Dicintai Brondong

Dicintai Brondong
Perpisahan


__ADS_3

...***...


Bagaikan tersambar petir, Eza tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


Eza menggenggam lengan wanita itu. "Haram? Bagaimana bisa kamu menyebutnya haram? Sedangkan, rasa itu hadir dengan sendirinya. Kalau disuruh memilih, aku juga tidak mau terjebak dengan cinta ini. Tapi, aku bisa apa?!" Emosi mulai menguasai dirinya.


Dengan sekali hempas, Yasmin melepas genggaman tangan Eza darinya. "Mudah! Menjauhlah dariku, sekarang! Tinggalkan aku sendiri, pergi!” usir Yasmin, tangannya menunjuk pintu.


"Kamu pikir semudah itu? Aku juga punya perasaan, Senja. Apa begitu mudahnya kamu membuang laki-laki yang sudah tidur denganmu?!"


Plakk!


Tamparan keras mendarat di pipi kiri Eza. Walaupun benar, itu sedikit melukai harga dirinya. Jika diibaratkan, dia tak ubahnya seperti wanita pemuas napsu semata.


“Jaga mulutmu! Aku tidak seperti apa yang kau pikirkan. Pergilah, pergi!” teriak Yasmin, suaranya menggema di seluruh ruangan itu. Matanya mulai memerah.


“Lalu, wanita seperti apa dirimu?”

__ADS_1


“Langit, aku bilang cukup, please, hentikan. Cukup sampai di sini. Aku tidak mau ada pembahasan apapun lagi denganmu. Pergilah!”


“Baiklah, jika itu yang kamu mau. Aku akan pergi, tapi ingat, sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa melupakanmu. Kamu wanita paling istimewa yang pernah hadir dalam hidupku, izinkanlah aku mengenangmu di sini.” Eza menunjuk dadanya, matanya sayu. Apa pun, dia memang tidak bisa memaksa Yasmin untuk menerima cintanya.


“Tolong, jangan seperti ini. Mengertilah! Aku tidak akan bisa menjalin hubungan denganmu, cukup sudah. Jangan biarkan semua ini berlanjut. Dan tidak ada lagi kata bersama.”


Yasmin menuju pintu dan membukanya. Dia menyuruh pria itu pergi, tanpa kata. Cukup, perdebatan ini tidak akan menghasilkan apapun. Dia menghindari tatapan mata pria itu. Yasmin harus mengeraskan hatinya saat ini, dia terpaksa harus kejam.


Eza mengalah, dia mendekati Yasmin dan memeluk wanita itu, untuk yang terakhir kalinya. Eza memeluknya sangat erat, cukup lama. Wanita itu membiarkan, dia diam mematung.


Sesuatu yang dia tahan sedari tadi, akhirnya tumpah juga. Yasmin menangis tanpa suara. Dia tak kuasa menahan kesedihan, perpisahan ini juga sangat menyakitkan baginya. Dan hal yang sama juga terjadi pada Eza.


Yasmin mendorong tubuh pria itu, tidak ingin terlalu lama lagi. Jika dia terus membiarkan, mungkin dia akan berubah pikiran. Dengan cepat dia berbalik membelakangi pria itu. Dia mengibaskan tangannya, menyuruh Eza segera pergi.


Dan Eza pun pergi tanpa kata-kata lagi. Sebuah perpisahan yang sangat menyakitkan, bagi keduanya.


"Senja." Eza membuat wanita itu berbalik dan melihatnya. Tetapi Yasmin hanya diam mematung, bersedekap melipat kedua tangannya.

__ADS_1


Eza mundur perlahan, memandangi punggung wanita yang baru saja mengusirnya. Hingga dia mencapai ambang pintu, dia terus membatin. "Senja sama sekali tidak mau melihatku. Berbaliklah, izinkan aku untuk melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya."


Pria itu akhirnya mengungkapkan kekecewaannya. “Kenapa kamu kejam sekali, Senja. Menolehlah sebentar, aku ingin melihat wajahmu sebelum aku pergi.”


Namun, hanya gelengan kepala Yasmin yang Eza lihat.


“Apakah untuk mengucapkan perpisahaan saja kamu tidak bisa?”


Yasmin masih menggeleng.


"Baiklah, aku akan pergi, selamat tinggal, Senjaku. Kisah cinta singkatku di Bali."


Eza membalikkan badan dan berlalu pergi. Setelah beberapa langkah kakinya, terdengar pintu ditutup sedikit keras. Eza terdiam, menekan dadanya yang kian terasa sesak. Pipinya juga telah basah, cairan hangat yang tidak pernah jatuh dari matanya, hari ini, bercucuran bebas.


Seorang pria yang tidak pernah menangis seumur hidupnya, selain tangisan sewaktu kecil. Hari ini menjadi sangat cengeng karena seorang wanita. Eza membiarkan, biarlah dia menjadi laki-laki lemah untuk hari ini.


"Selamat tinggal, Senja," lirihnya untuk yang terakhir kali.

__ADS_1


...***...


__ADS_2