Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Apa kalian dekat?


__ADS_3

...***...


Pecahan kaca itu menggores telapak tangan Eza diantara telunjuk dan ibu jari, sepanjang satu sentimeter. Beruntung luka itu tidak terlalu dalam dan parah. Setelah membersihkan, Yasmin menekan pada luka sebentar, agar pendarahannya cepat berhenti. Eza meringis karenanya.


"Sssttt, Senja, sakit!" Eza seperti sengaja mengatakannya, padahal sakitnya tidak seberapa, karena dia pun masih bisa tersenyum.


"Tahanlah sedikit, dan jangan berlebihan. Ini cuma luka kecil, kamu tidak bisa membodohiku!" Yasmin memperingatkan. Dia tau Eza hanya mengada-ada.


Yasmin melanjutkan. Setelah lima menit, luka itu dia lepas. Dia lalu membersihkan noda darah di tangan Eza, lalu membalutkan kain kasa. Mata lelaki itu sama sekali tak berkedip melihat wajah ayu Yasmin yang saat ini berada di depannya.


“Senja, rasanya aku begitu ingin memelukmu sekarang. Kau tahu, aku sangat merindukanmu sejak kita berpisah kemarin. Bayangan saat kamu mengungkapkan perasaan, terus teringat di memoriku. Aku sangat bahagia, Senja!” 


“Langit, bisa pelankan suaramu? Dan sebaiknya jangan banyak bicara yang bukan-bukan di sini. Atau lukamu nggak akan aku obati.” Tatapan Yasmin terlihat galak seolah mengancam. Namun, hal itu semakin menarik Eza untuk terus menggodanya. 

__ADS_1


“Senja, sepi ya, di sini. Boleh nggak, kalau aku ....” Eza pun memelankan suaranya.


“Jangan macam-macam, Langit!” Yasmin melirik lagi, kali ini dia mengernyitkan dahinya, kapas yang dioleskan ke tangan Eza sedikit ditekan sehingga lelaki itu mengaduh. 


"Aauuuu, Senja! Tega sekali menyakiti pacarmu sendiri. Lihat saja, aku akan membalasnya nanti.” Eza memainkan alisnya naik turun, terbaca sudah niat Eza untuk melakukan sesuatu pada kekasih nantinya.


Walaupun sudah menjadi sepasang kekasih, tampaknya sifat tegas dan sedikit galak masih melekat di dirinya saat menghadapi Eza. Akan tetapi, dia melakukannya agar lelaki itu tidak berbuat nekat yang akan berakibat buruk baginya—menjaga nama baik.


“Makanya jangan berisik. Nanti kalau ada yang denger gimana, hmm?” Wajah Yasmin terlibat serius. Dia meneruskan kesibukan tangannya.


“Langit, gadis tadi ... apa kalian dekat?” tanya Yasmin merapikan kembali peralatan medisnya. Luka Eza telah dibalut dengan rapi.


“Siapa?” Eza menaikkan alisnya.

__ADS_1


“Gadis yang datang sama Nita dan Adel. Namanya Lisa. Dia sepertinya ada di jurusan lain, aku tidak pernah melihat dia sebelumnya.” Jelas Yasmin seraya berdiri dan meletakkan peralatannya di meja. Eza mengikut setiap pergerakan Yasmin dengan ekor matanya. 


“Oh, Lisa. Dia hanya teman biasa, tapi aku bisa melihat dia memang tertarik padaku,” jawabnya Santai. Matanya kini melihat pada hasil pekerjaan Yasmin dan tersenyum.


“Lalu, kenapa kamu tidak mendekatinya? Dia cantik, dan yang pasti masih muda, seumuran denganmu.” Yasmin membalikkan badan, tatapan mata mereka bertemu.  


“Hah, pertanyaan macam apa itu, Senja? Harus berapa ribu kali aku bilang, kalau aku sama sekali tidak menyukai wanita manapun, kecuali kamu. Kamu ada di sini sejak awal, sekarang, dan nanti.” Eza meraih tangan Yasmin dan meletakkan di dadanya. Merasakan degupan jantung yang seolah bergemuruh saat berada di dekat Yasmin.


Akan tetapi, Yasmin langsung melepas tangannya dari genggaman Eza. Seketika, dia mengitari sekitar, khawatir jika ada yang melihat karena pintu terbuka. “Ya, siapa tau kamu menyukainya, dia terlihat begitu perhatian padamu.”


Luka di tangannya kini sudah selesai dibalut. Eza pun berdiri, mensejajarkan tubuh mereka secara berhadapan. Dia terus memandangi wajah Yasmin yang sangat berbeda setelah membicarakan Lisa. Dan Yasmin menyadari tatapan Eza yang memuatnya salah tingkah.


“Kenapa terus memandangku seperti itu? Lukanya sudah selesai dibalut, sebaiknya kita keluar sekarang, Langit. Jangan sampai mereka curiga kita berlama-lama di sini.” Yasmin mengajak Eza keluar, menghindari fitnah karena berduaan di dalam ruangan dengan seorang lelaki, meskipun orang-orang tahu jika Eza adalah anak didiknya. Namun, hal itu bukan menjadi patokan untuk seseorang untuk berprasangka buruk. 

__ADS_1


...***...


__ADS_2