Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Tanggung jawab


__ADS_3

...***...


Eza masih tidak menyangka dengan apa yang diucapkan oleh Yasmin beberapa detik yang lalu. Tak terbesit sama sekali dalam pikiran Eza bahwa Yasmin akan mengatakan tengah mengandung anaknya.


“Senja, maaf. Bukan maksudku untuk menyakiti hatimu, tapi aku benar-benar masih bingung dan tidak menyangka dengan apa yang kamu katakan, kamu tidak sedang mengerjaiku, kan?”


“Sudahlah, percuma juga aku berkata jujur jika sedikitpun kamu tidak pernah memercayaiku. Terima kasih." Yasmin lalu membuka pintu mobil, berniat untuk keluar dan meninggalkan Eza. Namun, dengan cepat tangan Yasmin diraihnya.


“Senja, please, jangan turun. Aku minta maaf. Aku akan antar pulang sekarang, masuklah, kita bicarakan.”


Yasmin pun duduk kembali sambil mengusap air matanya, sungguh sangat menyakitkan jika seseorang yang sudah menghamilinya tidak mengakui janin tersebut dan malah menuduh anak itu adalah anak dari lelaki lain.


“Apa ini semua benar? Aku sudah menghamili Senja? Sangat sulit dipercaya, padahal hanya sekali aku melakukannya saat di Bali dan tadi yang kedua. Tapi, itu memang tidak menutup kemungkinan bahwa janin itu adalah anakku. Apa yang harus aku lakukan? Ya Tuhan, ampuni aku. Aku benar-benar bingung sekarang.” Eza terus bermonolog dalam hatinya.


Kedua insan yang berada di mobil itu sama sekali tak mengatakan apapun lagi, keduanya hanya bingung dan canggung apa yang harus dibahas. Ditambah lagi, ini sebuah kabar mengejutkan bagi Eza. Seorang mahasiswa yang baru ingin memulai kariernya, dipaksa harus menerima kenyataan bahwa dia menghamili seorang wanita, meskipun wanita itu sangat dia cintai, tetapi dia belum siap untuk semua itu.


Yasmin pun berpikir dalam diamnya, dia begitu yakin, Eza tidak akan terima dengan pengakuannya. Lelaki itu sudah pasti tidak akan bertanggung jawab dan besar kemungkinan, Eza akan menjauhinya setelah ini.


Beberapa menit kemudian, mobil Eza telah sampai di depan rumah Yasmin. Suasana sudah sepi, tak terlalu khawatir lagi jika ada yang lihat. Dia menurunkan Yasmin, tetapi sebelum itu, Eza menggenggam erat tangan wanitanya.


“Senja, maafkan aku jika sudah menyakitimu, maaf jika aku sudah membuatmu menderita selama ini. Jaga diri baik-baik, dan jagalah kesehatan, jangan lupakan makan. Selamat beristirahat.” Eza mencium kening Yasmin penuh cinta, kemudian mencium kedua punggung tangan wanita itu sebelum Yasmin turun dari mobil.

__ADS_1


Tanpa kata, Yasmin hanya mengangguk mendengar pesan-pesan Eza. Air mata ditahannya agar tidak terjatuh lagi. Kalimat Eza barusan mampu mencabik hati Yasmin, Eza seolah akan pergi dan menjauhinya. Akan tetapi, Yasmin terima itu, dia bahkan rela jika Eza memang benar-benar pergi dari hidupnya. Kesalahan ini bukanlah semata-mata dilimpahkan ke Eza, dia juga menyadari bahwa dirinya juga ikut andil dalam sebab musabab semua ini.


Yasmin pun keluar tanpa kata dan tanpa menatap mata Eza. Dia menutup pintu itu lalu berjalan tanpa berpamitan pada kekasihnya itu.


___


Bagi seorang Eza yang baru melewati masa-masa remajanya. Menghadapi masalah yang seperti ini tentu akan sangat sulit. Dia baru berumur 21 tahun, sekarang tiba-tiba didatangkan dengan kenyataan yang berat. Dia laki-laki, tentu saja harus bertanggung jawab. Tetapi, bagaimana dia akan memulainya? Sedangkan dia belum menyelesaikan pendidikannya. Sekarang ini siap atau tidak, Eza harus menjadi kepala keluarga.


