Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Dua orang asing


__ADS_3

...***...


Setelah sampai di puncak, Eza menurunkan Yasmin dari gendongannya. Rasa lelah tak seberapa, dibandingkan perasaan aneh yang sedari tadi menggelutinya.


“Terima kasih, maaf sudah menyusahkanmu,” ujar Yasmin seraya menepuk lengan Eza.


“Tidak masalah, bukankah memang tugas lelaki menjaga wanita?”


Yasmin tersenyum mendengarnya. "Kamu capek?" Dia sedikit kasihan melihat Eza mengatur napasnya.


"Lumayan, ternyata kamu cukup berat juga. Padahal kalau di lihat, badanmu kecil," tutur Eza beralasan lain. Yang sebenarnya, dia mengatur napas karena gejolak yang tadi dirasakan.


Yasmin terdiam sejenak, ada sedikit perasaan bersalah telah menyusahkan pria yang baru dikenalnya itu. Eza menyadari perubahan raut wajahnya.


"Aku hanya bercanda, jangan dipikirkan. Cantiknya bisa hilang loh." Perkataan Eza mampu membuat wanita itu mengukir senyuman manis.


"Apaan sih. Udah, aku mau menikmati pemandangan ini." Yasmin menghindar, dia tidak ingin memperlihatkan wajahnya yang memerah.


Pemandangan laut dari atas tebing, terlihat begitu indah. Hamparan pasir terlihat berkilau karena terik matahari. Yasmin tak berkedip melihat deburan ombak yang riuh itu. Tebing itu dikelilingi hamparan pohon setinggi lutut dan rumput hijau. Yasmin membentangkan tangannya sambil terus menatap lukisan alam dengan takjub. Hembusan angin yang sedikit kencang, menerbangkan rambut serta pakaiannya. Yasmin juga dapat melihat para peselancar bersenang-senang dari kejauhan.


Dalam keadaan tangan yang masih membentang, Yasmin menutup matanya. Dia menarik napas pelan, menghirup udara yang terasa hangat masuk ke paru-paru. Lalu menghembuskan secara perlahan. Wanita itu menikmati keindahan alam tidak hanya dengan mata, tapi juga dengan tubuhnya.

__ADS_1


“Bagaimana? Indah, kan?” tanya Eza melirik Yasmin dari samping.


"Sangat indah!" Dia sibuk menikmati aroma laut yang menyeruak masuk ke indra penciumannya.


“Berteriaklah! Lepaskan semua beban di pikiranmu. Seperti ini." Eza membentuk tangannya seperti huruf O dan meletakkan di mulut. Yasmin mengikutinya.


“Aaaaaaa!”


"Aaaaaaa!"


Mereka berteriak secara bersama. Yasmin tertawa, terlihat kelegaan dari raut wajahnya. Melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah cantik itu, Eza pun merasa senang. Pria itu kembali berteriak


"Aaaaaaaaaaaaaaa!"


Mereka berteriak saling bersahutan kemudian tertawa terbahak-bahak, sangat lucu dan menyenangkan.


“Senja? Itu nama kekasihmu?” Yasmin mengernyitkan dahinya bertanya pada Eza.


“Bukan. Aku tidak punya kekasih. Kamulah, Senja. Aku memanggilmu Senja."


Yasmin memiringkan kepala. "Aku? Kenapa senja? Ohh, benar ...kita belum berkenalan, aku …," ucapannya terhenti.

__ADS_1


"Tidak … apalah arti sebuah nama. Ini hanyalah pertemuan antara dua orang asing saat berlibur bukan?" Eza mengalihkan pandangannya. "Apalagi, kita bertemu hanya untuk berpisah kembali. Bukankah lebih baik tidak terikat hubungan apapun. Karena aku tau pasti, kamu juga tidak akan menginginkan hal tersebut, maksudku hubungan yang berlanjut.”


“Ehmmm ... memang ada benarnya. Kita hanyalah dua orang asing, dan kedepannya juga tidak akan saling mengenal. Mungkin setelah ini kita tidak akan saling bertemu." Yasmin tersenyum kecut. Walaupun pemikiran mereka sama, tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Lalu, aku harus memanggilmu siapa? Dan kenapa kamu memanggilku dengan sebutan Senja?”


“Apa pun. Terserah mau panggil apa aja. Lagi pula, Itu hanya untuk sementara." Eza melirik sesaat, lalu kembali menatap lautan. "Senja ... aku bertemu denganmu saat senja tiba. Kamu sama indahnya seperti senja.” Eza tersenyum menatap wajah Yasmin. Yasmin pun membalas senyuman itu dengan malu-malu.


“Langit ... ya, aku akan memanggilmu Langit saja.” Pandangan Yasmin tertuju pada langit di atas pantai yang hampir tak terlihat batasnya.


“Kenapa Langit?”


“Bukankah Senja tidak akan pernah ada jika tak ada Langit?” Yasmin terkekeh.


“Kamu ... kamu memang menarik!” Eza melirik Yasmin yang terdiam. Pujiannya berhasil mengubah wajah wanita itu memerah seperti udang rebus.


Eza pun mengajak Yasmin duduk di kursi panjang di ujung tebing. Tepatnya di bawah pohon yang cukup rindang. Mereka kembali mengobrol, ditemani dua gelas es kelapa muda sebagai pelengkap.


"La–Langit.” Yasmin tersenyum canggung. Aneh rasanya dia memanggil seseorang dengan nama yang dia mau.


"Emmm?"


...***...

__ADS_1


__ADS_2