Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Berpura-pura


__ADS_3

...***...


Kelas Pak Arga baru saja berakhir. Sebelum membubarkan para mahasiswa, Pak Arga ingin menyampaikan sebuah pengumuman, dan meminta agar semuanya menunggu sebentar.


"Perhatian semuanya!" 


Semua mahasiswa masih tenang menunggu pengumuman dari Pak Arga. Mereka sebenarnya sudah bisa menebak apa yang akan diumumkan.


"Hari ini akan ada dosen baru yang akan menggantikan saya. Seperti yang sudah kalian tau, sebenar lagi saya akan pensiun. Saya harap dengan kehadiran beliau, kalian bisa lebih semangat." Pak Arga berbicara dengan wibawanya.


Beberapa saat kemudian, Pak Arga kembali setelah meminta sang dosen penggantinya untuk masuk. Yasmin telah menunggu di luar ruangan kelas.


Yasmin berjalan di belakang Pak Arga, seraya tersenyum pada semua mahasiswa yang memandangnya. Semuanya tampak antusias, mereka berbisik satu sama lain. Sebagian mahasiswa bersorak gembira dengan kedatangan Yasmin. Sebuah kesenangan bagi mereka, karena dosen baru yang datang mempunyai paras yang sangat cantik. Dapat memukau semua mata yang memandang.


"Silahkan, Bu. Perkenalan terlebih dahulu." Pinta pak Arga kemudian.


"Selamat siang, semuanya." Sapa Yasmin dengan senyum terbaiknya. 


"Siang, Bu …!" jawab mahasiswa-mahasiswi secara serentak. 


"Perkenalkan, nama saya Yasmin Mahesa. Mulai sekarang, saya akan menggantikan kelas Pak Arga sementara hingga beliau pensiun."


Seorang mahasiswa yang sibuk dengan aktivitas menggambarnya, terdiam. Pensil dari tangannya terlepas begitu mendengar perkenalan sang dosen baru. Dia mengenal dengan jelas suara itu. Eza pun mengangkat kepalanya.

__ADS_1


Seorang wanita yang diyakini adalah dosen baru itu, berdiri di depan kelas. Wajah itu tampak asing. Tapi suara dosen itu mengingatkannya pada seseorang yang sangat dirindukan. 


“Senja …,” gumamnya pelan.


Eza masih belum begitu yakin dengan pendengarannya. Dia kemudian melihat dengan lebih seksama. Saat dosen wanita itu kembali tersenyum. 


"Senja!" teriak Eza membuat semua mata beralih memandangnya. termasuk Dion yang mengerutkan kening melihat padanya.


Deggg ….


Jantungnya serasa mau lepas, ketika nama itu disebut. Yasmin diam terpaku.


“Bagaimana mungkin, seseorang yang tau panggilan itu, berada dalam kelas ini sekarang? Hanya Langit yang memanggilku dengan sebutan ‘Senja’, tapi …?” tanyanya dalam hati.


Yasmin mencari asal suara itu. Saat tatapannya berpusat pada satu orang, dia tersentak. Sejenak dia memejamkan mata dan mencoba mengendalikan dirinya. Dia berharap Eza tidak akan mengenalinya, karena penampilannya saat ini sangat berbeda.


"Hahahaha …." Semua mahasiswa tertawa.


"Aahhh … tidak, Pak. Maaf, Pak, boleh saya tanya lagi nama Ibu di sebelah Bapak? Tadi tidak begitu kedengaran." Eza ingin memastikan lagi, hatinya mulai tidak tenang.


"Bu Yasmin …." Panggil Pak Arga pelan. Tidak ada reaksi, wanita itu termenung.


"Bu … Bu Yasmin!" Panggilnya lagi dengan suara lebih keras.

__ADS_1


Yasmin tersentak. "Aahh, i–iya Pak, ada apa?"


"Seorang mahasiswa ingin ibu memperkenalkan diri lagi." Tunjuk Pak Arga ke arah belakang. 


Yasmin mengikuti arah telunjuk itu, “Langit?” Gumamnya dalam hati. Tatapan mata mereka bertemu. Rasanya dia ingin menghilang saja dari sana. Melihat pria yang dia kenali, Yasmin pun sulit mengendalikan diri.


"Bagaimana, Bu Yasmin?"


"Baiklah, Pak." Yasmin sedikit membungkuk.


“Perkenalan, nama saya Yasmin Mahesa, kalian bisa memanggil saya ‘Bu Yasmin’, ada yang mau ditanyakan lagi?” Yasmin mengalihkan pandangannya dari mata Eza yang terus menatapnya. Tatapan sama, seperti saat terakhir kali mereka bertemu.


“Bu Yasmin? Apa saya boleh tanya sesuatu?” Eza yang mulai mengulik informasi, dia harus menghilangkan rasa penasarannya.


“Oh, ya, silakan! Mau tanya apa?” Meskipun detak jantungnya saat ini sudah tak karuan, tapi dia harus tetap bersikap tenang.


“Apakah Bu Yasmin pernah ke Bali?”


Yasmin memberi senyuman. “Maaf, sepertinya saya hanya akan menjawab seputar perkenalan dan tentang pengalaman mengajar saya. Terima kasih," jawabnya ramah. "Masih ada yang mau ditanyakan?"


Eza terdiam, sekarang dia yakin dengan penglihatannya. Itu benar-benar Senjanya, wanita pertamanya. Dia pun tersenyum pahit. Dia tau wanita itu sengaja menghindari pertanyaannya, dia sedang berpura-pura tak saling mengenal.


"Masih ada lagi yang mau ditanyakan?" ucap pak Arga pada semua murid. Mereka semua diam. "Saya rasa cukup itu saja, besok Bu Yasmin akan mulai mengajar kelas saya.”

__ADS_1


"Baik, Pak …."


...***...


__ADS_2