Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Memulai hari tanpamu


__ADS_3

...***...


Siang berganti malam, hari pun kembali berganti. Sinar matahari menembus jendela kaca kamarnya. Eza membuka matanya setelah semalaman tidur cukup lelap. Lelaki itu masih tergolek di atas ranjang dengan selimut yang masih melilit di tubuhnya. Eza beringsut dan mulai menormalkan kesadarannya yang masih setengah mimpi.


Dia mendengus kesal seketika saat sadar dirinya sudah berada di rumahnya. Tak seperti hari kemarin, saat terakhir kali membuka mata dia mendapati pemandangan yang begitu indah.


Eza menghembuskan napas panjang. “Aku akan memulai hari tanpa kamu, Senja. Aku harap, harimu juga akan bahagia dimanapun kamu berada.”


Ya, hanya Yasmin yang sekarang ada di pikirannya. Kini dia harus menjalani hari-harinya dengan normal tanpa adanya wanita pujaan di sisinya, tak ada lagi liburan, jalan-jalan, tak ada lagi kebersamaan dengan orang terkasih.


Jarum jam dinding di kamarnya mengarah pada angka tujuh pagi. Memaksanya agar segera bangun. Dia pun beranjak dari tempat tidur dan menjalani ritual mandinya.


Beberapa menit kemudian, Eza menuruni tangga berniat untuk sarapan. Kedua orang tuanya sudah berada di meja makan. Eza lalu menyambut mereka, mencoba mengulas senyum. “Selamat pagi, Ma, Pa.”


"Pagi juga, Za." Sambut Erna dan Adhitama bersamaan.

__ADS_1


“Makanlah, Za. Mau nasi goreng atau roti?” tanya Erna sebagai bentuk perhatian. Dia sudah melupakan perdebatan memalam, mungkin dirinya akan membahasnya lagi nanti.


“Eza mau makan roti aja, Ma.” Eza meraih roti dan selai kacang yang berada di keranjang tengah meja.


Saat semuanya tengah menikmati sarapan masing-masing. Tak ada pembicaraan apa pun, mereka pagi itu cukup terlihat tenang. Walau pikiran sedang berkecamuk, ingin mengatakan niat yang ada di hati. Terlihat dari raut wajah Erna yang sudah mulai tak sabar.


Setelan menyelesaikannya, Erna pun membuka suaranya. Benar saja, apa yang telah dipikirkan Eza, terjadi. Apapun permasalahannya, jika berurusan dengan sang mama, tidak akan mudah selesai. Perdebatan ada berlanjut di hari berikutnya.


“Za,” panggil Erna seraya menopang dagunya di kedua tangan yang berdiri di atas meja.


“Kamu pasti tahu apa yang akan Mama bicarakan.”


“Dan Mama pun juga pasti tau, jawaban Eza tanpa sebelum Mama berbicara.” Eza menjawab dengan nada santai.


"Eza! Semua yang mama lakukan itu demi kamu! Masa depanmu. Kamu harusnya—"

__ADS_1


Adhitama memotong ucapan istrinya. “Ma, sudahlah, biarkan Eza menjalani hidupnya sesuai yang dia mau, dia pasti bisa mengatur waktunya. Dia sudah dewasa, kita tidak perlu menekan terlalu banyak hal untuk masa depannya.”


Pernikahan yang telah bertahun-tahun, membuat pria itu sangat mengenal sang istri. Dulu wanita itu sangat penyabar, dan pengertian. Namun, setelah Eza ingin mengikuti jejaknya, Erna jadi lebih suka mengatur.


Erna mendelik pada sang suami. “Maksud Papa apa? Papa mau Eza mengikuti jejak Papa itu? Belajar dari pengalaman dong, Pa. Masa iya kamu nggak mau yang terbaik buat anak?”


Adhitama memejamkan matanya. Sebagian kecil dari hatinya terasa sakit. Bagaimanapun juga ucapan sang istri telah menyinggung perasaannya. Ingin rasanya dia membalas, tetapi urusannya akan semakin panjang. Istrinya tidak akan berhenti mengomel begitu saja.


Eza menyadari raut wajah papanya berubah. “Ma, yang terbaik buat Mama, belum tentu baik untuk Eza.” Eza lalu beranjak dari kursinya. Namun, satu seruan membuatnya terpaku.


“Eza! Kalau kamu keras kepala tidak mau meninggalkan hobi kamu dan fokus sama kuliah, jangan tinggal di rumah ini. Hiduplah di luar sesuka yang kamu mau, dan ingat, Mama akan cabut semua fasilitas kamu termasuk kartu kredit dan mobil. Paham!”


Eza menghela napas kasar. Dia tak menyangka, keputusan yang diambil, akan terus berlanjut hingga seperti ini. Tanpa ragu Eza menunjukan keras hatinya.


"Baiklah, jika itu mau mama."

__ADS_1


...***...


__ADS_2