
...***...
Keesokan paginya. Hari ke empat.
Eza terkejut melihat Yasmin membuka pintu masih dengan muka bantal. "Kamu belum siap?"
Yasmin bangun kesiangan pagi ini, padahal dia sudah menyalakan alarm lebih pagi agar bisa bersiap karena hari ini mereka berencana akan mengunjungi suatu tempat.
"Maaf, Langit. Aku baru bangun. Efek pijatan kemarin masih sangat berkesan, tidurku jadi nyenyak." Yasmin menguap dari balik pintu, matanya sesekali masih terpejam dan mengerjap berusaha membukanya lebar-lebar.
Melihat hal itu, Eza tersenyum. “Sangat menggemaskan,” batin Eza.
"Kamu menertawakanku?" tanya Yasmin kemudian saat menyadari Eza yang tersenyum tipis ketika memperhatikannya.
Eza menggeleng. "Aahh, nggak."
Yasmin lalu membuka pintunya sedikit lebar dan mempersilakan Eza masuk untuk menunggunya.
"Masuklah, aku akan bersiap dengan cepat!"
Tanpa berpikir panjang, Eza langsung masuk begitu saja atas perintah Yasmin. Awalnya pria itu sempat ragu. Baru kali ini dia dipersilakan masuk ke dalam kamar wanita. Apalagi, itu adalah kamar Yasmin—seseorang yang sudah berhasil membuatnya jatuh cinta.
__ADS_1
Eza kemudian duduk di sofa yang berada di dekat jendela kamar, sedangkan Yasmin memulai ritual mandinya tanpa luluran karena harus mengejar waktu. Saat ia duduk seorang diri, suasana di dalam Yasmin sangat berbeda dari kamar tempatnya. Hawa dingin suhu ruang begitu sejuk, bahkan melebihi dirinya ketika menyetel AC.
Mata Eza mengitari sekitar sudut kamar itu, di berpikir kamar yang disewa Yasmin adalah suite room—kamar yang harganya cukup tinggi. Hanya ada satu ranjang besar. Sofa panjang serta televisi berukuran besar pula terpasang di dinding. Melihat semua itu, Eza dapat menyimpulkan, wanita itu cukup mempunyai banyak uang untuk menyewa kamar itu.
Seraya menunggu Yasmin mandi, Eza duduk bersantai di sofa sambil menonton televisi. Tak ada acara yang menarik, lalu ia mematikan TV itu lagi. Kemudian, pandangannya terpaku pada sebuah benda yang tergeletak di atas meja, tepat di bawah TV.
Eza Yakin itu adalah sebuah dompet. Punya Yasmin tentunya. Rasa penasarannya semakin besar, Eza lalu berdiri dan mengambil dompet milik wanita itu. Diam-diam ia ingin melihat identitas Yasmin yang sebenarnya.
Entah kenapa, Eza malah melanggar perjanjian mereka. Ketika dompet itu sudah ada di tangan Eza dan mulai membukanya, tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan suara wanita yang keluar dari kamar mandi.
"Apa yang kamu lakukan!" teriak Yasmin. Dengan langkah tergesa-gesa, dia menghampiri Eza dan merebut dompet yang ada di tangan Eza.
“Aku nggak nyangka, ya. Ternyata mengingkari ucapanmu sendiri. Aku kecewa sama kamu!” Yasmin terlihat sangat marah. Wanita itu selalu memegang ucapan Eza.
Eza mundur selangkah, ia menyesali perbuatannya. “Senja, maaf karena aku sudah lancang."
"Apa yang kamu lihat?" Yasmin menajamkan matanya.
"Nggak liat apa-apa, Senja." Melihat raut wajah Yasmin yang berubah, Eza pun takut.
"Keluar dari sini!" Tubuh pria itu didorong hingga pintu.
__ADS_1
"Hukum aku, tampar aku semaumu agar kamu puas dan mau memaafkanku." Eza memohon, tapi Yasmin terus mendorongnya keluar. "Senja? Jalan-jalan kita?"
"Aku udah nggak mood." Pintu akan ia tutup, tapi Eza menahannya dengan cepat.
"Senja, aku janji nggak akan ulangi lagi. Maafkan aku!" Hanya wajah wanita itu yang terlihat dari celah pintu.
"Aku selalu memegang ucapanmu. 'Apalah arti sebuah nama. Ini hanyalah pertemuan antara dua orang asing saat berlibur bukan?' Kamu lupa?"
Eza pun terdiam. Kata-kata Yasmin sangat menusuk. Namun, dia yang memulai semuanya. "Ucapan bodoh, perjanjian bodoh!" Eza menggerutu, marah pada diri sendiri.
Pria itu pun terpaksa kembali ke kamar. Rencananya batal, tak ada yang akan ia lakukan hari ini. Tapi, ketika masuk ke kamar, Eza justru dikejutkan dengan kehadiran seseorang.
"Tania? Kenapa kamu disini?"
...***...
...Beri like dan komen ya......
...Nantikan bab-bab selanjutnya...
...❤️🥰❤️...
__ADS_1