
...***...
Perasaan yang tadi mulai tenang, kini terasa kembali berdebar setelah mendengar perkataan Erna. Wanita itu menduga, sang calon mertua sudah tidak menyukainya. Yasmin pikir itu wajar untuk seorang ibu yang tiba-tiba mengetahui akan menikahi wanita yang jauh dari umur anaknya. Bagaimana dia akan menjawab pertanyaan itu? Bukan itu. Bagaimana cara dia akan menjawab? Panggilan apa yang harus digunakan?
“Baru tujuh minggu, Tan … te.” Yasmin merasa ragu dengan panggilan itu.
Wanita arogan yang sedang melipat tangannya di dada itu, mengernyitkan dahinya. Terasa aneh terdengar saat wanita di hadapannya memanggil dengan sebutan 'tante.' Erna merasa lebih pantas menjadi kakak jika di ingat jarak umur mereka. Erna menghela napasnya. Bersikap tenang, itulah yang dia butuhkan sekarang. Dia tak ingin Eza kembali memberontak dan meninggalkan dirinya. Menerima wanita pilihan Eza adalah jalan satu-satunya.
"Sebelum kita membahas soal pernikahan. Saya mau tau dulu asal usul kamu?"
Tangan Yasmin di genggamnya dengan cepat. Membuat Yasmin menoleh padanya. Eza memberi isyarat, biar dia yang menjawab. "Ma, Eza udah kasih tau sebelumnya. Yasmin berasal dari Jakarta, dia cuma dokter biasa dan dosen di sini."
Erna tiba-tiba mendelik pada sang putra. "Mama nggak nanya kamu, Eza. Biar wanita itu yang jawab sendiri!"
"Ma … pelankan suaranya. Kamu bisa buat Yasmin terkejut." Adhitama mengingatkan istrinya. Dia masuk dalam percakapan. "Yasmin, om dan Tante mau tau tentang keluarga kamu. Sebab Eza belum cerita semuanya. Pernikahan ini juga harus dilaksanakan oleh kedua belah pihak." Pria itu melirik sekilas putranya, lalu melihat pada Yasmin yang tanpa ekspresi.
"Yas—"
"Biarkan dia yang menjawabnya." Erna langsung memotong ketika Eza ingin menjawab pertanyaan Adhitama.
Eza berbisik pada Yasmin. "Senja, jangan takut. Jawab saja apa adanya."
Mendengar itu, Yasmin pun membatin. "Aku nggak takut, Langit. Hiss aku mau jawab kamu malah duluan. Haahh …."
Erna seperti tidak sabar menunggu jawaban dari Yasmin. "Kamu sudah tau, kan, syarat dari saya. Jadi mau bagaimanapun, saya tidak akan membantu keuangan kalian."
__ADS_1
"Saya mengerti, Tante. La … Eza juga sudah menjelaskan. Dia sudah mau bertanggung jawab, saya sangat bersyukur.”
Yasmin hanya tau tentang orang tua Eza yang tidak ikut mempersiapkan pernikahan. Maka dia pun menyanggupi, tak ada masalah baginya mengenai biaya pernikahan. Walau eza tak menyinggung sebelumnya, dia sudah paham dengan sendirinya. Namun, perkataan Erna selanjutnya membuat Yasmin berpikir.
"Baguslah, jadi kamu tidak akan mengambil kesempatan dari apa yang kami punya." Erna mengambil sesuatu dari bawah meja. "Saya tidak akan percaya kalau hanya dari ucapan saja. Tanda tangani kesepakatan ini."
Sebuah map bening diletakkan ke meja. Adhitama dan Eza terkejut ketika Erna menyebut soal kesepakatan, dan tanda tangan.
"Apa itu, Ma?" tanya Eza, lalu mengambil map tersebut. Terdapat selembar kertas yang bertuliskan perjanjian di atasnya. "Perjanjian apa ini?"
Lebaran kertas dia baca. Eza tak menyangka, mamanya akan memikirkan cara ini untuk menyulitkan dirinya. Syarat Itu sudah diterima, tapi apa harus dengan perjanjian seperti ini? Dan tanda tangan diatas materai?
Map di tangan Eza tiba-tiba berpindah tangan pada Yasmin. Wanita itu mengambil dan membacanya. Sedangkan Erna dan Adhitama berbisik di sisi lainnya.
“Perjanjian apa, Ma? Kapan kamu menyiapkan semua ini?”
Hanya gelengan kepala yang dapat Adhitama berikan. Belum apa-apa, Erna sudah mencurigai Yasmin. Wanita yang telah dia nikahi lebih dari 25 tahun, lebih mementingkan nama besarnya.
