
...***...
Sore hari di Jakarta. Hilman baru saja pulang dari kerjanya. Saat membuka pintu rumah yang tak begitu besar, dia disambut oleh dua orang wanita yang tengah duduk mengayunkan kaki di sofa sambil memainkan ponselnya masing-masing. Astrid dengan tiba-tiba memanggil Hilman dan menggelengkan kepalanya merasa heran.
“Mas, mau sampai kapan kamu mau bekerja sebagai sopir pengantar barang di perusahaan Yasmin? Udah tau gaji nggak seberapa malah lanjut terus,” gerutu Astrid yang tak rela jika Hilman bekerja sebagai sopir.
Astrid menginginkan posisi Hilman seperti awal di perusahaan Yasmin dengan gaji yang besar, mengingat dirinya juga sangat bergantung pada kakak lelaki satu-satunya itu.
Hilman hanya melirik malas dan tidak menanggapi ucapan Astrid. Wanita itu kemudian melanjutkan kata-katanya yang berhasil memancing amarah Hilman.
“Mas Hilman! Kalau kamu kerja jadi sopir terus, bagaimana nanti aku bisa ke salon, bagaimana nanti aku bisa shopping? Padahal aku udah ketinggalan beberapa merk tas keluaran terbaru, malu Mas kalau pergi sama temen-temen pakai tas lama.”
“Astrid, bisa diam nggak!” bentak Hilman. Dia menghentikan langkahnya yang hendak melangkah ke kamarnya.
Sejak Hilman bercerai dengan Yasmin, kehidupannya tak seperti dulu lagi. Biasanya dia mengeluarkan uang puluhan juta setiap bulannya hanya untuk memenuhi kebutuhan ibu dan adiknya. Namun, sekarang terlihat memprihatinkan saat dirinya harus menggunakan uang tabungannya untuk biaya hidup sehari-hari.
“Kalau kamu seperti ini terus, aku akan membuangmu ke laut, Astrid! Kalau mau kaya raya instan, kenapa nggak sekalian aja cari om-om buat kamu pacarin, sekalian kalau perlu jadi simpanan.” Hilman yang merasa geram pun langsung mengeluarkan kata-kata yang sedikit kasar terhadap adiknya itu.
“Tapi, Mas. Hidup kita akan begini terus kalau kamu hanya ....”
“Astrid, sudah-sudah!” Yati pun meneriaki anak perempuannya tersebut untuk menyuruhnya berhenti berbicara.
“Hilman, Mama mau tanya. Duduk sini!” perintah Yati seraya menepuk sofa di sebelahnya. Hilman pun menurut.
“Apa benar kamu mau rujuk sama Yasmin? Mama sangat mendukung jika itu memang sudah menjadi keputusan kamu, ya ... mengingat hidup kita yang semakin susah sejak kamu bercerai dengan Yasmin.” Yati menerawang ke awang-awang, meratapi nasib keluarganya yang kekurangan.
__ADS_1
Padahal jika dipikir-pikir, mereka bukanlah orang yang kekurangan—masih bisa makan dan tinggal di tempat yang layak. Bagi mereka, hidup tanpa menghamburkan uang ke mall dan ke salon membuat mereka seperti hidup miskin. Apalagi Astrid yang selalu menghabiskan waktunya bersama teman-teman sosialitanya. Kini, tak lagi dia lakukan karena merasa malu jika tidak memakai tas keluaran terbaru, juga hobinya yang selalu mentraktir temannya. Bisa-bisa dia akan benar-benar dianggap miskin, itu menjadi hal yang paling memalukan untuknya.
“Ma, mana mungkin Yasmin mau rujuk sama Hilman. Dia bahkan sudah mempunyai pengganti.” Hilman menelan rasa putus asa dan penyesalannya. Begitu pahit nasib yang dialaminya kali ini. Dulu ia membuang berlian hanya untuk butiran kerikil. Kini seakan ingin memiliki berlian yang sudah dibuangnya.
“Lalu, kamu menyebar berita pada wartawan soal Yasmin hamil dan rujuk, itu apa?”
“Itu hanya pancingan, Ma. Agar Yasmin datang ke Jakarta untuk menemuiku. Tapi, sampai saat ini dia belum juga terlihat. Padahal, kalau dia ke sini, akan lebih mudah mengancamnya dan menuruti permintaanku, padahal aku hanya menginginkan pekerjaan, kenapa dia malah merendahkanku. Aku tidak terima, Ma!"
Yati mulai terdiam begitu mendengar penjelasan Hilman. Dia juga ada sedikit merasakan penyesalan karena sudah mengenalkan Hilman pada wanita lain pada saat itu. Kalau saja dia tidak melakukannya, mungkin sampai sekarang Hilman tidak akan bercerai dengan Yasmin.
