
... ***...
Setelah melakukan fitting baju pengantin untuk yang terakhir kalinya. Eza dan Yasmin kembali ke klinik. Yasmin memang belum memindahkan semua barangnya, dia masih meninggalkan keperluan untuk tiga hari kedepan. Yasmin juga akan berangkat dari klinik menuju KUA di hari akad nikah.
"Kamu capek, Sayang?" tanya Yasmin sebelum turun dari mobil. "Istirahat di dalam dulu ya?" Hari sudah mau menjelang magrib, klinik biasa tutup jam lima dan buka lagi jam tujuh.
"Iya, Sayang, hari ini kita udah keliling, tapi aku seneng, udah nggak sabar jadi suami kamu." Eza membelai pipi Yasmin lembut.
Wanita itu tersenyum sangat manis. "Aku juga, yuk turun."
Sebelum Eza turun dari mobil. Yasmin memastikan dulu tidak ada orang di sekitar mereka. Semenjak kabar rujuknya tersebar di kampung ini, orang-orang semakin aktif mencari tau, siapa suami Yasmin. Mereka jadi semakin berhati-hati. Eza bahkan harus memakai hoodie dan topi untuk menutupi wajahnya.
Di dalam rumah, mereka disambut oleh Galang dan Suci yang sedang mengobrol di ruang tengah. Tak lama, Suci pun pamit untuk pulang sebentar melihat anak-anaknya.
"Gimana rumah barunya, Mbak, Za?" tanya Galang pada Yasmin dan Eza.
"Udah beres semua kok, tinggal bawa sisanya aja setelah akad," jawab Yasmin.
"Tapi aku liat barangnya Mbak masih banyak di atas, nggak di bawa, Mbak?" tanya Galang kemudian.
"Nggak lah, nanti kan kamu tinggal disini. Kalau Mbak bawa semua, kamu mau tidur di lantai?"
"Hehe, iya juga sih." Balas menyengir.
"Tapi, Senja. Tempat tidur kamu mending di bawa aja." Eza ikut berkomentar.
"Kenapa, Langit. Di sana kan nggak di pakai. Kita juga udah ada yang baru, kan?" tanya Yasmin heran.
"Aku nggak rela bekas tidur kamu dipakai tidur sama orang lain. Pindahin ke kamar kosong di rumah baru." Cerocos Eza dengan wajah masam.
Ucapan Eza membuat Galang terkekeh. "Yeee, segitunya lo?"
Yasmin mengernyitkan keningnya. Sikap posesif Eza semakin menjadi. Hal seperti itu bisa terpikirkan olehnya. Sementara Eza hanya acuh tak berkomentar dengan proter dari Galang.
"Aku siapin makan malam dulu, ya." Yasmin hendak beranjak dari duduknya. Tapi tangan Eza menahannya.
__ADS_1
"Senja, nggak usah masak, kita pesen aja. Kamu juga capek kan, seharian ini." Yasmin terlalu banyak bergerak akhir-akhir ini. Dia khawatir calon istrinya itu akan sakit, dan bahaya untuk anak mereka.
"Bener, Mbak. Sebaiknya Mbak Yasmin istirahat aja." Galang menambahkan.
"Ya, udah. Kalau begitu aku ke atas dulu. Langit, kamu yang pesen ya. Kalau makanan sudah datang, panggil aku aja," ucap Yasmin.
"Oke."
Eza pun mengeluarkan ponselnya. Memesan makanan untuk mereka bertiga. Yasmin meninggalkan Eza dan Galang. Naik ke kamar dan membersihkan dirinya.
Pukul tujuh, mereka selesai makan malam. Klinik kembali dibuka seperti biasa. Eza menunggu di lantai atas hingga jam tutup klinik. Dia membaringkan tubuhnya yang terasa lelah. Sebenarnya pikiran Eza sedang kacau dari tadi, dia berusaha menyembunyikan dari Yasmin. Dia tak dapat beristirahat dengan tenang.
Pintu kamar dibuka dari luar. Yasmin muncul dari balik pintu dan langsung menghampiri Eza. Dia dikirimi pesan dan segera ke lantai dua jika tidak ada pasien untuk ditangani.
"Ada apa, Langit? Kamu kelihatan kusut gitu." Yasmin duduk di pinggiran ranjang. Melihat raut wajah Eza yang tidak baik-baik saja.