Setelah membaca poin demi poin pada perjanjian itu. Yasmin terlihat sedikit terkejut. Poin pertama hingga poin ke ketiga dia masih bisa mengerti. Tidak ada bantuan biaya pernikahan, kehadiran keluarga Eza, serta Eza bertanggung jawab penuh apapun yang akan terjadi setelah pernikahan. Namun, poin terakhir yang dia baca, sungguh membuatnya sedikit merasa bersalah. Kuliah Eza tak lagi dibiayai, serta semua fasilitas dicabut. Artinya, Eza akan benar-benar kesulitan setelah menikahinya.
Yasmin merasa sanggup untuk mengambil alih soal biaya pendidikan Eza. Namun, hatinya merasa bersalah karena dirinyalah Eza harus diasingkan dari keluarga. Hal seperti ini akan sangat sulit bagia Eza yang belum mempunyai pekerjaan tetap.
Yasmin tertunduk dengan raut wajah yang telah berubah. Eza memperhatikan itu. “Senja, kamu kenapa?” tanyanya berbisik. Dia tau Yasmin pasti memikirkan poin yang terakhir.
“Langit, maaf. Kamu akan mengalami hal seperti ini setelah bertemu denganku.”
__ADS_1
“Senja, apa yang kamu katakan. Bertemu denganmu adalah kebahagiaan terbesarku. Jangan pikirkan tentang perjanjian itu. Kita pasti akan melewatinya bersama. Aku tak akan membiarkan kamu hidup menderita.” Eza menggenggam tangan kekasihnya dengan erat.
Mendengar kesungguhan Eza pada dirinya. Yasmin merasa yakin apa yang dia pikirkan selama di perjalanan tadi. Sebelumnya dia memang memutuskan untuk merahasiakan jati dirinya kepada semua orang. Bahkan Eza belum dia beri tahu sama sekali. Tetapi kini, apa salahnya menunjukan yang sebenarnya pada Eza dan kedua orang tua pria itu. Dengan begitu, mama Eza tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi walau dia sudah menandatangani kesepakatan.
“Kenapa kamu diam? Kamu tidak terima dengan isi perjanjian itu?”
Perlahan Yasmin mengangkat kepalanya. Tatapan matanya terlihat tenang. “Saya akan tanda tangan, Tante.” Yasmin mengeluarkan kertas itu dari dalam map, lalu meletakkan di meja.
“Senja, kamu nggak usah tanda tangan. Perjanjian itu benar-benar nggak perlu.” Eza merasa konyol dengan cara mamanya yang menggunakan cara seperti ini.
“Nggak apa-apa, Langit. Mama kamu mau seperti ini, kita harus mengikutinya,” ucap Yasmin santai.
Wanita itu tersenyum sambil mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya. Kotak itu berisi pulpen yang hanya digunakan untuk menandatangani berkas penting. Yasmin selalu membawanya karena sewaktu diperlukan. Dalam prinsip kerjanya, harus menggunakan pulpen khusus untuk menghargai sebuah perjanjian.
Kertas itu langsung dia tandatangani tanpa ragu. Erna justru terkejut dengan apa yang dilakukan Yasmin. Lebih tepatnya dia terkejut setelah melihat benda yang Yasmin gunakan. Dia melirik pada kotak tersebut. Sebagai wanita karir yang biasa berhubungan dengan orang penting. Sedikit banyak dia mengerti dengan barang-barang yang berharga tinggi. Dilihat dari merk pulpen itu, jelas saja dia tau harganya. Buatan luar negeri dan jika dirupiahkan lebih dari dua juta rupiah.
“Siapa wanita ini sebenarnya. Dia punya benda semahal itu, tentu dia bukan wanita biasa,” guman Erna dalam hati.
Suasana tampak hening saat Yasmin menggoreskan penanya dengan hati-hati. Erna dengan wajah penuh tanda tanyanya Adhitama dengan ekspresi yang tidak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan Eza hanya diam menerima pernyataan Yasmin.
“Ini, Tante saya sudah tanda tangan.” Yasmin menyerahkan kertas itu setelah dia simpan kembali ke dalam map. Lalu memasukkan kembali barangnya ke dalam tas.
Namun, saat Yasmin akan menyimpannya, Erna menghentikan. “Benda itu asli?” Pertanyaan itu membuat Eza dan Adhitama mengerutkan kening.
Dengan tenang Yasmin memperlihatkan benda miliknya pada Erna. “Tentu saja aslin, Tante. Silakan periksa sendiri.”
__ADS_1
Erna merasa harga dirinya turun jika melakukan hal itu. “Tidak perlu. Katakan, siapa kamu sebenarnya?”
***