***
Sementara itu, di sebuah pusat perbelanjaan, Santi baru saja pulang dari bekerja dan berniat mampir untuk membeli beberapa barang yang habis. Saat matanya fokus memilih barang, dia tak sengaja menjatuhkannya. Tiba-tiba saja ada tangan yang terulur mengambil baju tersebut. Santi yang semula berjongkok segera menegakkan kembali tubuhnya dan memperhatikan seseorang yang sudah mengambilnya.
“Hai, rupanya kamu masih mengenaliku.” Fabian terkekeh saat Santi menegurnya.
“Tentu saja aku masih ingat, Bian. Gimana kabarmu?” Santi mengulas senyumnya pada Fabian.
“Kamu udah selesai belanjanya? Kita ngobrol-ngobrol, yuk!” ajak Fabian.
“Boleh.”
Pertemuan antara Santi dan Fabian kini berujung di sebuah restoran, mereka mengobrol banyak setelah lama tidak berjumpa. Fabian adalah anak lelaki Gito yang juga teman masa kecil Yasmin. Ayah Yasmin yang bersahabat lama dengan Gito, tentu saja sering mengajak mereka untuk bermain bersama pada saat kecil. Juga pada saat sekolah SMA, Santi, Yasmin dan Fabian adalah teman baik. Namun, hubungan pertemanan mereka tidak baik-baik saja, saat Santi mengetahui Fabian menyukai Yasmin.
Dia ingat saat mereka lulus dari sekolah menengah. Fabian ingin menyatakan cintanya pada Yasmin sebelum melanjutkan kuliah di luar negeri. Namun, niatnya itu sempat dicegah Santi karena Yasmin pernah bilang secara langsung jika dia tidak mungkin pacaran dengan Fabian. Tapi Fabian tetap menyatakannya. Alhasil, Yasmin menolaknya saat berada di bandara. Yasmin hanya menganggap Fabian sebagai sahabat, tak lebih dari itu.
__ADS_1
Kekecewaan itu memang pernah ada. Fabian sempat menghilang tanpa kabar. Tapi Santi maupun Yasmin masih ingin menjaga persahabatan mereka. Dua tahun setelah itu, Fabian kembali dan persahabatan mereka kembali seperti semula. Pria itu hanya bisa menelan rasa pahit kerena Yasmin telah mencintai pria lain.
Keduanya kini tengah berbincang seru di restoran. Terakhir kali mereka bertemu saat pernikahan Yasmin dan Hilman. Setelah itu, Fabian fokus mengurus bisnis di luar negeri. Hingga lupa untuk memikirkan kehidupan pribadinya.
“O iya, San. Gimana kabar Yasmin?”
“Aku sudah bisa nebak, kamu pasti akan menanyakan dia.” Santi sedikit tersenyum kecut. “Yasmin, kabarnya sangat baik. Bahkan, sebentar lagi dia mau nikah.”
“Apa dia mau rujuk sama Hilman? Aku sempat baca beritanya di sosial media.”
Santi tau, Fabian masih memiliki perasaan pada Yasmin. Terlihat dari sorot matanya yang kecewa untuk kesekian kalinya.
“Nggaklah, mana mungkin dia mau jatuh ke lubang yang sama. Jadi istrinya Hilman aja sepertinya sudah menjadi mimpi buruk buat dia."
"Hem, kasihan Yasmin. Andai dulu dia sama aku, mungkin dia akan menjadi wanita yang paling bahagia.” Fabian menyandarkan tubuhnya di sofa, membayangkan mimpinya yang tidak akan pernah terwujud itu.
“Jangan harap kamu bisa miliki Yasmin, Bian. Buang jauh-jauh anganmu. Jatuh sakit!” Santi tertawa mengejek. "Kenapa kamu nggak sama aku aja, aku juga janda, Bian." Santi mengerlingkan mata.
Pria itu malah meledakan tawanya. Rasa humoris Santi selalu berhasil membuatnya terbahak. “Eh, bentar. Kamu tadi bilang, dia mau nikah? Nikah sama siapa?” Fabian kembali menegakkan tubuhnya dan tampak serius.
“Tentu saja sama orang yang menjadikannya ratu, siapa lagi kalau bukan kekasihnya yang sangat ia cintai.” Lagi-lagi Santi tertawa, dia sedikit merasa kasihan pada Fabian yang sudah dua kali hilang kesempatan untuk mendapatkan Yasmin.
Fabian yang mendengar penuturan Santi pun merasakan sesak di dada. Bagaimanapun, rasa untuk Yasmin akan tetap ada sampai kapanpun.
...***...
__ADS_1