Eza menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya kasar. "Senja, aku udah nggak bisa kerja di kafe. Aku harus cari kerjaan lain."
"Loh, kenapa?" tanya Yasmin kaget.
Yasmin mengulas senyumnya, lalu menggenggam tangan kekasihnya itu. "Nggak masalah, Langit."
"Tapi, aku belum tau sampai kapan aku akan mendapatkan pekerjaan yang baru. Aku berharap tabunganku akan cukup untuk biaya hidup kita."
"Kamu jangan khawatir soal biaya hidup, aku bisa menanggungnya."
Eza mendekat pada Yasmin. Merangkul pinggang wanita itu dan bergelayut manja. "Tapi, Senja. Masa kamu sebagai istri yang harus membiayai hidup kita. Ntar aku dikira brondong yang numpang hidup sama kamu."
Yasmin tergelak dibuatnya. "Memang benar, kan?" tanyanya menggoda.
Eza mendengus. "Aku nggak mau dianggap sebagai suami yang nggak bertanggung jawab."
Yasmin mendorong tubuh Eza dan membuat mereka berhadapan. "Langit, dengar. Kamu sudah sangat bertanggung jawab, menikahiku dan membiayai pernikahan. Aku yang merasa bersalah karena harus membebankan kamu yang masih kuliah. Kita akan hidup bersama dan akan menanggung semua bersama. Yang penting sekarang kamu selesaikan dulu kuliah, kerja. Setelah itu tanggung jawab akan kembali sama kamu. Kedepannya aku juga punya banyak rencana buat masa depan kita."
Eza merasa sangat beruntung, Yasmin yang sangat pengertian. "Oya, rencana apa?"
__ADS_1
"Aku sudah bilang kan, Pak Gito cuma bisa menjalankan perusahaan selama dua tahun. Aku harus menggantikan pak Gito sebagai CEO."
"Woow, istri aku keren," ucap Eza dengan kekagumannya.
Yasmin menggeleng kepala. "Hanya sementara, aku akan serahkan tanggung jawab itu padamu."
"Aku? Kamu yakin?"
"Iya, aku tau kamu pasti bisa. Kamu pintar dan mampu mempelajarinya."
Eza beranggapan Yasmin sangat berharap banyak padanya. Sebenarnya dia juga tidak tau harus bagaimana selanjutnya. Mengambil jurusan kedokteran juga bukan keinginannya. Jika akhirnya dia harus banting setir menjadi pengusaha, Eza tak keberadaan. Demi Yasmin dan keluarganya kecilnya kelak. Asalkan dia masih bisa bebas mengekspresikan dirinya melalui hobi melukis.
Bisa dibilang, tujuan hidup Eza yang semula tidak tentu arah. Diubah seutuhnya untuk Yasmin. Dia akan melakukan apa saja agar bisa membahagiakan Yasmin.
"Langit, besok aku mau ke rumah sakit, melakukan pemeriksaan. Kamu ikut ya?"
"Oke, kebetulan besok jadwal kuliahku sampai siang aja."
Mereka mengulas senyum bersama. Sejak pertama melakukan pemeriksaan, Yasmin belum pernah mengajak Eza sama sekali. Terakhir kali dia mengatakan soal kekhawatiran dirinya tentang penyakit ibunya. Eza memintakan untuk tidak cemas. Bukankah dokter sudah mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
Eza kembali mendekat, dia memeluk tubuh Yasmin dengan erat. "Aku kangen, Senja. Boleh itu nggak?"
"Itu apa?" tanya Yasmin pura-pura tidak tahu.
"Itu kamu, masa nggak paham?"
"Nggak, nggak boleh. Tunggu tiga hari lagi. Tunggu sah." Yasmin mendorong tubuh Eza menjauh. Pria itu langsung cemberut.
"Sayang …." Renggek Eza pada Yasmin.
"Langit, di bawah masih ada Galang loh. Aku udah nggak ada pasien, kamu sebaiknya pulang aja deh. Istirahat di kosan."
Yasmin pun beranjak pergi. Berlama-lama dengan Eza akan membuatnya gerah. Siapa juga yang bisa tahan, jika di minta hal seperti itu. Yasmin tak akan memberikan selama mereka belum sah menjadi suami istri. Dua kali khilaf saja sudah cukup.
...***...
__ADS_1