Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Restu saja tidak cukup


__ADS_3

...***...


Malam hari, Yasmin berada di kamarnya. Bayangannya terus berputar pada ucapan Eza sore tadi. Bertemu calon mertua adalah hal yang mungkin sebagian ditakuti oleh wanita. Yasmin tak dapat memungkirinya, dia tidak tahu dan tidak bisa menebak bagaimana nanti respons papa dan mama Eza saat bertemu dengannya. Apalagi pernikahan yang akan dilaksanakan karena sesuatu yang mendadak. Jelek di mata orang tua sang lelaki, sudah pasti itu ada dipikirannya saat ini. Kalau bukan karena hamil, mungkin dia dan Eza tidak akan terlibat dalam masalah ini.


Yasmin terus menatap awang-awang, memikirkan dan menyiapkan sesuatu yang mungkin harus dimatangkan nanti saat pertemuan esok tiba. Untuk menghilangkan rasa cemasnya, Yasmin memutuskan untuk menghubungi Santi.


“Halo, San sedang sibuk nggak?” tanya Yasmin pada sahabatnya saat telepon itu terhubung.


“Nggak, kenapa? Gimana hubungan kamu dengan Eza? Apa ada perkembangan?”


“Hem, ada. Aku sekarang lagi bahagia karena pada akhirnya Eza mau bertanggung jawab dan tidak meninggalkanku. Tapi ada satu hal yang membuatku mengganjal sekarang ini.”


“Syukurlah, anak itu ternyata mempunyai rasa tanggung jawab juga. Dia pasti sayang banget sama kamu Yasmin, beruntung walau dia masih berumur 21 tahun, setidaknya dia sangat dewasa. Lalu, apa yang kamu pikirkan sekarang?”


Sebagai sahabat, Santi selalu mendengar keluh kesah Yasmin dan mengerti posisi tersulit wanita itu. Dia tidak pernah menyalahkan sesuatu yang sudah terjadi—menimpa Yasmin.


“Tadi Eza menjelaskan semuanya, tentang syarat orang tuanya setelah memberi restu dan juga besok aku harus menemui mereka. Kau tau, San, aku sangat khawatir jika mereka tidak menerimaku dengan baik. Yang ada di pikiranku sekarang ini adalah mamanya, sejak aku berhubungan dengan Eza, dia selalu bercerita yang mamanya itu begitu tegas dalam mengambil sikap. Bahkan dia mencabut fasilitas Eza jika dia tidak menuruti kemauannya. Bayangan mertua jahat terus berputar di kepalaku.”


Yasmin menjelaskan pada Santi dengan wajah putus asa, dia bersandar pada ranjang kepala seraya mengembuskan napas kasar.


“Yas, kamu nggak usah berpikiran seperti itu, ada Eza yang akan membela kamu. Dari penerawanganku, Eza sosok yang bukan penakut dan dia sangat gentle. Kalau saja dia takut pada mamanya, dia pasti tidak akan mungkin berani mengakui perbuatannya apalagi jika dia tau risiko yang mungkin berat baginya. Tapi dia nekat, kan, jadi jangan merasa tidak aman. Aku yakin Eza akan melindungimu.”


“Begitu, ya. Baiklah, aku akan mencoba bersikap biasa. Meskipun, aku juga sering mendapat perlakuan buruk dari ibunya Mas Hilman, tapi aku berharap semoga kali ini ibunya Eza berbeda.”

__ADS_1


“Tenang saja, aku pasti akan mendoakanmu.”


Santi berusaha menenangkan Yasmin. Wanita itu juga tidak lupa memberi saran ampuh jika ibunya Eza berani bersikap semena-mena padanya. Termasuk membuka rahasianya yang selama ini dia simpan dan tidak ada seorangpun yang tahu termasuk Eza.


“O iya, ngomong-ngomong soal Mas Hilman, dia tadi siang datang ke sini menemuiku, aku kaget banget. Nggak nyangka setelah sekian lama, kini dia malah mencariku.”


"Hah, mau ngapain dia?”


“Ya, dia ngajak rujuk, alasannya. Tapi tujuan utama sebenarnya bukan itu, melainkan ingin menguasai perusahaan Ayahku.”


Santi yang mendengar hal tersebut pun ikut terkejut sekaligus geram. Yasmin juga menceritakan sikap Eza pada Hilman. Santi makin menambah kekagumannya pada Eza karena lelaki itu ternyata mampu melindungi Yasmin dari segi manapun. Dia semakin yakin akan mendukung hubungan Eza dan Yasmin untuk masa depannya. Tak lupa harapan dan doa kebahagiaannya untuk Yasmin pun selalu terlontar dari mulutnya.


