
...***...
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di bengkel yang dimaksud. Yasmin pun turun dengan hati-hati. Eza tak tinggal diam, dia menggenggam tangan Yasmin untuk berpegangan agar tidak terjatuh. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Yasmin berjalan menghampiri motornya yang tengah digarap oleh montir.
Eza mengerutkan keningnya saat melihat Yasmin mendekat ke arah motor tersebut, dia teringat akan sesuatu. "Senjaku, itu motor kamu?"
"Iya, memang kenapa?" Yasmin mendelik, dia lalu mencubit lengan Eza. "Ini di tempat umum, jaga bicara kamu jangan panggil seenaknya," bisik Yasmin pada anak itu.
"Auuuuu, iya ... iya." Eza mengelus bagian tubuh yang sakit karena cubitan Yasmin.
"Kamu yang tadi pagi berhenti di pinggir jalan dengan motor ini?" Eza sedikit berbisik pada Yasmin. Mereka telah duduk di sebuah kursi panjang menunggu sang montir yang belum selesai melakukan pekerjaannya.
"Dari mana kamu tahu?" Yasmin menoleh sesaat.
"Berarti, kamu yang sempat melambaikan tangan padaku tadi? Sayang sekali, tadi aku tidak berhenti, ternyata itu kamu." Eza menggelengkan kepala, menyesali tindakannya.
"Oh, baguslah. Untung kamu tidak jadi berhenti. Bisa-bisa panjang urusannya," tutur Yasmin dengan raut wajah datar.
"Kok bagus, aku kan bisa menolongmu? Sayangnya, tadi jam kelas sudah mepet, jadi aku buru-buru."
__ADS_1
"Lebih baik aku jalan kaki daripada ditolong sama kamu." Yasmin berdecak lalu tersenyum kecil, dia melirik sekilas wajah Eza.
Tak dapat dipungkiri, wajah itu selalu dirindukannya. Perlakuan Eza beberapa bulan lalu, sangat membekas di pikiran dan hatinya.
Eza pun menyadari lirikan Yasmin, dia berdehem dan tersenyum. Lalu berbisik, "Sepertinya, kamu mencuri-curi pandang, pandanglah aku sepuasmu, Senja."
Yasmin lalu menarik napas panjang dan membulatkan matanya pada Eza. "Diamlah!"
Kemudian, seorang lelaki paruh baya menghampiri mereka dan menyampaikan sesuatu. "Maaf, Bu, sepertinya motornya belum bisa selesai sekarang, karena ada beberapa bagian yang harus diganti dan spare part-nya kosong. Mungkin besok atau lusa baru sampai."
"Oh, begitu ya, Pak. Baiklah, tidak masalah. Besok saya akan ke sini lagi. Atau, kalau tidak, Bapak bisa menghubungi nomor saya jika sudah selesai pengerjaannya ... ini Pak." Yasmin menyerahkan kartu namanya pada bapak itu.
Eza tersenyum penuh kemenangan, dia layaknya mendapatkan juara satu saat mendengar ucapan sang pemilik bengkel, jika motor Yasmin belum bisa selesai sekarang. Itu artinya, Eza berkesempatan untuk mengantar Yasmin pulang ke rumah.
Ketika sampai di gang masuk kawasan rumah Yasmin. Tepatnya Yasmin mengarahkan Eza berbelok ke gang yang jarang warga lalu lalang, tempat itu masih lumayan jauh dari rumahnya. Eza terpaksa menghentikan motornya, Yasmin memaksa untuk turun di sana saja. Mungkin karena sudah hampir magrib, gang kecil itu menjadi sepi.
"Kamu yakin, nggak mau aku antar sampai depan rumah?" tanya Eza setelah Yasmin turun dari motornya.
"Nggak, cukup sampai sini aja," jawabnya tanpa melihat ke arah Eza dan merapikan pakaiannya.
__ADS_1
"Aku mau tau rumah kamu dimana."
Pernyataan Eza itu membuat Yasmin menoleh. "Kamu mau aku digosipin warga, karena bawa laki-laki datang di jam segini? Sedangkan mereka tau statusku apa."
Ya, tentu saja Eza ingat akan status Yasmin. Walau dia tak peduli dengan status yang sebagian orang menganggap itu adalah salah. Namun, mengingat bagaimana masyarakat selalu memandang rendah status janda seorang wanita, Eza pun memikirkan hal itu.
"Hanya mengantar sampai depan rumah juga nggak boleh?" tanya Eza mencoba menawar.
Yasmin membuang napas sejenak. "Aku nggak mau ambil resiko. Aku masih baru dia kampung sini, aku nggak mau di usir warga sini."
Akhirnya Eza mengalah. "Baiklah … kamu boleh pergi. Tetap waspada saat kamu berjalan sendirian. Sampai jumpa besok, Senja."
Yasmin mulai melangkahkan kaki, tanpa membalas ucapan pria yang baru saja mengantarnya. Bahkan hanya sebuah ucapan terima kasih. Hal itu memang disengaja, agar ada kesan buruk setelah pertemuan ini. Setelah beberapa langkah, Yasmin berbalik.
"Aku mengingatkan. Jangan sampai ada yang tau soal hubungan kita di Bali. Bersikap selayaknya dosen dan mahasiswa di kampus. Jangan pernah memanggilku Senja lagi, ingat untuk menjaga sikap kamu," ucap Yasmin datar mengingatkan.
Tatapan Eza terlihat dingin setelah mendengar hal itu. Belum juga dia mulai, sudah diberi peringatan seperti ini.
"Tapi tidak di luar kampus. Aku akan berbuat semauku." Balasnya dengan nada menekan. Dia mengenakan helm yang dari tadi hanya letakkan di depannya.
__ADS_1
Yasmin terdiam begitu Eza pergi. Satu lagi helaan napas berat. Dia memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ini tak akan selesai begitu saja. Untuk kedepannya akan banyak lagi gangguan dari pria itu
...***...