
...***...
“Senja, kamu capek?” tanya Eza, dia refleks menarik tangan Yasmin saat berjalan mendahuluinya.
“Lumayan, sisa naik turun tebing tadi lumayan melelahkan sih.”
Pada akhirnya Eza berubah pikiran. Dia mengambil sapu tangan dari kantong belakang celananya, lantas mensejajarkan tubuh mereka dan menyeka keringat Yasmin pada dahi wanita itu. Aksi Eza membuat Yasmin terdiam.
“Kalau begitu, kita istirahat di sana aja, yuk!” ajak Eza, tangannya masih menggandeng wanita itu.
Perlakuan seperti tadi sangat jarang Yasmin rasakan, mungkin itu yang membuatnya terdiam. Tak ada laki-laki yang pernah memberi perhatian seperti itu padanya. Termasuk Hilman—mantan suaminya. Dulu, saat awal pernikahan pernah, hanya saja tidak lagi setelah bertahun-tahun yang lalu. Tapi yang ia rasakan kini sangat berbeda.
Tautan tangan yang sejak tadi Yasmin rasakan begitu hangat. dia pun enggan melepas tangan Eza. Sepanjang hari ini, begitu banyak senyuman telah tertulis dari wajah wanita itu. Dia pun sulit menjelaskan, yang ia tahu hanya perlu bahagia dan tersenyum untuk sekarang ini.
"Kamu tunggu di sini sebentar," pinta Eza saat Yasmin telah duduk di bawah pohon kelapa.
"Eh, Langit. Kamu mau kemana?" Yasmin pun tersentak, pria itu meninggalkannya begitu saja, berlari ke arah deretan bangunan milik warga setempat.
"Tunggu saja! Aku akan segera kembali!" Teriak Eza melambaikan tangan tanpa melihat pada Yasmin.
Yasmin membiarkan, dia pun mengeluarkan lagi ponsel dan mengambil beberapa foto selfie. Semenjak sampai di Bali, Yasmin lebih sering melakukan hal itu. Padahal sebelumnya ia tak pernah tertarik untuk bergaya dan berfoto di depan kamera. Ternyata menyenangkan jika melihat hasilnya, Yasmin tersenyum sendiri.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, Eza kembali datang dengan setengah berlari padanya. Yasmin mengernyit dan meletakkan tangan dengan posisi telapak melindungi mata dari sengatan sinar matahari.
Eza mengulurkan tangan, hendak menggandengnya. "Senja, ayo ikut!"
"Kemana?"
"Ikut saja, aku menyiapkan sesuatu."
Yasmin pun menjadi penasaran, apa yang telah Eza persiapan. Tangan Eza diraihnya. Kemudian pria itu menarik Yasmin hingga berdiri tegak. Mereka kembali bergandengan ke tempat yang Eza maksud.
Tak jauh di depan penginapan warga setempat. Telah terpasang dua buah kursi pantai yang berukuran panjang, serta payung di sampingnya. Di tengah ada meja kecil, diatasnya ada dua gelas es kelapa muda, serta beberapa cemilan. Sangat cocok untuk bersantai menikmati indahnya hamparan laut di depan sana.
"Ini pertama kalinya kamu ke Bali, Senja?"
"Emm, tidak. Dulu pernah sekali, beberapa tahun yang lalu."
"Oya? Dengan siapa?" Eza penasaran.
"Suamiku," jawabnya singkat.
Eza menoleh pada Yasmin. "Kamu sudah menikah? Lalu kenapa kamu berlibur sendiri? Dan … maaf, aku tak bermaksud mengganggu pernikahanmu." Pria itu terdengar sedikit kaget.
__ADS_1
"Hahaha, tidak … kamu tidak usah minta maaf, Langit. Pernikahanku sudah berakhir." Yasmin merasa lucu dengan pengakuan Eza.
"Jadi begitu? Aku pikir telah menjadi orang ketiga diantara kalian," ucapnya merasa lega.
Pria itu takut telah lancang menggandeng tangan istri orang. Bahkan parahnya telah berani menciumnya.
"Orang ketiga? Memangnya kita ada hubungan apa, Langit?"
"Kau kekasih semingguku, Senja!"
"Hahaha, kamu benar. Aku lupa akan hal itu."
Yasmin meledakkan tawanya, dan pria di sampingnya tersenyum melihat tawa Yasmin yang lepas. Kemudian Yasmin diam, ia meraih es kelapa muda dan meneguknya sekali.
"Tawamu sangat indah? Apa kamu merasa sangat bahagia?"
"Emm, mungkin. Aku merasa bahagia setelah lepas dari beban berat," jelas Yasmin seraya meletakkan gelasnya.
"Bolehkah aku tau apa itu? Apa beban pekerjaan atau hal lainnya?"
"Pernikahanku."
__ADS_1
Eza semakin penasaran dengan sosok wanita itu. "Jika tidak keberatan …."
...***...