Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Toilet wanita


__ADS_3

...***...


Untuk beberapa saat, ekor mata Yasmin mengikuti kemana arah Eza pergi. Jarak dua baris dari tempat duduknya, Eza berhenti dan berbalik. Masih dengan tersenyum dia melihat ke arah Yasmin. Kemudian dia duduk, dan tiba-tiba mengedipkan mata.


Yasmin terkesiap, dia pun memalingkan wajah dengan cepat. Ketahuan sangat jelas bahwa dia tengah memperhatikan Eza. Sedangkan Eza terkekeh di sana. Lalu dengan santai dia memperhatikan Yasmin yang sedang salah tingkah karena ulahnya.


"Mbak Yasmin kenapa?" tanya Sari padanya. Sedangkan Helen menoleh kebelakang, tempat arah pandangan Yasmin.


"Emm, Nggak kenapa-napa." Yasmin melanjutkan makannya lagi.


"Yang nyapa Mbak Yasmin tadi, ada di kelas Mbak Yasmin, Kan?" Helen menebak kenapa Yasmin tiba-tiba bertingkah aneh.


"Iya, dia mahasiswa saya," jawab Yasmin. datar.


Helen melanjutkan kata-katanya penuh semangat. "Mbak Yasmin mungkin belum tau. Namanya Eza Aska Adhitama. Dia lumayan populer di fakultas kedokteran sini. Banyak mahasiswi sini dan fakultas lain kagum padanya. Selain itu dia juga sangat pintar dan berbakat. Selain bisa menguasai mata pelajaran ilmu kedokteran, dia juga bakat menggambar. Tapi sayang, setahun terakhir dia sering bolos, jadi banyak ketinggalan pelajaran."


Yasmin mengangguk seakan bersikap biasa saja. "Oya, jadi begitu."


"Iya Mbak, kalau aja aku belum nikah, udah ku kejar dia, hehehe." Helen terkekeh menutup mulutnya.


"Hiss, nyebut kamu," ucap Sari memperingatkan dan menepuk lengan Helen. Mereka saling melepas senyuman.


Sedangkan Yasmin tersenyum kecut. Ternyata Eza sepopuler itu di kampus. Bahkan wanita yang sudah menikah juga tertarik padanya. "Lalu apa hubungannya denganku?" batin Yasmin bertanya.


Bagi Yasmin sekarang, yang terpenting Eza tak mengganggunya selama di kampus. Memberinya peringatan semalam ternyata sedikit berhasil. Dia berharap mereka akan tetap menjaga jarak seperti ini. Begitupun juga di luar kampus.

__ADS_1


___


Dua hari ini, Yasmin telah mempertimbangkan ide yang Santi berikan tempo hari. Dan pagi tadi dia telah meminta saran dari beberapa dosen yang juga memiliki tempat praktek sendiri. Banyak hal yang harus Yasmin lakukan. Selain mengurus surat-surat dari berbagai pihak. Yasmin juga harus menyediakan peralatan yang diperlukan untuk kliniknya nanti.


Sehabis jam makan siang, Yasmin izin pada kedua rekannya untuk ke toilet dekat kantin. Yasmin akan menghadiri kelas terakhirnya hari ini. Setelah itu dia akan pergi untuk mengurus izin praktek dokternya. Dia perlu merapikan penampilan sebentar. Saat Yasmin keluar dari toilet tiba-tiba tangannya ditarik oleh seorang.


Yasmin menjerit, dan mulutnya langsung di tutup agar tidak berisik. Eza kini berdiri di hadapannya. Mengungkung dirinya ke tembok luar toilet. Memegang kedua pergelangan tangannya.


"Sssttt, diamlah." Eza melepaskan tangannya dari mulut Yasmin.


"Mau apa kamu! Aku su—"


Tanpa menunggu ucapan Yasmin. Eza kembali menarik wanita itu masuk ke dalam. Dia tau tidak ada siapa-siapa di toilet wanita. Eza sudah memastikan sebelumnya.


Langkah Yasmin tergopoh-gopoh mengikuti Eza yang membawanya masuk. Sedikit cemas akan ketahuan oleh orang lain, Yasmin mengitari kondisi sekitar dengan matanya. Pria itu mendorongnya hingga masuk ke bilik toilet paling ujung, lalu menguncinya dari dalam.


"Kamu! Mau ngapain!" ucap Yasmin dengan suara tertahan.


"Kamu merindukanku?"


Yasmin memundurkan tubuhnya hingga menempel dinding. "Apa maksudmu?"


"Jangan mengelak, aku tau kamu mencariku dari tadi."


"Cciihh, buat apa? Aku terlalu sibuk, nggak ada waktu untuk mi—"

__ADS_1


"Senja, aku mengawasi kamu seharian ini. Mata kamu nggak bisa bohong.” Eza semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Yasmin. Membuat jantung wanita itu semakin berpacu kencang.


“Menjauh, dan lepaskan aku!” Yasmin berkata lirih, napasnya terengah-engah seiring dengan detak jantung yang memburu.


Kedua pergelangan tangan Yasmin digenggamnya. “Aku tidak akan melepaskanmu, sebelum aku ....”


Eza menghentikan ucapanya, kini wajah mereka hanya berjarak kurang dari sepuluh senti. Perlahan, Eza mendekatkan bibirnya, Yasmin reflek terpejam dan merapatkan bibirnya. Seolah tau apa yang akan Eza lakukan, yaitu hendak menciumnya.


...***...


...Haii haii Readers ☺️...


...Apa kabarnya nih...?...


...Kasih kritik dan sarannya dong, gimana dengan jalan cerita ini....


...Author tunggu di kolom komentar ya......


...jangan lupa dilike ya...


...🤭...


...Oya ... untuk GA minggu ini, terakhir di jam 22.00 ...


...Author akan umumkan pemenangnya besok...

__ADS_1


...🤗...


__ADS_2