___


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Yasmin pun sudah rapi bersiap menemui orang tua Eza. Setelan warna biru muda, dengan blazer yang menutupi tubuh bagian atasnya tampak begitu elegan. Kerudung polos hingga paras dada, berwarna senada dengan pakaiannya. Mekap tipisnya pun menggambarkan dirinya yang tampak kalem tanpa mengurangi keayuannya. Mata yang memandang pun juga tidak dapat menebak umur Yasmin yang sebenarnya karena terlihat begitu muda.


“Sayang, kamu cantik banget,” puji Eza seraya mengabsen setiap inci penampilan Yasmin, bola mata lelaki itu terhenti pada wajah Yasmin.


Galang dan Suci yang ada di sana ikut memperhatikan Yasmin dan saling kagum, biasanya Yasmin memang tampil rapi dan cantik walau tanpa make-up sekalipun. Akan tetapi, kali ini dia begitu berbeda. Lipstik yang dipakainya pun samar, tetapi masih menampilkan kesan fresh pada wajahnya.


Sekilas, Eza melirik ke arah Galang yang juga tak berkedip menatap Yasmin karena terkesima. Eza pun menyenggol pundak lelaki itu. “Hei, Bos! Inget, dia milikku, jangan lebih dari tiga detik jika menatapnya!”


Galang yang mendengar kalimat Eza pun tertawa dan diikuti juga tawa dai Suci dan Yasmin.

__ADS_1


“Ya, sudah, ayo berangkat sekarang!” ajak Yasmin pada Eza.


Mereka pun berangkat ke rumah orang tua Eza. Mobil Eza kendarai dengan kecepatan sedang. Di perjalanan, Yasmin terus berdoa dan mengatur napasnya agar tidak grogi, sesekali Eza mengajaknya bercanda.


Di halaman yang luas, terparkir mobil di depan kediaman Adhitama—menandakan jika mamanya sudah pulang dari mengontrol restorannya. Eza dan Yasmin perlahan melangkahkan kakinya menaiki teras rumah, Yasmin menatap Eza, menggenggam erat tangannya yang sedikit berkeringat dingin. Eza mengangguk memberi kekuatan dan menenangkannya.


Tak lama setelah Eza membunyikan bel, pintu itu terbuka, asisten rumah tangga mempersilakan mereka masuk. Degup jantung Yasmin tidak karuan, tetapi matanya tak berhenti mengitari ruang tamu tersebut, memperlihatkan hiasan potret keluarga yang tertata rapi di sebuah meja sudut ruang. Yasmin merekam wajah kedua orang tua Eza dari potret itu. Terlihat harmonis dengan gaya pengambilan gambar yang santai.


"Sayang, duduklah dulu, aku panggil Mama dan Papa dulu." Eza menuntun Yasmin duduk di sofa putih panjang ruang tamu tersebut.


"Langit, aku …."


"Aku tau kamu gugup, tenangkan diri dulu. Jangan takut, ada aku di sini." Lelaki itu mencoba menenangkan kekasihnya. Yasmin seperti baru pertama kali mengalaminya. Mungkin karena dia sudah tau karakter Erna dari cerita Eza.


Eza pun meninggalkan Yasmin setelah melihat anggukan kepala wanita itu. Yasmin menghela napasnya berkali-kali, mencoba menenangkan dirinya. Dia berpikir bagaimana caranya agar orang tua Eza bisa menyukainya. Eza memang telah memberi tahu, mereka sudah direstui. Namun, restu saja tidak cukup jika dia tidak bisa dekat dengan calon mertuanya.


Selang beberapa menit, Eza datang dengan kedua orang tuanya. Yasmin lantas berdiri dengan senyuman melihat kedatangan ketiganya. Eza yang berjalan di depan juga tersenyum padanya. Sedangkan Erna dan Adhitama berjalan beriringan melihat ke arah Yasmin. Tetapi, tatapan mata Erna hanya sekilas melihat pada Yasmin. Berbeda dengan Adhitama yang tersenyum padanya.


Setelah Eza memperkenal Yasmin pada kedua orang tuanya. Kini mereka duduk saling berhadapan di sisi yang berbeda. Eza duduk di samping Yasmin, sedangkan Erna dekat sang suaminya. Suasana sedikit tegang, Erna dengan wajah tegasnya menatap Yasmin penuh selidik.


"Sudah berapa bulan kandunganmu?"


Pertanyaan pertama yang Yasmin dengar, sedikit membuatnya terkejut. Nada bicara Erna begitu berat terdengar.

__ADS_1


...***...


__ADS_2