
...***...
Perbedaan usia tidak mempengaruhi berhasil atau tidaknya hubungan asmara setiap pasangan. Begitu pula dengan faktor lain yang mereka jalani. Cinta tidak pernah melihat usia dan harta. Jika ada kegagalan dalam suatu hubungan, mungkin sebab utamanya hanya karena tidak bisa berdamai dengan keadaan atau ketidakcocokan satu sama lain. Begitu juga dengan Yasmin dan Eza yang kini telah bersatu, mengabaikan sesuatu yang tidak begitu penting, terbebas dari perbedaan di antara mereka.
Setelah Yamin mengenal sosok Eza, baik di kampus maupun di luar. Yasmin merasa sedikit penasaran, dengan pendidikan yang pria itu ambil. Jika melukis adalah passionnya, lalu kenapa Eza ada di fakultas kedokteran? Dan lagi, melihat jejak nilai Eza pada semester ini, Yasmin menyimpulkan, Eza sangat cerdas. Hanya saja dia sering absen. Kenapa dia tidak serius di kampus jika dia mampu menerima pelajaran?
Yasmin pun akhirnya bertanya, “Kenapa kamu tidak ambil jurusan seni aja? Kamu punya bakat yang luar biasa, Langit.”
Eza yang sedang membersihkan lukisan yang terpajang, menoleh. Lalu duduk di sebuah bangku kecil di hadapan Yasmin, posisinya lebih rendah dari wanita itu. “Sebenarnya, dari awal aku begitu ingin mengambil jurusan seni. Tapi, sayang Mama tidak mengizinkanku untuk mengambilnya. Dia menyuruhku untuk mengambil fakultas kedokteran, karena menurutnya masa depan seorang seniman akan susah sukses.”
Eza menceritakan semuanya tentang kehidupannya, tanpa ada yang ditutupi sama sekali. Tentang bagaimana keluarganya, masa sekolahnya, hingga pertemanannya.
“Jadi, kamu jatuh miskin setelah melawan keinginan mamamu? Waktu di Bali kamu terlihat sangat mapan. Aku pikir kamu seorang bos muda,” ungkap Yasmin menerka kehidupan Eza sewaktu di Bali.
Eza tersenyum. “Benar, orang tuaku cukup kaya. Mereka memberikan apa yang aku mau. Tapi sekarang aku tidak miskin, aku punya cukup banyak tabungan dari hasil kerjaku sekarang, juga dari melukis. Hanya saja orang tuaku tidak tau seberapa banyak yang aku punya,” tuturnya kemudian.
“Oya, kerjaan apa lagi yang kamu lakukan?”
“Aku menghasilkan uang dari melukis sejak dua tahun ini, dan aku menabung semua hasilnya. Sekarang aku juga bekerja di kafe setelah pulang kuliah.”
__ADS_1
Tiba-tiba Eza teringat akan sesuatu. Setelah Yasmin menyebutkan tentang Bali dan uang.
"Aku bertanya satu hal. Mengenai cek yang kamu tinggalkan di meja kamarmu? Apa maksudnya?"
"Emm?" Yasmin merasa ragu untuk menjawab. Dia sengaja melakukan itu agar Eza membencinya.
"Aku belum mempermasalahkan hal satu ini. Kamu pikir aku pria bayaran?" Eza menajamkan matanya.
"Maaf, waktu itu aku hanya ingin membuatmu membenciku," jawab Yasmin tertunduk.
Helaan napas kecil terdengar. "Awalnya aku memang marah, tapi begitu tau kamu membawa bunga itu. Aku berpikir, kamu menyukaiku. Sebab itu aku bertekad akan mencari keberadaan kamu dimanapun."
"Tentu saja aku merobeknya. Kenapa aku harus menerima bayaran? Sudahlah, aku akan memberimu hukuman untuk yang satu itu." Eza pura-pura marah. Dia menatap wajah Yasmin yang sudah merasa merasa bersalah. Hingga dia kembali membujuk, agar melupakan semua yang telah terjadi.
Kemudian, mereka mengobrol seperti biasa. Yasmin bertanya banyak hal pada Eza. Hingga tak terasa hari sudah beranjak malam. Eza pun mengajak Yasmin pulang, mengingat kekasihnya itu harus istirahat awal karena besok peresmian kliniknya.
Keduanya pun menyusuri jalanan kota, Yasmin yang biasanya enggan berpegangan. Kali ini, dia dengan sukarela memeluk erat tubuh Eza dari belakang. Getaran cinta yang ditimbulkan di antara mereka begitu nyata. Setelah sekian lama sesak karena rindu dan perasaan yang terpendam, akhirnya kini saling memiliki satu sama lain.
Eza menggenggam erat tangan Yasmin yang berada di perutnya dengan satu tangan, sedangkan tangan satu lagi fokus pada gas motor. Eza menoleh ke samping sebentar, wajah Yasmin kini telah berada di bahunya, bertumpu manja di sana. Mereka saling memandang beberapa detik kemudian mengulas senyuman bersamaan. Terlukis wajah bahagia pada wajah keduanya.
__ADS_1
Sesampainya di gang biasa, Eza memegangi tangan Yasmin saat turun kemudian lelaki itu dengan lembut mengecup punggung tangan wanita itu. Yasmin yang menerima perlakuan tersebut begitu terkejut. Matanya langsung mengitari sekitar takut ada yang melihat.
“Langit!” seru Yasmin.
“Hanya sedikit pengantar tidur. Harusnya aku mengecup bibirmu.” Eza terkekeh, ucapan itu seolah sangat biasa bagi Eza, apalagi dia tahu reaksi kekasihnya pasti akan merajuk dan mengerucutkan bibirnya. Hal itu membuat Eza gemas dan ingin terus menggodanya.
Yasmin pun mencubit lengan Eza. “Bisa-bisanya berkata hal mesum di tempat umum! Sudah sana cepat pulang!” Yasmin membalikkan badannya.
“Senja, tunggu!”
“Apa lagi?”
“Kalau diizinkan, boleh nggak besok aku datang ke peresmian klinik kamu? Aku ingin melihat kecantikan Bu Dokter saat dikelilingi masyarakat sini.” Eza tersenyum.
“Ehmm, boleh aja. Tapi ingat ya, jangan sampai ada satu orangpun yang tahu kalau kita pacaran. Bersikaplah biasa layaknya anak didikku!” Mata Yasmin mulai menajam, nada bicaranya seperti ancaman.
“Terima kasih, Sayang! Selamat malam, dan selamat tidur. I love you!” Eza lalu melambaikan tangan dan menyalakan mesinnya. Yasmin yang mendengarnya pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya tanpa menjawab perkataan Eza. Wanita itu lalu beranjak pergi bersamaan dengan Eza yang mulai menjauh.
...***...
__ADS_1