Pikirannya sungguh sangat kacau. Dia sungguh tak ingin menyakiti wanita yang sangat dicintai. Eza memang telah merencanakan masa depan dengan Yasmin. Setelah mendapat gelar dokter dia akan menikahi Yasmin. Pada saat itu tabungan dari hasil melukis mungkin sudah cukup untuk mengadakan pernikahan sederhana. Setelah itu, perlahan dia akan membangun karirnya. Dengan begitu, Eza tak terlalu khawatir jika orang tuanya menolak menerima pernikahannya nanti.


Namun, kini semua seakan terjadi sebelum rencananya dimulai. Orang tuanya pun mungkin akan menolak mentah-mentah pernikahan jika dilakukan sekarang. Tapi bagaimanapun ini harus dia hadapi. Hal pertama tentu saja harus minta persetujuan dari papa dan mamanya. Mengakui kesalahan yang telah diperbuat. Meskipun pada akhirnya, mereka akan menentang keinginannya.


“Eza, kapan Lo pulang?” Galang yang taebangun, manyadarkan Eza dari lamunan.


“Mau ke kamar mandi." Dilihat dari raut wajah Eza, Galang tau dia tidak baik-baik saja. "Kenapa muka Lo kusut, Za? Ada masalah?”


Eza baru mengenal Galang beberapa hari. Walau dia tak mempermasalahkan lagi tentang keberadaanya pria itu klinik Yasmin. Namun, dia masih belum bisa bercerita. Mereka belum terlalu dekat. “Iya, masalah serius. Tapi gue nggak berharap Lo mau tau.”


“Lo mungkin masih merasa waspada ke gue, Za. Tapi jangan khawatir, gue nggak akan ganggu hubungan Lo sama Mbak Yasmin."


Mendengar itu, Eza sedikit kaget. "Lo tau dari mana gue dan Yasmin …?"

__ADS_1


"Nggak perlu ada yang ngasih tau, gue udah bisa nebak sendiri. Kalau sekarang Lo ada masalah dengan Yasmin, Lo bisa cerita, itupun kalau Lo mau." Galang pun pergi melakukan hajatnya ke kamar mandi. Sementara Eza terdiam.


Jika Galang sudah berkata seperti itu. Tidak ada alasan lagi buat Eza berpikir sendiri. Hubungannya dengan Yasmin telah terungkap. Mempunyai teman bercerita mungkin akan ada solusi. Sekembalinya Galang dari kamar mandi, Eza menceritakan semua masalahnya.


Galang sedikit kaget mendengarnya. Tentang pertemuan Eza dan Yasmin. Jarak usia mereka, hingga kehamilan yang tak terduga. "Kalian beda empat belas tahun? Wahh, gue salut sama Lo, Za. Bisa dapetin hati wanita seperti Yasmin. Tapi gue nggak nyangka, umur Mbak Yasmin … gue pikir masih tiga tahun di atas gue."


Eza tau, dia merasa beruntung bisa mengenal wanita seperti Yasmin. "Gue juga kaget awalnya. Tapi gue udah benar-benar cinta dia."


Galang bisa melihat itu dari mata Eza, cintanya pada Yasmin tak terlihat main-main. "Soal kehamilannya, Lo harus tanggung jawab," ucap Galang tegas.


"Tentu aja gue harus tanggung jawab. Cuma gue bingung, harus mulai darimana?" Wajahnya diusap kasar.


Satu helaan napas panjang terdengar, Galang menggelengkan kepalanya. "Lo bawa Yasmin nemuin kedua orang tua, Lo. Akuin kesalahan, minta persetujuan mereka." Hanya ada satu solusi itu saja.


"Gue memang akan melakukanya. Tapi mungkin gue mau hadapi orang tua gue sendiri dulu, watak mama gue terlalu keras. Gue takut Yasmin kenapa-kenapa."


Akhirnya Galang bisa paham, kenapa Eza sangat sulit memikirkannya. "Trus, Lo mau gue bantu apa?"


"Mungkin beberapa hari ini gue nggak bisa ke klinik atau ke kampus. Gue minta tolong, pantau Yasmin sementara."


"Kalau itu gue bisa bantu, Lo jangan khawatir." Galang teringat akan sesuatu. "BTW … gue jauh lebih tua dari Lo. Seharusnya Lo panggil gue abang, kakak atau mas. Tapi berhubung gue bukan orang Jawa, panggil gue abang aja. Kalau nggak, gue nggak bantu."

__ADS_1


Eza mendengus mendengarnya. Tapi dia pun mengiyakan. Panggilannya pada Galang memang kurang sopan.


...***...


__ADS_2