Yasmin, seolah dia tau, sahabatnya itu tak bisa menjawabnya. “Ya udah, yang penting sekarang kamu fokus dulu aja ke kandungan kamu. Coba besok kamu pergi periksa ke dokter, lihat perkembangan janinnya. Dan jaga baik-baik, aku yakin kamu nggak akan nyakitin bayi nggak berdosa itu.”
“Aku masih waras, San. Meskipun awalnya aku juga nggak menginginkan kehamilan ini, tapi tetap di hatiku ada rasa bahagia karena walau bagaimanapun, aku tidak lagi dijuluki wanita mandul lagi. Tapi, untuk periksa ke dokter ... aku sedikit ada rasa takut jika ingat nasib Ibu yang meninggal karena kanker ovarium.
Saat Yasmin berumur sepuluh tahun. Ibunya di vonis oleh dokter mengidap kanker Ovarium yang mematikan. Ibu Yasmin dalam kondisi hamil saat itu, dan kanker baru terdeteksi di saat sang ibu memeriksakan kandungan. Ibunya menolak untuk menggugurkan kandungan, dan memilih untuk bertahan hingga melahirkan adik Yasmin. Namun, Tuhan berkehendak lain. Resikonya sangat tinggi, kanker yang memiliki julukan 'membunuh dalam diam' ini berhasil mengambil nyawa ibunya.
Setelah Yasmin mengetahui cerita ini saat dewasa, dia pun telah banyak mencari tahu tentang penyakit ini. Resiko penyakit ini dapat diturunkan sangat tinggi. Sebab itulah Yasmin merasa sangat takut pada awalnya.
Sewaktu masih menikah dengan Hilman, Yasmin memang pergi memeriksakan diri ke dokter kandungan. Tidak ada penyakit atau apapun yang dokter temukan, Yasmin dinyatakan sehat. Namun, setelah tujuh tahun usahanya untuk memiliki anak tidak kunjung berhasil. Yasmin menjadi semakin Yakin bahwa dia sulit Hamil karena penyakit ini.
Yasmin pun memeriksakan diri lagi, untuk melihat apakah ada atau tidak penyakit ini. Namun, kanker ovarium sangat sulit untuk terdeteksi sejak dini, bahkan tak menunjukan gejala. Dia tak bisa melakukan apa-apa lagi, hanya sabar jika suatu saat dia di vonis dokter. Untuk Itu Yasmin tak lagi pergi memeriksakan diri. Berapa kali pun dia pergi, hasilnya akan tetap sama. Yang ada dia akan semakin takut untuk mendengar jawaban dokter lagi. Yasmin hanya bisa berusaha untuk menjaga pola hidupnya, itu saja yang dapat dia lakukan.
__ADS_1
Setelah mengobrol dengan Santi, kini dia sedikit lega karena setidaknya bebannya berkurang dan tidak dipikul seorang diri. Yasmin lalu mulai merebahkan tubuhnya lagi dan mencoba memejamkan matanya.
Sementara itu, Eza yang masih berada di kafe, pikirannya sama sekali tidak tenang. Dia terus memikirkan Yasmin, dia begitu khawatir mengingat Yasmin yang akhir-akhir ini sering tidak sehat. Saat pengunjung kafe mulai sepi, Eza memeriksa ponselnya dan berniat menghubungi Yasmin karena pesannya sejak sore tadi sama sekali tidak dibalas.
“Senja ... ayolah, angkat! Jangan terus-terusan bikin aku cemas.” Eza tampak gusar saat melakukan panggilan telepon yang tak kunjung diangkat oleh Yasmin. Bayangan sikap dingin Yasmin sore tadi cukup membuat Eza berpikir, kenapa Yasmin mendiamkannya.
“Senja, apa salahku sampai-sampai kau mendiamkanku seperti ini?” Eza masih mengulang beberapa kali panggilan. Namun, saat deringan terakhir, Yasmin menolak panggilan tersebut. Saat ini dia enggan berkomunikasi dengan Eza, dia hanya ingin istirahat, kemudian Yasmin memilih menonaktifkan ponselnya.
“Argh! Kamu kenapa Senja?” serunya meluapkan kekesalannya saat deringan itu berganti enggan suara operator yang berbicara.
Keesokan harinya, morning sicknees yang dirasakan pagi hari masih terjadi. Tetapi tak separah kemarin, Yasmin masih bisa menahannya. Setelah selesai mandi dan sudah rapi, dia duduk di meja makan sambil menyesap teh hangatnya, hari ini kliniknya akan buka jam sepuluh pagi, akan dibantu oleh Suci. Hanya roti menu sarapannya pagi ini. Karena badannya benar-benar tak kuat untuk memasak makanan.
Sejenak, bayangan ucapan Santi untuk menyuruhnya memeriksakan kandungan membuat dirinya berpikir dua kali. Di sisi lain dia begitu ingin mengetahui kondisi janin di dalam perutnya. Namun, dia juga takut ketika mengetahui hasilnya yang tidak sesuai ekspektasinya.
Selang beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu membuat yasmin terkesiap dari lamunannya. Dia langsung mempersilahkan masuk saat mendengar suara Suci yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
__ADS_1
“Yasmin, bagaimana keadaan kamu?” tanya Suci sembari duduk dan membawakan bubur ayam untuk Yasmin. “Ini, aku bawakan bubur, makan ya!”
“Alhamdulillah jauh lebih baik. Mbak Suci kenapa repot-repot, sih.”
“Nggak repot, Yas. Mbak tadi juga sekalian masak buat anak-anak, kok.”
Meski sedikit mual, tetapi Yasmin tetap menghargai pemberian Suci, dia berusaha menelan bubur ayam tersebut. Namun, saat beberapa suap, dia tidak bisa menahannya. Akhirnya dia berlari ke kamar mandi, isi perutnya seperti diaduk hebat.
“Yas, kamu nggak apa-apa?”
Yasmin pun langsung menyahut dari dalam. “Nggak apa-apa, Mbak.”
Tak lama, Yasmin pun keluar, dia sedikit merasakan canggung karena takut kehamilannya diketahui oleh suci.
...***...
__ADS_1